Dibalik InsyaAllah-nya Zulhas, Indonesia sebagai Ekonomi Terkuat ke-5 Dunia

Rasyiqi
By Rasyiqi
5 Min Read

jfid – Indonesia adalah negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, sumber daya alam yang melimpah, dan letak geografis yang strategis, Indonesia seharusnya mampu menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya dan berperan aktif dalam percaturan global.

Namun, apakah Indonesia benar-benar siap untuk mencapai cita-cita tersebut? Apakah optimisme yang ditunjukkan oleh beberapa tokoh dan lembaga terkait prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki dasar yang kuat dan realistis? Ataukah itu hanya sekadar angan-angan yang tidak didukung oleh fakta dan data?

Salah satu pernyataan yang sering dikutip sebagai bukti bahwa Indonesia akan menjadi ekonomi terkuat ke-5 di dunia pada tahun 2038 adalah dari Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) yang mengatakan “Semua badan dunia menyebutkan Indonesia bakal menjadi ekonomi terkuat di dunia ke 5 pada tahun 2038 insyaallah”. Pernyataan ini tampaknya didasarkan pada laporan dari PricewaterhouseCoopers (PwC) yang merilis proyeksi The World in 2050 .

Laporan PwC ini memang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar kelima di dunia pada tahun 2050 dengan nilai sebesar USD 7,3 triliun. Namun, perlu dicermati bahwa proyeksi ini menggunakan asumsi-asumsi tertentu yang mungkin tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Beberapa asumsi tersebut antara lain:

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia akan rata-rata mencapai 5,1 persen per tahun hingga tahun 2050, lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia yang hanya 2,6 persen per tahun.
  • Investasi akan meningkat secara signifikan dari 32 persen PDB pada tahun 2016 menjadi 37 persen PDB pada tahun 2050, sejalan dengan peningkatan infrastruktur dan inovasi.
  • Kualitas sumber daya manusia (SDM) akan meningkat secara substansial, terutama dalam hal pendidikan dan kesehatan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia akan naik dari 0,69 pada tahun 2016 menjadi 0,81 pada tahun 2050, mendekati level negara-negara maju.
  • Stabilitas politik dan keamanan akan terjaga, tanpa adanya konflik sosial, terorisme, korupsi, atau bencana alam yang mengganggu aktivitas ekonomi.

Asumsi-asumsi tersebut tentu saja sangat ideal dan optimistis, tetapi apakah realistis? Jika kita melihat kenyataan yang ada saat ini, kita akan menemukan banyak tantangan dan hambatan yang harus diatasi oleh Indonesia sebelum bisa mencapai target tersebut. Beberapa tantangan dan hambatan tersebut antara lain:

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bergantung pada konsumsi domestik yang rentan terhadap fluktuasi harga dan pendapatan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga masih didominasi oleh sektor-sektor tradisional seperti pertanian, perdagangan, dan jasa, sementara sektor-sektor modern seperti industri, teknologi, dan pariwisata masih belum berkembang optimal.
  • Investasi masih menghadapi berbagai kendala seperti birokrasi, perizinan, regulasi, infrastruktur, tenaga kerja, dan iklim usaha. Selain itu, investasi juga masih didominasi oleh sektor-sektor padat modal dan padat karya yang kurang berorientasi pada nilai tambah dan produktivitas.
  • Kualitas SDM masih rendah dibandingkan dengan negara-negara pesaing. Hal ini terlihat dari rendahnya angka partisipasi sekolah, tingginya angka putus sekolah, rendahnya kualitas pendidikan, tingginya angka kemiskinan, dan rendahnya kesehatan masyarakat. Selain itu, Indonesia juga masih mengalami kesenjangan sosial dan ketimpangan pendapatan yang tinggi antara kelompok-kelompok masyarakat.
  • Stabilitas politik dan keamanan masih rapuh dan rawan terganggu oleh berbagai faktor seperti polarisasi politik, radikalisme, intoleransi, separatisme, konflik agraria, korupsi, dan bencana alam. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian dan ketidakpercayaan bagi pelaku ekonomi.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pernyataan Zulhas tentang Indonesia bakal menjadi ekonomi terkuat ke-5 di dunia pada tahun 2038 adalah sebuah impian yang belum tentu terwujud. Pernyataan tersebut tidak didasarkan pada analisis yang mendalam dan kritis terhadap kondisi ekonomi Indonesia saat ini dan tantangan-tantangan yang dihadapinya di masa depan. Pernyataan tersebut juga tidak mempertimbangkan dinamika dan persaingan global yang semakin ketat dan kompleks.

Oleh karena itu, pernyataan tersebut harus diambil dengan hati-hati dan tidak boleh membuat kita terlena dan puas diri. Sebaliknya, kita harus bekerja keras dan cerdas untuk memperbaiki berbagai kelemahan dan mengatasi berbagai masalah yang ada. Kita harus berinovasi dan berkolaborasi untuk menciptakan nilai tambah dan produktivitas yang tinggi. Kita harus meningkatkan kualitas SDM dan mengurangi kesenjangan sosial. Kita harus menjaga stabilitas politik dan keamanan serta memperkuat demokrasi dan hukum.

Hanya dengan cara itulah, Indonesia bisa menjadi negara impian yang sebenarnya, bukan hanya mimpi.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email [email protected]

Share This Article