Printing Money di NKRI

By
6 Min Read

jfID – Ketika banyak yang menyatakan mengapa tidak printing money pada saat ini, maka pemegang tampuk tertinggi urusan perduitan, tidak goyang akan prinsipnya, printing money menimbulkan inflasi.

Lalu juniornya, mantan menteri keuangan orang yang saya kagumi menyatakan dukungan kepada MMT.

Saya dalam hati mengatakan, dari sejak sebelum pemilihan menteri bulan Oktober tahun 2019, saya membuat video tentang Jokowi got Talent, untuk menjaring menteri, dan saya menjagokan pak Chatib Basri ini. karena tahu apa yang akan terjadi 2020 kedepan walau tanpa corona pasti blangsak ekonominya.

Dimana, sejak 3 tahun lalu konstan mengatakan, seorang yang model “jago bertahan” defender tidak cocok untuk menghadapai ECONOMIC AT WAR. Bahkan mengerti juga tidak tentang ekonomi dalam keadaan perang. Perang itu punya rumus, “the best defence is GOOD OFFENCE!!!”

Pak Chatib Basri, masih muda, pembelajar, berpengalaman dan up to date dengan ilmu ekonomi kekinian, juga MMT sebagai garda terdepan NEW ECONOMIC MODELS, bisa dia pegang.

Ada baiknya saya ulangi lagi. Walau sudah puluhan kali saya mengatakannya tentang geopolitik dunia.

Sejak Trump di lantik jadi presiden maka “China menjadi common enemy” Amerika. Dimana selama 8 tahun partai Demokrat berkuasa jamannya Obama, China adalah mitra utama Amerika, dan perusahaan Amerika di China meningkat dengan banyaknya jabatan orang seperti Joe biden, Hillary, menjadi komisaris perusahan-perusahaan Amerika di China tersebut.

Catatan, nanti kalau Joe biden menang melawan Trump November 2020, bisa balik lagi dengan China, hubungannya Amerika membaik.

Beda kalau Demokrat menunjuk Sanders tanding lawan Trump, Sanders bukan berperang lawan China atau bekerja sama dengan China, tidak keduanya. Sanders punya PERANGNYA SENDIRI melawan “climate change”.

Jadi sejak 2017 ketika Trump menjabat Januari, kurang dari 6 bulan setelah itu Amerika melakukan tarik dollar, dolar GO HOME dimana tujuan jelas, kendali dolar dan mulai tekan China.

Kembali ke tanah air. Dimana sistem keuangan yang biasa mengikuti YANG PUNYA KEKUATAN. Maka sulit indonesia bisa berdaulat, jika otak cara melihat safety valve atau KATUP PENGAMAN dari perekonomian adalah DOLAR atau hutang (dolar juga).

Mau membangun perlu dolar, mau cetak rupiah perlu dolar, begitu ngak dapat dolar dari fed atau world bank, pakai instrument invetment banking swasta juga cari dolar, buat global bond dengan tujuan ambil dolar.

Ini SULIT INDONESIA keluar dan berjaya, kalau cara berfikirnya begini. Quantitative easing kalau dengan MMT tak perlu dolar, pak Chatib Basri tahu banget itu. Sayang dia hanya sebagai pengamat atau penasehat, kasih dia jabatan, manuver nya pasti lincah.

Pelajaran dasar tentang MMT akan saya urai perlahan.

Kita harus jelaskan tentang “inflasi” sebagai mantra kaum keynesian. Maka jawaban kita KAUM POST KEYNESIAN :
Inflasi tidak akan ada kalau neracanya balance, karena INFLASI HANYA ADA KALAU MISS MATCH. Miss match antara barang dengan uang beredar. Jadi selama ada inflasi, kita pertanyakan ‘cara kelola keuangan negaranya”, pasti ada missmatch.

Karena itu MMT bukan asal gelontor model bisnis akal-akalan stimulus ekonomi penangulangan corona, ngak sesederhana itu. Harus di baca dulu, dimana missmatch nya selama menjabat 6 tahun nih?

Catatan keras: Jurus gelontor uang masa krisis, beda dengan jurus gelontor uang masa “normal”, apa lagi jurus gelontor uang masa perang.

Ekonomi kanker stadium 1 dan 2 COCOK dengan printing money berbasis proyek, yaitu ENGINE INDUTRY masih jalan sampai 60%. kalau sudah seperti sekarang ekonominya sudah kanker stadium 3, mesin industri sudah turun hingga sisa 30%. untuk printing moneynya Harus di tambah “berbasis SWF”, berbasis STOCK cadangan deposit negara dan manufaktur atau industri Independen, tidak bisa lagi berbasis proyek.

Apa itu industri independen? Industri yang tidak ada bahan importnya. Modal semua dalam bentuk rupiah dan barang dalam negeri. Inilah industri yang harus di bangun dulu, di gelontorkan pakai printing money berbasis SWF. Di pilah-pilah indusrtrinya. Sekali lagi.

Diingatkan, harus SEKTOR PRODUKSI INDEPENDEN.

Tidak boleh sektor trading, atau perdagangan. Apa lagi sektor jasa ala ala les online gratisan di youtube di bayar triliunan. Wah itu tidak terampunkan!!!

Mengapa tidak boleh unsur-unsur tersebut, terutama perdagangan? Faktor perdagangan itu untungnya terbatas, naiknya terbatas, faktor produksi bisa 10-30 kali naiknya dan untungnya. Ini baru efisien pendanaan printing moneynya.

Jadi, ngapain sih masih terima asing aseng, ampun deh ngelolanya. Kapan percaya sama kekuatan bangsa sendiri. Ini bantuan dalam negeri sudah gigi 5 siap. #peace

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article