jfid – Foto misterius berbentuk ubur-ubur yang terekam kamera Curiosity di Mars membuat perbincangan dunia sejak 12 Agustus 2026. Gambar itu sebenarnya diambil dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 20 Agustus 2023 di Kawah Gale, namun baru viral setelah diunggah kembali oleh pengguna X bernama Kari Sivertzen. Dalam foto grayscale beresolusi rendah terlihat siluet gelap kecil berukuran sangat kecil di atas perbukitan berbatu, menyerupai tubuh bulat dengan dua kaki tipis menjuntai ke bawah.
Sosok itu muncul dan hilang dalam sekejap. Kamera navigasi kanan Curiosity memotret titik yang sama persis 13 detik dan 25 detik sebelumnya tanpa menangkap apapun. Bahkan 78 menit kemudian ketika kamera yang sama memotret ulang, ubur-ubur Mars sudah lenyap. Kecepatan kemunculan dan hilangnya objek tersebut membuktikan bahwa ini bukan bagian permanen dari lanskap Mars, melainkan kejadian sesaat yang terekam oleh peluang.
Teori pertama yang muncul adalah keberadaan alien atau extraterrestrial. Beberapa pengguna media sosial berargumen bahwa bentuk yang tidak wajar harus berasal dari kehidupan luar angkasa. Namun, fakta teknis segera menyingkirkan skenario itu. Helikopter Ingenuity milik NASA yang selama ini menjadi sorotan justru beroperasi di kawah lain yang jaraknya lebih dari 3.200 kilometer dari Kawah Gale. Kedua lokasi itu terlalu jauh untuk menghubungkan sosok itu dengan drone NASA.
Kemudian muncul teori lain yang lebih masuk akal. Beberapa pihak menduga bahwa ubur-ubur Mars hanyalah piksel mati pada kamera Curiosity. Piksel mati memang kerap menimbulkan bercak-bercak hitam pada foto digital, terutama pada perangkat yang sudah berusia bertahun-tahun di lingkungan radiasi ekstrem Mars. Tanpa perlindungan atmosfer, sensor kamera terus terpapar partikel berenergi tinggi yang bisa merusak sel-sel fotosensitif.
Namun, ilmuwan memiliki penjelasan yang lebih dalam dari sekadar kerusakan perangkat keras. Fenomena yang sebenarnya terjadi di balik viralitas foto itu adalah pareidolia. Kecenderungan alami otak manusia untuk mengenali pola familier seperti wajah atau hewan pada gambar atau pola acak bukan hanya sekadar ilusi belaka. Sistem visual kita berevolusi selama jutaan tahun untuk mendeteksi makhluk hidup, sehingga otak sering kali memproyeksikan objek yang dikenalnya ke dalam stimulus yang sebenarnya netral.
Pareidolia bukanlah kelainan mental. Justru, kemampuan ini menjadi bukti kecerdasan kognitif manusia. Penelitian di jurnal Psychological Science pada 2025 menunjukkan bahwa otak manusia memproses pola wajah dalam waktu 100 milidetik, lebih cepat dari identifikasi objek lain. Mekanisme ini membantu nenek moyang kita mengenali predator dari sudut pandang yang samar-samar, dan kini membuat kita melihat wajah di bulan atau makhluk air di planet merah.
Foto ubur-ubur Mars menjadi contoh klasik pareidolia kosmik. Begitu NASA mempublikasikan citra mentah dalam format grayscale beresolusi rendah, otak pengamat langsung mengisi ruang kosong dengan ekspektasi mereka. Media sosial mempercepat penyebaran teori konspirasi karena algoritma lebih memilih konten yang provokatif. Dalam hitungan jam, foto yang sebenarnya tidak lebih dari bercak digital sudah diubah menjadi mahakarya seni alien, mural, dan meme.
NASA sendiri secara rutin menangkap gambar aneh di Mars. Beberapa terlihat seperti tiang cahaya, patung manusia, atau lubang misterius. Semua itu hanyalah ilusi pareidolia yang dikuatkan oleh interpretasi manusia yang ingin mencari makna. Ilmuwan di Jet Propulsion Laboratory yang mengoperasikan Curiosity menekankan bahwa setiap anomali harus diverifikasi melalui data spektrometri dan konteks geologis sebelum dinyatakan sebagai bukti kehidupan.
Pelajaran dari ubur-ubur Mars ini meluas ke bidang lain. Di bidang kedokteran, pareidolia bisa membantu dokter mendeteksi tumor pada citra MRI karena otak mereka terlatih mengenali bentuk tidak normal. Di bidang keamanan, teknisi radar bisa mengidentifikasi pesawat musuh dari noise sinyal. Di kehidupan sehari-hari, kita melihat wajah di mobil atau burstian sendirian. Kemampuan ini adalah warisan evolusi yang tetap hidup di tengah masyarakat modern.
Melihat ubur-ubur di Mars bukanlah kesalahan, melainkan warisan evolusi yang membuat manusia bisa bertahan. Namun, di era digital, kecenderungan itu harus diimbangi dengan literasi sains. Setiap kali foto aneh dari planet lain viral, komunitas astronomi biasanya akan menjelaskan fenomena fisik yang melatarbelakangi, mulai dari pareidolia, efek kamera, hingga kilasan meteorit.
Curiosity akan terus menjelajah Kawah Gale dan mengirimkan ribuan foto setiap tahun. Banyak di antaranya akan menampilkan formasi batuan aneh, bayangan dramatis, atau silhouette kontras yang mirip benda lain. Itu semua adalah bukti bahwa Mars adalah planet yang fasih memainkan ilusi pada mata manusia. Planet yang dulu diduga memiliki sungai dan danau kini hanya menyisakan tanah merah yang memantulkan imajinasi kita.
Ubur-ubur Mars mungkin sudah lenyap dari foto Curiosity, tetapi ceritanya tetap hidup di kolom sains sebagai pengingat. Di antara jutaan pixel yang dikirimkan dari 225 juta kilometer jarak, yang membuat foto itu viral bukanlah objeknya, melainkan cara otak kita memprosesnya. Kadang, yang terlihat tidak sepenuhnya ada. Dan justru di situlah letak pesona penjelajahan luar angkasa.

