jfid – Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031. Penetapan ini diambil setelah ia dinyatakan lulus uji kepatutan dan kelayakan serta melalui musyawarah mufakat di dalam komisi. Destry menjadi perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia, menorehkan sejarah baru di sektor keuangan yang selama ini didominasi pria.
Destry lahir di Jakarta pada 1963 dan menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia. Ia kemudian melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan meraih gelar Master of Science di bidang Regional Science dari Cornell University, New York. Kombinasi pendidikan di UI dan Cornell memberikan dasar teoretis dan perspektif global yang kuat sebelum ia terjun ke dunia profesional.
Karier Destry dimulai pada akhir dekade 1980-an sebagai peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Selama tiga tahun, ia memperdalam pemahaman tentang struktur ekonomi Indonesia sambil membagikan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Pengalaman akademik ini tidak hanya membentuk landasan analitisnya, tetapi juga melatih komunikasi yang jelas ketika harus menjelaskan kebijakan kompleks kepada publik.
Setelah meninggalkan dunia akademik, Destry bergabung dengan Kementerian Keuangan pada 1992-1997. Di lingkungan pemerintahan, ia belajar bagaimana kebijakan moneter dan fiskal dirumuskan, serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi makro. Langkah ini membawanya lebih dekat dengan pusat pengambilan keputusan ekonomi Indonesia.
Pada 1997, Destry memilih untuk terjun ke sektor swasta dengan bergabung di Citibank sebagai ekonom. Di salah satu bank global terbesar, ia mempelajari tata kelola keuangan internasional dan pengelolaan risiko. Pengalaman di Citibank menjadi jembatan menuju peran sebagai Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada 2000-2003. Di posisi itu, ia menjadi penghubung strategis antara pemerintah Inggris dan pemerintah Indonesia dalam dialog ekonomi bilateral.
Kembali ke sektor perbankan lokal, Destry menjabat sebagai Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada 2005-2011 dan kemudian Kepala Ekonom Bank Mandiri pada 2011-2015. Di era ini, ia aktif mengeluarkan analisis tentang pasar modal, suku bunga, dan prospek pertumbuhan ekonomi. Ia juga pernah menjadi Direktur Eksekutif Mandiri Institute, lembaga yang fokus pada riset kebijakan publik. Rekam jejak ini menunjukkan konsistensi dalam menggabungkan analisis data dengan strategi bisnis.
Tidak lama berselancar di swasta, Destry kembali ke arena publik ketika dipercaya menjadi Ketua Satuan Tugas Ketahanan Ekonomi di Kementerian BUMN pada 2014-2015. Tahun 2015 menjadi titik balik kariernya, ditugaskan ke Lembaga Penjamin Simpanan. Di LPS, Destry mengelola sistem penjaminan deposi nasional, memperkuat kepercayaan publik terhadap stabilitas sektor perbankan. Sukses di LPS membuktikan bahwa ia mampu memimpin lembaga keuangan dengan akuntabilitas tinggi.
Kemampuan Destry mengelola risiko dan menjaga stabilitas menarik perhatian Bank Indonesia. Ia bergabung sebagai Deputi Gubernur dan bertugas mengawasi kebijakan pengawasan perbankan serta sistem pembayaran. Ketika Gubernur BI Perry Warjiyo mengundurkan diri, Destry diangkat sebagai Pejabat Gubernur Sementara. Penempatan itu menguji keteguhan dan kompetensinya di tengah tekanan pasar.
Sekarang, dengan pengukuhan resmi dari DPR, Destry memimpin BI untuk periode 2026-2031. Misi utamanya bukan hanya menjaga stabilitas harga, tetapi juga memperkuat keamanan sistem pembayaran digital, mengawasi aliran devisa, dan menangani underinvoicing yang merugikan negara. Di tengah era transformasi digital, peran bank sentral melampaui penentuan suku bunga; ia harus memahami teknologi finansial, perlindungan konsumen, dan inklusi keuangan. Destry dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara inovasi dan stabilitas sistem.
Pengukuhan Destry juga datang di momentum ketika perekonomian Indonesia menghadapi tekanan global, mulai dari fluktuasi nilai tukar rupiah hingga gejolak harga komoditas. Bank Indonesia memegang peran krusial dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar. Dengan latar belakang Destry yang menguasai ekonomi regional dan keuangan internasional, analis memperkirakan BI akan lebih fokus pada koordinasi kebijakan dengan otoritas lain, termasuk Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya tahan sistem keuangan Indonesia terhadap guncangan eksternal.
Bagi perempuan yang ingin meniti karier di sektor keuangan, perjalanan Destry menawarkan beberapa pelajaran penting. Pertama, bangun fondasi pendidikan yang kokoh dan terus tingkatkan kompetensi dengan studi lanjutan. Kedua, beranilah keluar dari zona nyaman, baik itu ke sektor swasta maupun lembaga internasional, untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas. Ketiga, pertahankan integritas dan konsistensi dalam setiap peran, karena reputasi profesional adalah aset yang tidak bisa dibeli dalam waktu singkat. Keempat, kembangkan kemampuan komunikasi agar dapat menjelaskan konsep teknis kepada awam, keterampilan yang sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin bank sentral. Kelima, siapkan diri menghadapi kritik publik dengan data dan bukti, bukan emosi. Keenam, jangan ragu mengambil peran yang belum pernah diisi oleh perempuan sebelum Anda; justru di situlah ruang terbesar untuk meninggalkan warisan.
Lebih dari sekadar angka kinerja, pengangkatan Destry mengirimkan sinyal kuat bahwa perempuan Indonesia mampu menaklukkan puncak-puncak profesional di bidang yang selama ini dianggap tertutup. Setiap kali seorang perempuan naik ke posisi strategis, ia tidak hanya mewakili dirinya sendiri, tetapi juga membuka pintu bagi jutaan perempuan lainnya yang bermimpi mengikuti jejas yang sama.
