Ramadlan dan Paradoks Konsumerisme Religius

Redaksi
By Redaksi
5 Min Read
Ramadlan dan Paradoks Konsumerisme Religius (Ilustrasi)
Ramadlan dan Paradoks Konsumerisme Religius (Ilustrasi)
- Advertisement -

Oleh: Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I
(Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura)

Ramadlan seharusnya menjadi bulan pengendalian diri—momentum pendidikan finansial berbasis nilai tauhid dan moderasi. Namun realitas sosial-ekonomi di Indonesia sering memperlihatkan paradoks: di satu sisi umat berpuasa menahan lapar dan dahaga, tetapi di sisi lain belanja masyarakat dalam berbagai sektor justru meningkat secara signifikan. Fenomena ini mencerminkan konflik antara idealitas nilai spiritual dengan praktik konsumtif yang kuat.

Berdasarkan proyeksi lembaga riset, total belanja masyarakat Indonesia selama Ramadlan 2025 diperkirakan mencapai sekitar Rp 1.188 triliun—menunjukkan tingginya aktivitas konsumsi meskipun konsumen diperkirakan lebih selektif. Lebih lanjut, data resmi menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar 4,91 % pada triwulan I-2024, didorong terutama oleh belanja makanan dan minuman saat Ramadlan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa Ramadlan, yang idealnya menjadi ruang untuk menanamkan pengendalian diri dan pengaturan keuangan, juga menjadi ajang konsumsi massal berskala besar. Realitas ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah umat benar-benar menginternalisasi nilai moderasi dalam perilaku ekonominya, atau hanya menjalankan ritual tanpa transformasi?

Konsumerisme Religius dan Tantangan Pendidikan Finansial

Puasa, dalam tradisi Islam, bukan semata menahan lapar, tetapi mengekang syahwat dan impuls, termasuk impuls konsumsi berlebihan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din menegaskan bahwa tujuan puasa adalah mematahkan dominasi nafsu sehingga jiwa siap untuk taat. Syahwat dalam konteks ekonomi modern tak hanya makanan, tetapi keinginan untuk membeli dan memiliki berlebihan.

Namun budaya konsumsi modern, yang diperkuat oleh promosi, diskon, dan narasi gaya hidup, seringkali mengaburkan nilai moderasi ini. Bahkan pemerintah dan pelaku usaha mendorong konsumsi selama Ramadlan melalui program diskon dan promosi belanja nasional, seperti kampanye “Friday Mubarak” yang bertujuan meningkatkan aktivitas belanja domestik.

Dalam banyak kasus, belanja Ramadlan tidak hanya untuk kebutuhan pokok, tetapi juga kategori gaya hidup seperti fesyen, elektronik, dan hiburan. Tradisi membeli pakaian baru, hadiah, maupun pemanis berbuka telah menjadi kebiasaan yang kerap melampaui kebutuhan rasional—menjadi simbol status sosial yang kuat.

Ketahanan Finansial Umat dan Realitas Ekonomi

Ironisnya, data terbaru juga menunjukkan adanya anomali konsumsi di Ramadlan 2025, di mana pertumbuhan penjualan ritel dan belanja masyarakat terlihat lesu dibanding tahun-tahun sebelumnya. Indeks penjualan ritel hanya tumbuh 0,8 % bulan-ke-bulan menjelang Idul Fitri, jauh di bawah rata-rata historis, dan belanja fesyen serta barang tahan lama justru turun. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakpastian ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat, yang membuka ruang refleksi lebih dalam tentang perilaku ekonomi umat.

Realitas yang kompleks ini menunjukkan bahwa konsumerisme selama Ramadlan bukan semata hasil pilihan individual, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur ekonomi yang mendorong konsumsi sebagai penanda kesejahteraan, identitas sosial, dan bahkan realitas pasar yang agresif.

Pendidikan Finansial yang Sesungguhnya

Pendidikan finansial Islam tidak sekadar mengajarkan pengendalian belanja, tetapi juga membentuk kesadaran tentang harta sebagai amanah, bukan semata alat kepuasan. Al-Ghazali juga menegaskan bahwa zuhud bukanlah meninggalkan harta, tetapi memastikan bahwa harta tidak menguasai jiwa. Dalam perspektif ini, pendidikan finansial bukan tentang tidak punya uang, tetapi mengatur, mengendalikan, dan mendistribusikan harta dengan bijak.

Ramadlan seharusnya menjadi laboratorium sosial pendidikan finansial, di mana umat belajar:

  • Mengendalikan impuls konsumsi melalui disiplin diri: memilih kebutuhan prioritas, bukan hanya memenuhi keinginan.
  • Memperkuat tabungan dan perencanaan keuangan: bukan sekadar menghabiskan di puncak tren belanja musiman.
  • Berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah: sebagai bentuk distribusi yang adil dan peduli.
  • Memahami nilai moderasi sebagai praktik nyata: bukan hanya slogan spiritual.

Paradoks dan Jalan ke Depan

Paradoks Ramadlan hari ini menunjukkan bahwa ritus agama dapat menangkap umat secara kolektif, tetapi transformasi nilai ekonomi yang mendalam masih belum secara konsisten terjadi. Konsumsi yang tinggi, bahkan di bawah tekanan ekonomi, mencerminkan bahwa ritus spiritual belum sepenuhnya terhubung dengan praktik ekonomi rasional dan etis.

Akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya soal berapa banyak uang yang dibelanjakan selama Ramadlan, melainkan sejauh mana umat menghasilkan perubahan karakter ekonomi yang tahan terhadap godaan konsumtif. Pendidikan finansial Islam perlu diinternalisasikan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter, sehingga Ramadlan menjadi bukan hanya bulan puasa fisik, tetapi bulan pembentukan ekonomi yang moderat, bertanggung jawab, dan berkeadilan.

- Advertisement -
Share This Article