Berbuat Salah di Negeri Tabayyun

M. Rizwan
5 Min Read

jfID – Indonesia dari berbagai sumber disebutkan sebagai Negara Hukum, (rechtstaat) dan itu mutlak serta tak bisa diganggu gugat. Meskipun begitu, tatkala ada suatu perkara, implikasi hukum tersebut tidak serta merta diadakan.

Terbukti dengan sentilan “jangan main lapor saja!, tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan hukum,? Kalau ada masalah, mari ngopi bareng, minta dulu penjelasan, klarifikasi dan minta maaf, tabayun dulu lah!” dan kalimat lain.

Tabayun, klarifikasi dan minta maaf sangat spektakuler dan viral. Karena banjir pujian yang sekaligus bisa membawa bencana. Saking tabayyun nya, harga diri pun sontak di korbankan, sudah berapa banyak ulama’, kiyai serta para tokoh nasional yang menjadi korban tabayun?

Terbaru ini, oknum pembuat Tik Tok sedang sholat di Kabupaten Lombok Tengah dengan tanpa malu mengungkapkan rasa bersalahnya ke netizen dengan ungkapan minta maaf.

Ingat dengan kasus Pilpres 2019, bahkan Presiden pun selesai dengan istilah tabayun entah apa maksud dan tujuan si pemuja tabayun? Tidak sedikit juga yang menghujat bahwa si pelaku hanya mencari sensasi di media sosial.

Pun setelah dihujat oleh banyak pihak, akhirnya dia klarifikasi dan minta maaf. Kok, bisa semudah itu ya? Membunuh monyet dengan miras oplosan, mabuk dulu sebelum mati, sungguh tak ber prikehewanan.

Melihat fenomena seperti itu, kebanyakan dari kita akan berpendapat, memang tabayyun dan klarifikasi adalah tindakan sopan namun jangan sampai sopan melunturkan hukum yang semestinya ditegakkan dengan setegak-tegaknya.

Di jejaring sosial, kita terbiasa menemukan kasus yang melanggar aturan. Setelah viral dan mendapat berbagai komentar pedas dari netizen, pihak pengunggahpun akhirnya menindaklanjuti kasus tersebut biasanya dengan minta maaf, tabayyun atau klarifikasi. Dan itu yang menjadi masalah, pelanggaran hukum teratasi dengan klarifikasi dan minta maaf.

“tabayyun, klarifikasi, dan minta maaf…selesai perkara”

Pada dasarnya kita semua harus akui bahwa kita turut geli mendengar kata-kata klarifikasi. Sedikit-dikit klarifikasi, sedikit-dikit minta maaf. Apa kemudian semua masalah bisa selesai dengan klarifiksai dan minta maaf? Oh tentu saja, tidak!

Bayangkan saja ketika pacarmu ketahuan selingkuh dan kamu memergokinya dengan emosi sangat marah. Lalu dengan mudahnya dia minta maaf dan klarifikasi dengan kata-kata andalan “aku bisa jelasin semuanya”. Apakah kamu bisa menerima penjelasanya begitu saja? Padahal kesalahan itu terjadi dengan jelas di depan matamu.

Tentu, tanggapan orang pasti berbeda. Mungkin bisa dimaafkan, tapi luka di hati yang ditimbulkan oleh orang yang dipercaya tidak bisa dibohongi dan tak semudah itu dilupakan, atau dengan meminjam istilah Gus Dur, Maafkan sih ya, tapi lupakan tidak.

Tidak semua masalah bisa diselesaikan begitu saja dengan klarifikasi dan minta maaf. Sebab, negara kita katanya negara hukum. Walaupun tidak semua permasalahan bisa seenaknya dibawa ke ranah hukum.

Hukum yang berlaku di masyarakat kita saja masih tidak jelas bentuknya. Orang maling sandal 50 ribu, dipenjara 5 tahun. Sedangkan koruptor yang merugikan negara hingga bermilyar-milyar bahkan trilyunan rupiah bisa dipenjara hanya 10 tahun? Trus, letak keadilannya dimana?

Tidak perlu muluk-muluk membicarakan soal keadilan di negeri ini. Yang ada kita hanya akan bertemu kekecewaan jika berharap keadilan kepada orang-orang yang berada di kursi-kursi tinggi pemerintah.

Banyak kasus yang kemudian viral di media sosial selalu diakhiri dengan klarifikasi dan minta maaf. Dengan alasan, ‘manusia kan tempatnya salah’ atau ‘selesaikan baik-baik saja sudah jangan bertengkar’. Seperti nasehat seorang ibu kepada anaknya yang bertengkar dengan anak tetangga saja.

Kalau sudah alasan begitu sekalian saja koruptor disuruh klarifikasi dan minta maaf saja. KPK tidak perlu repot-repot kerja, Pemerintah juga sudah merevisi UU KPK yang katanya dibantu oleh DPR, Polisi tak perlu capek untuk melakukan penyelidikan, mengusut tuntas.

Anehnya lagi, di Negeri tabayyun agama pun di permainkan, bayangkan saja shalat saja dipakai untuk membuat video Tik Tok, lucu kan? Sialnya lagi, pelaku tak malu-malu mengucapkan tak ada niat untuk melecehkan agama, dan minta maaf kepada seluruh netizen, padahal sudah jelas pelecehan.

Konsekwensi, semua pasti ada baik dan buruknya, posisi Positif dan negatifnya. Sisi positifnya, secara tidak langsung kita memang diajarkan untuk bersifat pemaaf dan rendah hati. Namun, sisi negatifnya, orang bisa jadi dengan mudah melakukan kesalahan, jika hanya mengandalkan kata maaf dan klarifikasi. Padahal kan, itu juga tidak baik.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article