Teva Perusahaan Farmasi Israel yang Terlibat Berbagai Skandal

ZAJ
By ZAJ - SEO Expert | AI Enthusiast
4 Min Read
Netizen Yang Komplain Fatwa Haram Mui Atas Produk Pro Israel: Pesimis Atau Bodoh?
Netizen Yang Komplain Fatwa Haram Mui Atas Produk Pro Israel: Pesimis Atau Bodoh?
- Advertisement -

jfid – Teva Pharmaceutical Industries Ltd. adalah perusahaan farmasi multinasional yang berpusat di Tel Aviv, Israel. Perusahaan ini merupakan produsen obat-obatan generik terbesar di dunia, dengan fasilitas produksi di Israel, Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Amerika Selatan.

Produk-produk Teva telah masuk ke pasar Indonesia sejak beberapa tahun lalu, melalui perusahaan distribusi lokal. Namun, perusahaan ini juga terlibat dalam berbagai kontroversi, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang berdampak pada reputasi dan kinerja bisnisnya.

Salah satu kontroversi yang menimpa Teva adalah tuduhan melakukan praktik monopoli dan kartel harga di pasar obat-obatan generik di Amerika Serikat. Pada tahun 2020, Departemen Kehakiman AS mengajukan tuntutan pidana terhadap Teva dan enam perusahaan farmasi lainnya, atas dugaan melakukan persekongkolan untuk menaikkan harga, membagi-bagi pasar, dan merugikan konsumen.

Teva membantah tuduhan tersebut, namun pada tahun 2023, perusahaan ini setuju untuk membayar denda sebesar lebih dari 200 juta dolar AS dan melepaskan hak atas salah satu obat kolesterolnya, untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Ad imageAd image

Kontroversi lain yang menghinggapi Teva adalah keterlibatannya dalam kasus korupsi di beberapa negara, termasuk Rusia, Ukraina, dan Meksiko. Pada tahun 2016, Teva mengaku bersalah atas pelanggaran Undang-Undang Praktik Korupsi Asing (FCPA), yang melarang perusahaan AS memberi suap kepada pejabat asing untuk mendapatkan keuntungan bisnis.

Teva mengakui telah membayar suap kepada pejabat kesehatan di Rusia, untuk mempengaruhi pengadaan obat multiple sclerosis Copaxone, yang merupakan produk unggulan Teva. Teva juga mengakui telah melakukan praktik korupsi terkait dengan obat kulit clotrimazole dan obat mata tobramycin di Ukraina dan Meksiko.

Teva setuju untuk membayar denda sebesar lebih dari 283 juta dolar AS dan menyumbangkan obat-obat tersebut senilai 50 juta dolar AS kepada organisasi kemanusiaan, untuk menutup kasus tersebut.

Di sisi lain, Teva juga mendapat tekanan dari gerakan boikot, divestasi, dan sanksi (BDS) terhadap Israel, yang menentang kebijakan Israel terhadap Palestina. Beberapa aktivis dan organisasi pro-Palestina telah mengajak masyarakat untuk tidak membeli produk-produk Teva, sebagai bentuk protes terhadap peran Teva dalam mendukung industri militer dan penjajahan Israel.

Salah satu aktivis yang mengkampanyekan boikot terhadap Teva adalah Olivia Zemor, seorang aktivis anti-genosida asal Prancis, yang menghadapi sidang di Lyon pada tahun 2021, setelah membuat ajakan boikot terhadap Teva di internet pada tahun 2016 [^10^].

Di Indonesia, Teva juga mendapat sorotan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang merupakan lembaga otoritas halal di negeri ini. MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa produk-produk Teva tidak halal, karena mengandung bahan-bahan yang berasal dari hewan yang tidak disembelih secara syar’i, atau yang diharamkan oleh Islam, seperti babi.

MUI juga menilai bahwa Teva tidak memiliki sertifikat halal dari lembaga yang diakui oleh MUI, sehingga produk-produk Teva tidak dapat dikonsumsi oleh umat Islam di Indonesia.

Dengan berbagai kontroversi yang menjeratnya, Teva menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan posisi dan reputasinya di pasar farmasi global.

Teva telah meluncurkan strategi baru yang disebut “Pivot to Growth”, yang bertujuan untuk memperluas portofolio obat-obatan inovatif dan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Teva juga berupaya untuk meningkatkan standar etika dan kepatuhan dalam menjalankan bisnisnya, serta berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan lingkungan.

- Advertisement -
TAGGED:
Share This Article