jfid – Kemampuan untuk menghasilkan penjualan dan menjangkau pasar yang tepat kembali menjadi aset paling dicari di dunia kerja tahun ini. Laporan terbaru ManpowerGroup menunjukkan bahwa skill penjualan dan pemasaran menempati posisi puncak kompensasi tertinggi di perusahaan dengan persentase 62 persen. Fenomena ini bukan sekadar tren musiman, melainkan cerminan dari perubahan struktural cara perusahaan berbisnis di tengah tekanan pasar yang terus bergeser.
Posisi sales dan marketing yang disusul oleh operasional, logistik, serta literasi artificial intelligence dengan angka 61 persen mengindikasikan bahwa perusahaan tidak hanya mengutamakan kreativitas. Kemampuan menganalisis data, mengoptimalkan-saluran distribusi, dan membaca perilaku konsumen menjadi syarat tak tertulis yang tidak bisa diabaikan. Pekerja yang hanya menguasai satu aspek tanpa pemahaman integrasi teknologi akan dengan mudah tertinggal.
Tren penguasaan AI semakin memperkuat laporan tersebut. Keahlian pengembangan model dan aplikasi kecerdasan buatan berada di angka 60 persen, yang berarti pasar kerja tidak lagi memisahkan antara kecerdasan manusia dan mesin. Perusahaan kini mencari individu yang bisa menjadi perpanjangan tangan sistem digital, bukan hanya operator manual. Integrasi ini menuntut adaptasi cepat dari calon karyawan agar bisa bersaing dengan standar yang terus naik.
Bagi pencari kerja, data ini menjadi pandu penting untuk menyusun strategi pengembangan kompetensi. Menekuni bidang sales dan marketing tidak lagi cukup hanya dengan kemampuan persuasi dan komunikasi verbal. Analitik data, pemahaman algoritma, serta literasi digital menjadi paket wajib yang menyertai core skill tersebut. Profesional yang menggabungkan hard dan soft skill dengan pemahaman teknologi cenderung mendapatkan kompensasi lebih tinggi dan peluang promosi yang lebih cepat.
Sektor layanan pelanggan, sumber daya manusia, serta IT dan data tradisional juga mencatatkan angka 59 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mengakui pentingnya ekosistem internal yang solid. Tidak ada penjualan yang bisa bertahan tanpa dukungan layanan purna jual, dan tidak ada transformasi digital yang sukses tanpa SDM yang siap beradaptasi. Keseimbangan antara front office dan back office menjadi kunci stabilitas operasional perusahaan.
Administrasi dan pendukung bisnis berada di angka 58 persen. Meskipun terlihat lebih rendah, angka ini tetap menunjukkan bahwa fondasi operasional perusahaan tetap memegang peranan penting. Namun, pergeseran struktur kompensasi ini mengingatkan bahwa posisi administratif murni tanpa inovasi berisiko terpinggirkan. Pekerja di bidang tersebut perlu mulai mengintegrasikan otomatisasi dan efisiensi proses ke dalam portofolio kompetensi mereka.
Manufaktur dan produksi serta teknik masing-masing berada di angka 55 persen. Sektor ini menjadi modal dasar Indonesia yang terus bertahan meskipun tren kompensasi mulai bergeser ke arah jasa dan teknologi. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus mendorong modernisasi manufaktur nasional agar bisa bersaing di pasar global. Pekerja di bidang teknik yang ditambah kemampuan digital akan punya nilai tambah yang signifikan di masa depan.
Keberlanjutan bisnis muncul di urutan terakhir dengan 53 persen, namun maknanya tidak kecil. Isu lingkungan bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan persyaratan kompetitif. Perusahaan yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan standar keberlanjutan akan kehilangan akses pasar global. Pekerja yang memahami konsep green economy dan mampu menerapkannya dalam operasional bisnis memiliki peluang karir yang lebih luas di perusahaan yang berorientasi ekspor.
Penggunaan AI dalam rekrutmen juga menjadi sorotan penting. Data ManpowerGroup mencatat bahwa 57 persen perusahaan menggunakan AI untuk meninjau resume profesional, 48 persen untuk pembaruan status otomatis, dan 46 persen untuk penyusunan deskripsi pekerjaan berbasis AI. Calon karyawan tidak bisa lagi mengandalkan CV konvensional semata. Presentasi digital, portofolio online, dan kemampuan menunjukkan value proposition secara singkat menjadi syarat baru dalam proses pencarian kerja.
Survei ini dilakukan pada 1 hingga 30 April 2026 dengan melibatkan 40 ribu pemberi kerja di 42 negara. Metodologi yang terstandarisasi antarorganisasi memungkinkan data ini dianalisis secara akurat di tingkat global. Bagi Indonesia, angka ini menjadi acuan penting untuk menyusun kebijakan pengembangan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja masa depan.
Di tengah lanskap yang terus bergeser ini, kemampuan berkelanjutan menjadi aset paling berharga. Pekerja yang mau terus belajar dan mengejar standar baru tidak akan tertinggal. Pasar kerja bukan lagi tempat bagi mereka yang hanya mengandalkan pengetahuan statis. Dunia bisnis yang dinamis menuntut gerak cepat, terbuka terhadap inovasi, dan siap meninggalkan zona nyaman secara terus-menerus.
Pada akhirnya, kompensasi tinggi tidak lagi bergantung pada seberapa tinggi gelar akademis yang dimiliki. Pasar kerja menghargai mereka yang bisa menghubungkan hard skill dengan kemampuan beradaptasi, literasi digital, dan visi bisnis yang jernih. Pekerja Indonesia yang ingin bertahan di tengah persaingan global perlu mulai memetakan kompetensi mereka sesuai dengan tren yang terbentuk. Perusahaan juga memiliki peran strategis menyediakan jalur pengembangan karir yang jelas agar talenta terbaik tidak merasa terpatri di posisi yang tidak memadai.

