Pertamina Turun Tangan Langsung Saat NTT Terpuruk Pascagempa M 7,7

Ningsih Arini
4 Min Read
- Advertisement -

jfid – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu 16 Agustus 2026, meninggalkan duka yang dalam dan merusak infrastruktur di beberapa kabupaten. Hingga Senin 17 Agustus 2026, data sementara mencatat 54 orang meninggal dunia, 115 orang mengalami luka berat, dan 168 orang luka ringan. Lebih dari 16.000 warga mengungsi di posko-posko darurat, menunggu bantuan yang terus mengalir dari berbagai belahan bangsa. Di tengah situasi yang memprihatinkan itu, PT Pertamina (Persero) hadir dengan respons cepat dan terpadu, memadukan penanganan energi dan bantuan kemanusiaan secara bersamaan. Kehadiran perusahaan migas nasional ini dinilai krusial mengingat Flores sangat bergantung pada pasokan BBM untuk transportasi, listrik, dan operasional fasilitas publik.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri turun langsung ke lokasi terdampak untuk menyalurkan bantuan sekaligus memimpin upacara Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di Fuel Terminal Reo, NTT, pada Senin pagi. Kehadiran Dirut itu bukan sekadar simbolis. Lokasi Fuel Terminal Reo merupakan salah satu titik operasional vital yang juga terdampak gempa. Dengan hadirnya Mantiri, Pertamina menegaskan bahwa kelancaran pasokan energi dan kepentingan warga menjadi prioritas utama. Di tengah suasana duka, perayaan kemerdekaan di lokasi bencana menjadi pesan kuat bahwa Pertamina tidak akan meninggalkan masyarakat NTT. Mantiri menegaskan bahwa tema HUT RI tahun ini, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur, harus diwujudkan konkret di lokasi bencana dengan hadirnya bantuan yang tepat sasaran.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menjelaskan bahwa Pertamina Group beroperasi pada dua front sekaligus. Front pertama, menjaga ketersediaan energi agar tidak mengganggu aktivitas tanggap darurat dan pemulihan. Front kedua, memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak berupa sembako, obat-obatan, tenda, dan sanitasi. Tim Pertamina terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, instansi pemerintah daerah, dan organisasi nonprofit untuk memastikan distribusi bantuan tidak terhambat. Koordinasi ini penting mengingat wilayah Flores dan sekitarnya memiliki kondisi geografis yang kompleks, dengan banyak jalan yang terputus akibat longsor pascagempa sehingga akses kendaraan besar menjadi sangat terbatas.

Di lapangan, sebagian besar SPBU di Flores sudah kembali beroperasi secara bertahap dengan sistem penjagaan ketat. Pemulihan itu tidak terlepas dari upaya keras tim operasional yang berjuang menyeimbangkan antara keamanan staf, keselamatan publik, dan kelancaran distribusi bahan bakar. Pertamina juga memastikan kebutuhan elpiji rumah tangga tetap terjangkau dan stoknya cukup untuk mendukung aktivitas sehari-hari warga yang masih bertahan di tenda. Di sisi lain, pasokan avtur di Bandara Labuan Bajo dan Bandara Maumere juga dijaga ketat. Kedua bandara itu menjadi titik krusial untuk mobilisasi bantuan logistik dan evakuasi korban. Dengan memastikan avtur tetap tersedia, Pertamina membantu menjaga jalur udara pembawa bantuan tetap terbuka dari gangguan yang lebih besar.

Pertamina Peduli menyalurkan berbagai bantuan kebutuhan dasar, termasuk tenda darurat, obat-obatan, sembako, kebersihan, dan sanitasi. Hingga hari kedua pascagempa, bantuan yang telah sampai meliputi solar untuk operasional alat berat yang dikerahkan membersihkan material longsor di ruas Trans-Flores Ende-Bajawa. Jalan nasional itu merupakan urat nadi transportasi Flores, dan pembukaan kembali jalur itu menjadi kunci percepatan distribusi bantuan ke wilayah-wilayah terpencil yang selama ini terisolasi. Di Nagekeo, laporan kelangkaan BBM juga langsung ditindaklanjuti oleh Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus untuk menambah pasokan dan mencegah kelangkaan kembali terjadi pada masa pemulihan.

Selain Pertamina, berbagai pihak juga bergerak cepat menyambut Hari Kemerdekaan dengan cara yang bermakna. Kementerian Kelautan dan Perikanan mengirimkan 50 ton bantuan bahan makanan dan obat-obatan menggunakan Kapal Pengawas PSDKP dari Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari menuju Labuan Bajo. Menteri Sakti Wahyu Trenggono menekankan bahwa kemerdekaan bangsa harus diwujudkan dengan hadir bersama saudara kita yang sedang kesulitan, bukan sekadar upacara bendera. Di sisi lain, TBS Foundation menyalurkan 200 Hygiene Kit senilai Rp 50 juta melalui Palang Merah Indonesia Pusat untuk masyarakat terdampak. Bantuan tersebut kemudian akan didistribusikan oleh PMI Kupang ke posko-posko pengungsian di Manggarai dan sekitarnya, mencakup kebutuhan kebersihan yang sering terabaikan saat tanggap darurat.

Sementara itu, situasi gempabumi masih belum sepenuhnya tenang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 995 gempa susulan sejak Sabtu pagi, dengan 46 di antaranya cukup dirasakan oleh masyarakat. Kondisi ini membuat sejumlah warga memilih untuk tetap tinggal di tenda pengungsian meskipun rumah mereka masih bisa ditinggali secara parsial. Rasa tidak aman itulah yang membuat respons bantuan semakin urgen dan perlu terus berkelanjutan dalam jangka panjang. Warga di Dusun Teber, Desa Beamese, Kecamatan Cibal, misalnya, masih bertahan di tenda darurat dengan tikar sebagai alas tidur, menunggu pemulihan yang dijanjikan pemerintah.

Pertamina berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat NTT hingga pemulihan benar-benar rampung. Bantuan akan terus disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga pendampingan pemulihan sarana energi dan penguatan ketahanan masyarakat pascabencana. Di Labuan Bajo, tim medis dan relawan terus mengevakuasi pasien dari rumah sakit yang terdampak, memastikan bahwa akses layanan kesehatan tetap berjalan meskipun situasi tidak normal. Semangat gotong royong yang muncul pascagempa ini menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia mampu bangkit bersama di saat-saat paling sulit, mengubah duka menjadi energi kolektif untuk membangun kembali.

- Advertisement -
Share This Article