Global Islamic Holistic Education Summit 2026 Bentuk Generasi Berkarakter dan Berakhlak

jfid
By jfid
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Sebuah forum pendidikan internasional bernama Global Islamic Holistic Education Summit atau GIHES 2026 akan digelar pada September mendatang di Hotel Borobudur, Jakarta. Forum tingkat tinggi ini menyatukan para pemangku kepentingan pendidikan Islam, pimpinan lembaga, akademisi, hingga pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membedah masa depan pendidikan holistik di tengah tantangan zaman modern yang terus berubah.

Pertemuan akbar ini digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan satu abad berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor. Panitia mengundang ratusan tokoh pendidikan lintas negara mulai dari kiai pimpinan pondok pesantren, ketua lembaga pendidikan, hingga pemangku kebijakan se-Asia untuk berkumpul dalam satu ruang dialog strategis yang bertujuan menyusun formulasi pendidikan masa depan yang berkelanjutan.

Fokus utama pembahasan GIHES 2026 adalah menjawab fenomena kerapuhan mental yang semakin melanda generasi muda dunia. Pesatnya kemajuan teknologi informasi saat ini belum diimbangi dengan kesiapan karakter dan kepemimpinan yang tangguh. Kondisi ini melahirkan tantangan baru karena banyak generasi muda mengalami kesulitan berkolaborasi, tidak memiliki etos kerja yang kuat, serta lemah dalam aspek kepemimpinan.

Pendidikan holistik bukan sekadar konsep baru yang fashionable. Di tengah gempuran teknologi dan informasi yang terus bertumbuh, pendekatan yang hanya menekankan pada kecerdasan intelektual sudah dianggap tidak memadai lagi. Para peserta GIHES 2026 akan merumuskan formulasi pendidikan yang mampu menyiapkan generasi tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga memiliki ketangguhan mental, moralitas yang kokoh, serta kemampuan kepemimpinan yang handal di era digital.

Salah satu keunikan model pendidikan yang akan diangkat adalah sistem pesantren yang telah terbukti berhasil membina mental, moral, dan soft skill santri selama dua puluh empat jam penuh. Konteks pesantren menawarkan contoh nyata bagaimana lingkungan belajar yang terstruktur dapat menciptakan individu yang tidak hanya cerdas secara kognitif tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia.

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid yang juga menjabat Ketua Badan Wakaf Gontor menekankan bahwa pesantren tidak terpisahkan dari sejarah bangsa. Menurutnya, pendidikan holistik sejati harus mampu menjembatani antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai luhur yang dijiwai dalam kehidupan sehari-hari. Ketangguhan mental dan kekuatan karakter yang ditempa melalui sistem pesantren menjadi kunci untuk mencetak pemimpin masa depan yang mampu membawa kejayaan bagi umat dan bangsa.

Kebangkitan minat pada pendidikan karakter dan nilai bukan hanya tren di Indonesia. Berbagai negara di Asia dan Timur Tengah mulai mereformasi kurikulum mereka untuk menempatkan aspek akhlak dan karakter sejajar dengan pencapaian akademik. GIHES 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam diskusi global ini, mengingat pengalaman panjang negara ini dalam mengelola pendidikan berbasis karakter di lingkungan pesantren.

Bagi pendidik dan praktisi pendidikan, forum ini menawarkan ruang berbagi praktik terbaik dan strategi implementasi yang dapat diterapkan di tingkat sekolah, madrasah, atau perguruan tinggi. Peserta tidak hanya mendengarkan keynote speech dari para ahli, tetapi juga berpartisipasi dalam workshop interaktif, studi kasus, dan sesi networking yang dirancang untuk menghasilkan kerjasama internasional yang konkret dan berkelanjutan.

Program Skill Our Future yang juga dijalankan oleh Kemenko PMK dan UNDP menjadi bukti komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia muda melalui pendidikan vokasi dan pelatihan skill. Inisiatif ini selaras dengan tema GIHES 2026 yang menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya menghafal teori tetapi juga mengaplikasikan kompetensi di dunia kerja nyata.

Di era di mana otomatisasi dan kecerdasan buatan menggantikan banyak pekerjaan rutin, kemampuan untuk belajar hal baru dan beradaptasi menjadi aset paling berharga. Pendidikan holistik mengajarkan cara berpikir kritis, kreativitas, dan kecerdasan emosional yang menjadi differentiator utama di tengah persaingan kerja global yang semakin ketat.

Jika Anda ingin memantau perkembangan pendidikan holistik di Indonesia, GIHES 2026 adalah acara yang tidak boleh dilewatkan. Portal berita resmi Kementerian Pendidikan dan situs Pondok Modern Darussalam Gontor akan terus memperbarui informasi seputar rangkaian acara dan hasil diskusi. Mengikuti langkah-langkah ini akan membantu Anda memahami arah terbaru pendidikan karakter dan relevansinya dengan kebutuhan generasi masa depan.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga diharapkan dapat memanfaatkan hasil rekomendasi GIHES 2026 sebagai masukan dalam penyusunan kebijakan pendidikan nasional. Kolaborasi antara dunia pendidikan formal, pesantren, dan lembaga internasional menjadi kunci utama untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki integritas, empati, dan kepemimpinan yang tangguh di tengah perubahan zaman yang terus berjalan.

Partisipasi Indonesia dalam forum internasional seperti GIHES 2026 juga membuktikan bahwa negara ini memiliki kontribusi signifikan dalam diskusi global tentang pendidikan. Model pendidikan pesantren yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan keterampilan abad ke-21 menjadi contoh yang bisa diadopsi oleh banyak negara yang sedang berjuang membangun sistem pendidikan yang berkarakter namun tetap kompetitif globally.

- Advertisement -
Share This Article