Tiga UMKM Indonesia Laku Rp50 Juta di Macau dan Potensi Rp18 Miliar Menanti

jfid
By jfid
26 Min Read
- Advertisement -

jfid – Tiga pengusaha muda dari Indonesia baru saja membuktikan bahwa produk lokal bisa bersaing di kancah internasional. Pada pameran Guangdong & Macao Branded Products Fair 2026 yang digelar di Venetian Hotel, Macao, tanggal 6-9 Agustus lalu, mereka tidak hanya pamer produk, tapi juga mencatat transaksi langsung sebesar lebih dari MOP 23 ribu atau setara Rp50 juta kepada 186 pembeli ritel. Angka itu belum termasuk potensi kontrak wholesale yang mencapai MOP 8,25 juta atau sekitar Rp18,2 miliar dari 13 calon pembeli besar yang bergerak di distribusi, hospitality, dan makanan serta minuman.

Kisah sukses singkat itu bukan sekadar angka. Sanfood Brilian Indonesia dari Tangerang, Banten, misalnya, hadir dengan camilan sehat berbahan lokal. Osadha Nusantara menampilkan minuman herbal khas Nusantara, sementara Six Scents memperkenalkan produk perawatan alami. Ketiganya dipilih oleh BRI untuk mewakili generasi UMKM yang tidak lagi只看 domestik, tapi berambisi masuk ke pasar global. Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa langkah ini adalah wujud komitmen konkret bank untuk mengangkat kelas UMKM Indonesia, bukan hanya lewat pembiayaan, tapi juga pendampingan langsung ke ajang bisnis internasional.

Pameran Guangdong & Macao Branded Products Fair itself bukanlah acara kecil. Pada edisi ke-18 tahun ini, GMBPF berfokus pada produk kesehatan dan wellness, pangan sehat, kebutuhan harian ramah lansia, serta produk gaya hidup berkelanjutan. Lebih dari 90.000 pengunjung dan 459 peserta pameran dari berbagai negara hadir. Fokus tersebut tidak lepas dari tren global yang kini mendorong konsumen lebih memilih produk alami, sehat, dan berkelanjutan.untuk UMKM Indonesia, kesempatan itu sangat relevan karena banyak produk lokal yang sudah memenuhi standar tersebut, hanya belum punya akses ke pameran selevel itu.

Bagi Eka Risky Septiani sebagai pemilik Sanfood Brilian Indonesia, keikutsertaan di GMBPF 2026 bukan cuma tentang penjualan. “Kami juga membangun relasi dengan pelaku usaha bidang kemasan, percetakan, desain, periklanan, dan branding. Relasi itu bisa menjadi peluang kolaborasi ke depan, terutama untuk pengembangan produk dan kemasan Sanfood untuk pasar ekspor,” jelasnya. Di sini terlihat bahwa pendampingan yang diberikan BRI tidak berhenti sampai di pintu pameran, tapi juga menyentuh persiapan produk, pemahaman pasar, dan jaringan bisnis yang dibutuhkan untuk bertahan lama di arena global.

Perjalanan UMKM Indonesia menuju pasar internasional memang bukan tanpa hambatan. Standar sertifikasi, regulasi impor, dan persaingan dengan produk established adalah tantangan nyata. Namun, data dari Kemendag yang mencatat penjajakan bisnis UMKM mencapai Rp5 triliun menunjukkan bahwa potentialsangat besar. Kunci utamanya adalah kolaborasi antara pemerintah, bank, dan pelaku usaha. BRI, melalui kerja sama dengan Konsulat Jenderal RI Hong Kong dan Macau, menunjukkan model yang bisa ditiru: memadukan knowledge pasar global, akses ke distributor, dan pendampingan branding. Ketika UMKM punya data yang jelas tentang selera konsumen global dan jaringan yang handal, mereka tidak hanya survives, tapi bisa really thriv di pasar ekspor.

- Advertisement -
Share This Article