jfid – Sebanyak 1.288 mahasiswa baru Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan pada Agustus 2026. Pembukaan kegiatan ini hadir Bupati Tanah Datar Eka Putra dengan pesan yang jelas: mahasiswa wajib menguasai teknologi dan tidak boleh tertinggal di era digital. Seruan ini bukan sekadar retorika kosong, melainkan respons nyata terhadap gap keterampilan yang terus melebar di antara lulusan dan kebutuhan industri di seluruh nusantara.
PBAK tahun ini berlangsung selama tiga hari di Auditorium Kampus 2 UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Acara pengenalan ini menjadi pintu pertama bagi mahasiswa dari berbagai daerah di Sumatera Barat maupun luar daerah untuk memahami visi dan misi perguruan tinggi. Bupati Eka Putra menekankan bahwa empat tahun masa kuliah harus dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kapasitas diri, keterampilan, wawasan, serta membentuk kepribadian yang kuat. Menurutnya, karakter yang solid dan kompetensi digital adalah dua aspek yang tak terpisahkan untuk menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif dan tak menentu.
Pesan Bupati Eka Putra menyentuh akar masalah yang sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Banyak lulusan sarjana yang lulus dengan nilai baik namun kesulitan bersaing di dunia kerja karena minim kemampuan digital. Data Kemendikbudristek menunjukkan bahwa kurang dari empat puluh persen lulusan perguruan tinggi memiliki keterampilan digital yang memadai sesuai standar industri. Kesenjangan ini makin lebar seiring perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan transformasi bisnis yang digerakkan data di hampir semua sektor ekonomi.
Para akademisi menilai bahwa perhatian terhadap literasi teknologi di tingkat perguruan tinggi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Seorang profesor dari Fakultas Teknik Informatika di universitas negeri menegaskan bahwa mahasiswa perlu memahami dasar-dasar pemrograman, analisis data, dan etika penggunaan AI. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh hanya meluluskan sarjana yang menguasai teori semata, tetapi yang mampu menciptakan solusi berbasis teknologi untuk masalah sehari-hari di masyarakat. Pendidikan harus lurus dengan kebutuhan zaman tanpa melupakan nilai-nilai karakter yang menjadi fondasi.
Pihak kampus UIN Mahmud Yunus sendiri mulai mengintegrasikan modul digital literacy ke dalam kurikulum mulai tahun ajaran 2026. Beberapa program studi sudah memaksa mahasiswa mengambil mata kuliah pemrograman dasar atau analisis data terlelap dari jurusan mereka. Langkah ini diambil setelah laporan alumni menunjukkan bahwa banyak lulusan kesulitan mendapatkan pekerjaan karena minim skill digital. Program ini juga didukung oleh workshop dan pelatihan intensif selama liburan semester dengan narasumber dari praktisi industri.
Di Tanah Datar, pemerintah daerah juga memegang peran penting dalam menyiapkan infrastruktur digital yang menunjang pendidikan. Misi kedua pemerintah kabupaten secara eksplisit menargetkan peningkatan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing. Beberapa program beasiswa pelatihan digital dan kerja sama dengan perusahaan teknologi telah digulirkan untuk mahasiswa dan pemuda di wilayah setempat. Namun, distribusi akses internet masih menjadi tantangan di beberapa area terpencil yang menghambat partisipasi dalam program tersebut.
Dari sisi industri, perusahaan digital di Sumatera Barat mengapresiasi langkah mahasiswa yang mahir teknologi. Salah satu startup lokal yang bergerak di bidang agritech menyatakan bahwa mereka lebih memilih merekrut lulusan yang memiliki portfolio proyek digital dibanding hanya mengandalkan IPK tinggi. Keterampilan analisis data, pemasaran digital, dan automasi menjadi nilai tambah yang paling dicari. Gaji yang ditawarkan untuk posisi tersebut juga hingga tiga kali lipat dibanding posisi administrasi konvensional. Persaingan merekrut talenta digital memaksa perusahaan meningkatkan standar dan insentif.
Global tren memperkuat argumen tersebut. Negara-negara di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia telah meluncurkan strategi nasional literasi digital untuk seluruh populasi usia produktif. Mereka menargetkan setiap warga mampu menggunakan alat digital dasar sebelum memasuki dunia kerja. Indonesia dengan populasi generasi muda yang masif perlu meniru langkah yang ambisius tersebut agar tidak ketinggalan dalam persaingan ekonomi digital regional. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri menjadi kunci utama untuk percepatan transformasi tersebut.
Bagi mahasiswa baru UIN Mahmud Yunus, pesan Bupati Eka Putra menjadi pengingat awal yang kuat. Selama tiga hari PBAK, mereka tidak hanya mengenal struktur kampus dan organisasi kemahasiswaan, tetapi juga mendapatkan pembekalan tentang pentingnya teknologi dalam setiap langkah karier. Beberapa sesi workshop mendesain website, analisis data sederhana, dan etika media sosial menjadi bagian dari agenda yang mendapat respons sangat positif dari peserta. Mahasiswa pun mulai menyadari bahwa penguasaan teknologi bukan lagi milik kelompok tertentu, tetapi hak dan kebutuhan seluruh generasi muda Indonesia.
Transformasi digital di perguruan tinggi bukan lagi tentang teknologi semata, melainkan tentang perubahan mindset dan cara berpikir kritis. Mahasiswa diajak untuk tidak lagi melihat digital sebagai alat hiburan belaka, tetapi sebagai infrastruktur keterampilan yang membuka peluang tanpa batas. Kombinasi antara pendidikan agama, ilmu sosial, dan kompetensi teknologi menjadi formula utama yang diharapkan dapat melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berkualitas, dan benar-benar berdaya saing di era global.

