Panggung Jadi Kelas, Opera Merah Putih Ajak Pelajar Jelajahi Budaya Betawi

jfid
By jfid
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Gedung Pertunjukan Gelanggang Remaja Bulungan di Jakarta Selatan akan menjadi saksi bisu sebuah transformasi pendidikan pada 13 September 2026. Saat lampu panggung menyala, penonton tidak hanya akan disuguhi cerita fantastis, tetapi juga diajak merenungkan bagaimana seni dapat menjadi media pembelajaran yang kuat. Opera Merah Putih, karya teaterawan Arief Akbar Bsa yang diproduksi oleh Sanggar Kencana Buana, hadir dengan misi khusus: mempertemukan generasi muda dengan akar budaya Betawi melalui format pentas yang mengintegrasikan nilai-nilai moral dan sejarah. Pertunjukan ini juga menjadi contoh konkret bagaimana konsep Education Performance Concept dapat diimplementasikan di luar ruang kelas konvensional, menempatkan seni sebagai roda penggerak literasi budaya. Gedung yang selama ini dikenal sebagai ruang kreativitas para pemuda itu kini akan diisi oleh narasi kebudayaan yang mendalam dan penuh makna.

Setiap elemen dalam pertunjukan ini dirancang untuk menstimulasi kecerdasan emosional dan kognitif pelajar. Di tengah derasnya arusan informasi digital, panggung teater menawarkan momen melawan desakan untuk kembali merasakan, merenung, dan membangun empati. Naskah yang ditulis Arief Akbar Bsa mengangkat konflik universal tentang kekuasaan dan kemanusiaan, namun dilandasi dengan nuansa lokal yang khas. Melalui dialog dan aksi permainan, penonton diajak menavigasi dilema moral yang tidak hitam-putih, menimbulkan kesadaran bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Pendekatan ini sejalan dengan tuntutan pendidikan karakter yang saat ini menjadi prioritas di sekolah-sekolah di Indonesia, termasuk pembelajaran tentang Kearifan Lokal dalam kurikulum merdeka. Pentas di Bulungan pada September ini juga diharapkan menjadi pintu masuk bagi lebih banyak lembaga pendidikan untuk menggabungkan seni dalam proses pembelajaran.

EPC atau Education Performance Concept bukan sekadar jargon pendidikan seni. Ia adalah kerangka yang menempatkan proses menuju pertunjukan sebagai bagian tak terpisahkan dari pembelajaran. Seorang pelajar yang ikut dalam proses produksi akan belajar membaca teks naskah, menganalisis motif karakter, mengelola emosi, berkoordinasi dalam tim, serta mengekspresikan ide dalam bahasa nonverbal. Sutradara Iqbal Boyratan menekankan bahwa pertunjukan adalah hasil, tetapi prosesnya adalah sekolah. Di dalamnya, peserta didik dilatih untuk menjadi subjek yang kritis, bukan objek yang hanya menuruti instruksi. Keterampilan seperti keberanian berbicara di depan umum dan mempertanggungjawabkan gagasan artistik menjadi bekal berharga untuk kehidupan sehari-hari, sekaligus menumbuhkan rasa menghargai karya orang lain.

Alur cerita Opera Merah Putih berputar sekitar Raja Arzil, seorang penguasa yang memperoleh kekuatan luar biasa dari Kanisa, boneka tanah yang dihidupkan melalui Kitab Merah. Di satu sisi, kekuatan itu terasa sebagai anugerah; di sisi lain, ia berbalik menjadi sumber malapetaka ketika Arzil gagal mengendalikan hasrat dan ambisinya. Konflik berkembang ketika Raja Kastara bangkit sebagai lawanan yang berusaha menegakkan keseimbangan. Di tengah pusaran politik dan spiritualitas, tokoh-tokoh seperti Kaila, Mahardika, Mahasura, dan dua jenderal terbaik Kastara—Pusparani serta Sasmaya—menjadi korban dari pertarungan ideologi. Namun, titik balasan cerita datang dari Jelita, permaisuri yang berani meninggalkan posisi nyaman demi memilih kebenaran.

Secara dramaturgis, penokohan dalam pertunjukan ini mematuhi prinsip bahwa setiap karakter harus memiliki fungsi, tujuan, dan perubahan yang terbaca. Raja Arzil bukan sekadar antagonis; ia adalah cermin manusia yang merasa memiliki kekuasaan namun melupakan batas moralnya. Kanisa melambangkan ilmu atau teknologi yang diciptakan manusia, tetapi pada akhirnya mengkhianati penciptanya ketika keinginan untuk menguasai segalanya melumpuhkan pertimbangan etis. Sementara itu, simbol merah dan putih diperluas menjadi metafora kehidupan: merah adalah keberanian dan pengorbanan, putih adalah harapan dan perdamaian. Pertemuan kedua warna itu mengajarkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya hidup dalam satu nada, melainkan selalu berada di antara pilihan yang saling bertentangan.

Di kota yang dibentuk oleh perjumpaan berbagai kebudayaan, pemahaman tentang warisan Betawi menjadi kunci untuk menjaga identitas kolektif. Budaya lokal tidak cukup dilihat sebagai ornamen tari atau kostum yang hanya ditampilkan saat acara tertentu. Ia harus menjadi pengetahuan hidup yang memuat sejarah, etika sosial, cara berkomunikasi, dan pandangan tentang kebersamaan. Melalui panggung teater, pelajar Jakarta diajak untuk tidak hanya membedah teks, tetapi juga merasakan bagaimana nilai-nilai itu terukir dalam gerak tari, kostum, dan lirik lagu. Pendekatan sensorik dan kognitif ini membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan lebih mudah diingat dibanding metode hafalan semata. Guru dan orang tua juga dapat memanfaatkannya sebagai bahan diskusi setelah pertunjukan, memperkuat pemahaman siswa di dalam kelas.

Pertunjukan di Gedung Pertunjukan Gelanggang Remaja Bulungan ini juga membuka ruang dialog antara seniman, pendidik, dan orang tua. Ketika panggung gelap dan lampu mati, esensi pertunjukan baru benar-benar tersisa: pesan-pesan yang dibawa pulang penonton. Konflik antara kekuasaan dan moral, keberanian untuk memilih kebenaran, serta pentingnya menjaga identitas budaya menjadi inti refleksi yang ditawarkan Opera Merah Putih. Hadirlah pada 13 September 2026 untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Jangan hanya menonton, tetapi datang dengan niat untuk membaca, merasakan, dan menemukan kembali manusia di balik setiap panggung. Sebab ketika kebudayaan dipelajari melalui pengalaman, ia tidak lagi menjadi warisan masa lalu, melainkan kehidupan yang diteruskan. Informasi lebih lanjut dan pendaftaran kelompok sekolah dapat diakses melalui kanal resmi Sanggar Kencana Buana.

- Advertisement -
Share This Article