Waspada Politik Halo Halo

Rasyiqi By Rasyiqi - Writer, Digital Marketer
3 Min Read
Gambar Ilustrasi Halo Halo
Gambar Ilustrasi Halo Halo

Setiap perhelatan politik, dimanapun, selalu ada politik halo-halo. Dalam praktiknya, politik halo-halo seperti kabar duka yang tersiar dari speaker masjid. Kabar ini memunculkan dua kemungkinan. Pertama, kabar duka itu didengar dan kedua tidak sama sekali didengar.

Zaman sudah sangat berkembang. Sangat banyak praktik politik halo-halo beredar. Mulai dari tutur, media sosial dan media massa. Di media sosial, misalnya, cukup “tag” orang yang akan di halo-halo. Selain “tag”, beberapa kalimat pendek ditambahkan untuk memperkuat sugesti politik halo-halo. Contoh, sang calon bisa ini dan bisa itu. Layak ini dan itu. Kota ini sudah saatnya bla..bla..bla.. dan seterusnya.

Sementara, praktik politik halo-halo di media massa, misalnya, profil kontestan. Bisa ini bisa itu. Atau sebuah pernyataan, insyaAllah anu dan insyaAllah sudah waktunya ini dan seterusnya.

Pertanyaannya, seberapa penting politik halo-halo untuk kita? Sebab politik halo-halo bukan melulu fakta. Tapi disisipi keinginan. Misalnya, keinginan berkuasa. Politik halo-halo bukan melulu informasi. Tapi lebih kuat sebagai sugesti, yang kadang lepas dari kebenaran dan kesantunan.

Sampai sejauh ini, mungkin pembaca masih bingung dengan politik halo-halo. Sedikit saya jabarkan. Dalam perhelatan politik, selalu ada konsultan politik dan tim sukses. Merekalah yang menciptakan politik halo-halo. Baik lewat tutur, media sosial dan media massa. Dari politik halo-halo yang massif, diharapkan ada citra baik yang diterima massa.

Sekuat tenaga, lewat politik halo-halo, massa bisa tersugesti. Jika sugesti gagal, tim akan membuat politik halo-halo yang lain, agar akhirnya di percaya. Citra baik non cela. Dan satu hal lagi, rentang waktu politik halo-halo bervariasi. Bisa satu tahun, enam bulan dan sebagainya.

Kembali pada bahasan. Politik halo-halo, bisa dilakukan oleh siapapun. Kadang mereka adalah kelompok. Kadang juga perorangan. Kadang mereka sudah berafiliasi. Kadang mereka yang menjalankan politik halo-halo ingin “diakuisisi” oleh salah satu kontestan. Banyak variabel pelaku politik halo-halo.

Jika mau jujur, politik halo-halo sudah dilakukan sejak dulu. Pertanyaanya, apakah dengan praktik ini, yang tidak melulu karena fakta namun karena keinginan berkuasa belaka, lahir pemimpin-pemimpin baik tanpa cela?

Mari waspadai politik halo-halo mulai dari diri kita. Pastikan pada pilkada selanjutnya tidak lahir pemimpin yang hanya bermental penguasa. Bermental halo-halo belaka. Terakhir, kurangi bersentuhan dengan politik halo-halo. Politik halo-halo bukan kategori hoaks. Tapi penuh keberpihakan dan merusak. Terutama yang berbeda. Salam tanpa halo.

Gapura, 11 Juli 2019

Penulis : Nur Khalis, Seorang Jurnalis yang bertugas di Sumenep. Nur Khalis aktif bergiat di Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS).

Share This Article