jfid – Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Ahad 16 Agustus 2026 tidak hanya merusak bangunan dan jalur komunikasi, tetapi juga mengganggu pasokan bahan bakar minyak di kawasan Flores bagian barat. Di Fuel Terminal Reo, yang menjadi gardu utama penyaluran BBM untuk tujuh kabupaten, operasional sempat terhenti total. Kini, PT Elnusa Petrofin sebagai anak usaha PT Elnusa Tbk memaksa menyiapkan skema darurat untuk mengembalikan suplai solar dan premium kepada masyarakat dan transportasi umum. Upaya pemulihan ini berjalan di tengah kerusakan jalan dan risiko longsor yang masih mengancam personel di lapangan. Tanpa upaya cepat, warga bisa mengalami kelangkaan bahan bakar yang berlanjut menjadi krisis logistik dalam pasca bencana.
Pulihnya distribusi BBM tidak terjadi dalam semalam. Setelah guncangan berkekuatan 7,7 melanda, tim tanggap darurat Elnusa Petrofin terlebih dahulu mengevakuasi dan memastikan keselamatan seluruh karyawan di FT Reo. Langkah ini menjadi kunci sebelum aparatus operasional bisa diaktifkan kembali. Manajer Corporate Communication & Relations PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo, menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa di kalangan personel perusahaan. Komitmen tersebut membuka ruang bagi percepatan pemulihan infrastruktur logistik di kawasan terpencil tersebut. Perusahaan juga melakukan pengecekan menyeluruh terhadap tangki penyimpanan, pipa distribusi, dan sistem pencetakan untuk memastikan tidak ada kebocoran atau kerusakan struktural akibat guncangan.
Salah satu tantangan terbesar adalah kondisi akses jalan yang memblokir. Jalur Ruteng–Reo, yang menjadi penghubung utama, kini hanya bisa dilalui kendaraan roda empat ringan. Mobil tangki berukuran besar tetap ditolak oleh struktur jalan yang retak dan longsoran material di sepanjang tebing. Sementara itu, jalur Trans Marapokot–Danga masih sepenuhnya tertutup material vulkanik dan batuan yang runtuh. Kondisi ini memaksa Elnusa Petrofin merancang rute alternatif menggunakan jalur Trans Flores Ende–Bajawa yang sudah bersih dari material longsor. Rute baru ini memang lebih panjang, tetapi memungkinkan armada tangki masuk ke kawasan terdampak tanpa harus menempuh jalan yang masih berbahaya.
Mendengar kebutuhan warga yang menumpuk, perusahaan memobilisasi Awak Mobil Tangki (AMT) perbantuan dari wilayah operasi lain di Indonesia. Tujuan utamanya adalah menjaga kesiapan stok BBM di sejumlah titik kritis sebelum armada besar bisa masuk. Strategi alih suplai juga diterapkan untuk memastikan kebutuhan masyarakat di Reo dan sekitarnya tetap terpenuhi meski volume pengiriman masih terbatas. Bagi masyarakat yang sehari-hari bergantung pada sepeda motor untuk bepergian, kembalinya pasokan BBM berarti pemulihan mobilitas dan ekonomi kecil mereka. Guru yang harus menempuh perjalanan lima kilometer untuk mengajar, pedagang sayur yang membawa hasil kebun ke pasar, dan petani yang membutuhkan solar untuk Pompa Air Tancap sempat terhenti aktivitasnya selama tiga hari.
Di luar distribusi komersial, Elnusa Petrofin juga menyiapkan bantuan logistik untuk warga terdampak. Paket-paket makanan, selimut, dan obat-obatan disiapkan dan akan disalurkan bekerja sama dengan Pertamina Patra Niaga serta aparat pemerintah daerah. Bantuan ini tidak hanya berfungsi sebagai tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi juga sebagai jembatan komunikasi antara perusahaan dan masyarakat setempat. Kepercayaan warga menjadi aset penting di masa pascabencana, terutama ketika infrastruktur masih dalam perbaikan. Banyak warga yang masih bertahan di tenda darurat dan bergantung pada bantuan logistik untuk bertahan hidup. Ketika BBM mengalir kembali, distribusi logistik lainnya seperti makanan dan obat juga ikut lancar karena kendaraan operasional bisa berjalan.
Pemulihan penyaluran BBM juga memegang peranan strategis bagi sektor penerbangan dan transportasi darat. Bandara Fransiskus Xaverius Hadi di Ruteng membutuhkan pasokan avtur untuk mengembalikan penerbangan komersial dan evakuasi udara. Pelabuhan kecil di pesisir Flores juga membutuhkan solar untuk kapal yang mengangkut logistik ke pulau-pulau kecil sekitarnya. Tanpa suplai energi yang memadai, evakuasi korban yang masih tertinggal dan pengiriman logistik medis akan terhambat. Upaya Elnusa Petrofin, oleh karena itu, tidak hanya berdampak pada kenyamanan warga, tetapi juga pada percepatan proses pemulihan umum pascagempa. Ketersediaan bahan bakar menjadi fondasi bagi semua sektor lain yang berusaha bangkit kembali.
Koordinasi multipihak menjadi fondasi utama keberhasilan operasional ini. Tim lapangan Elnusa Petrofin terus berkomunikasi dengan Pertamina Patra Niaga, Dinas Energi NTT, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan TNI/Polri untuk memantau perkembangan situasi. Setiap pagi, rapat koordinasi digelar untuk menyesuaikan skema distribusi dengan kondisi jalan terkini. Data yang terkumpu dari jalur yang aman, volume permintaan, dan tingkat ketahanan armada menjadi acuan pengambilan keputusan. Pendekatan ini meminimalkan risiko personel sekaligus mengoptimalkan waktu tempuh pengiriman. Transparansi informasi kepada publik juga menjadi prioritas untuk mencegah hoaks dan kepanikan di tengah masyarakat. Informasi tentang titik penyaluran yang dibuka dan jadwal ketersediaan BBM disebarkan melalui radio lokal dan kantor kepala desa.
Dari perspektif ekonomi, kembalinya pasokan BBM di Reo juga menandakan awal pemulihan aktivitas produktif warga. Pasar tradisional yang sempat sepi karena kesulitan transportasi mulai berangsur ramai. Pedagang yang menggunakan sepeda motor untuk mengangkut hasil bumi kembali bisa beroperasi. Angkot yang mogok karena kehabisan solar mulai berjalan lagi. Ketika energi mengalir, kehidupan ekonomi kecil mengejar ketahanan meski infrastruktur besar masih dalam perbaikan. Gempa telah mencederai fisik, tetapi kerja keras perusahaan dan aparat untuk memulihkan suplai BBM menunjukkan bahwa solidaritas dan ketahanan sistem masih bisa berjalan. Pemulihan ini mengingatkan kita bahwa di masa krisis, rantai pasokan energi adalah nadi yang harus dipertahankan agar kehidupan masyarakat bisa kembali berfungsi.

