jfid – Gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu 15 Agustus 2026. Lebih dari 68 orang meninggal dan 213 lainnya luka-luka. Tiga hari kemudian, ribuan keluarga masih bertahan di tenda terpal sementara gempa susulan terus mengguncang wilayah itu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 1.979 gempa susulan hingga Senin 17 Agustus 2026 pukul 23.00 WIB. Magnitudo terbesar mencapai 6,2 dan terkecil 1,3. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan aktivitas gempa susulan masih fluktuatif dan belum menunjukkan pola peluruhan yang jelas (Kompas, 18/08/2026). Estimasi stabilisasi baru tercapai dalam dua sampai tiga minggu ke depan.
PT Permodalan Nasional Madani atau PNM melangkah cepat di bidang yang sering terabaikan pascabencana: ekonomi ultra-mikro. Bagi PNM, bencana bukan sekadar soal bangunan roboh. Ketika warung berhenti berjualan, stok dagangan habis, dan akses ke pasar terputus, mata pencaharian keluarga kecil runtuh bersamaan dengan atap rumah mereka. Menurut Direktur Utama PNM Kindaris (17/08/2026), langkah pertama PNM bukan menghitung kerusakan fisik, tetapi mengidentifikasi siapa yang terdampak dan memastikan mereka aman.
Proses inventarisasi ini dilakukan melalui jaringan kantor PNM di Flores untuk memetakan kondisi karyawan, nasabah, dan usaha mereka. Di kabupaten Manggarai Timur, 24 jiwa meninggal. Di Manggarai, 26 jiwa. Nagekeo melaporkan delapan korban, Sikka empat korban, Ende dua korban, Manggarai Barat dua korban, dan Ngada dua korban. Total 213 orang mengalami luka-luka mulai ringan hingga berat, menurut Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan (17/08/2026).
Di Desa Natatoto, Kecamatan Wolowae, Nagekeo, sekitar 24 kepala keluarga mengungsi secara mandiri di bawah tenda terpal. Sejak hari pertama gempa, mereka sama sekali belum mendapat bantuan makanan, minuman, obat-obatan, atau tenda layak. Warga terpaksa minta-minta beras dan sayur kepada tetangga yang masih punya stok. Ketua RT 05 Frederikus Belo meminta bantuan sembako segera karena kondisi mereka sangat sulit (Detik, 17/08/2026).
Kementerian Kesehatan mengirim dua unit rumah sakit lapangan ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan Nagekeo. Banyak rumah sakit dan puskesmas yang terdampak dan tidak bisa beroperasi. Di Rutan Ruteng, lebih dari 50 persen bangunan mengalami kerusakan parah. Kepala Kanwil Ditjenpas NTT Decky Nurmansyah mengatakan 171 warga binaan akan direlokasi sementara ke Rutan Bajawa untuk menghindari ancaman gempa susulan. Relokasi tersebut memerlukan perhitungan matang karena khawatir Rutan Bajawa bisa over kapasitas (Kompas, 18/08/2026).
Kementerian Pertanian menyiapkan 5.386 ton beras senilai Rp 75,4 miliar untuk empat kabupaten terdampak. Bantuan ini difokuskan ke Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, dan Sikka. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa penanganan pangan dalam situasi bencana tidak boleh berhenti pada bantuan darurat, tetapi juga memastikan akses pangan berkelanjutan setelah masa tanggap darurat berakhir (Detik, 17/08/2026).
Di tengah ketidakpastian akibat gempa susulan, peran lembaga keuangan menjadi krusial untuk mencegah kerusakan ekonomi lebih luas. Tanpa akses modal kerja, warung-warung kecil tidak bisa restock barang. Tanpa penghasilan, keluarga tidak bisa membayar cicilan dan biaya sekolah. PNM memulai inventarisasi untuk memetakan kebutuhan sebenarnya, bukan hanya asumsi di atas meja.
Pertamina hadir dengan menyalurkan bantuan melalui Fuel Terminal Reo yang menjadi pusat operasional dan juga terdampak gempa. TBS Foundation mengirim 200 Hygiene Kit senilai Rp 50 juta melalui Palang Merah Indonesia Pusat. Presiden Iran juga mengirim pesan belasungkawa kepada Presiden Prabowo Subianto dan menawarkan bantuan. Pemerintah bertekad menangani dampak sendiri sebelum membuka pintu bantuan luar negeri.
Dua hingga tiga minggu ke depan akan menjadi masa penentuan. Gempa susulan diperkirakan baru stabil, tetapi ekonomi ultra-mikro tidak bisa menunggu. Setiap hari tanpa modal kerja adalah hari yang hilang bagi ribuan keluarga di Flores. Kecepatan inventarisasi dan penyaluran bantuan akan menentukan seberapa dalam luka ekonomi pascabencana ini.

