Ramadhan di Tengah Ketimpangan: Spiritualitas Tanpa Distribusi?

Redaksi
By Redaksi
5 Min Read
Ramadhan di Tengah Ketimpangan: Spiritualitas Tanpa Distribusi? (Ilustrasi)
Ramadhan di Tengah Ketimpangan: Spiritualitas Tanpa Distribusi? (Ilustrasi)
- Advertisement -

Setiap Ramadhan, suasana religius terasa menguat. Masjid penuh, kajian marak, sedekah meningkat. Namun pada saat yang sama, pusat perbelanjaan dipadati konsumen, parcel dan hampers berseliweran, meja berbuka dihiasi aneka hidangan berlimpah. Di sudut kota yang sama, masih ada keluarga yang menghitung sisa beras untuk sahur esok hari.

Di sinilah pertanyaan itu layak diajukan: apakah spiritualitas Ramadhan berjalan seiring dengan keadilan distribusi? Ataukah ia berhenti pada ritual individual tanpa menyentuh struktur ekonomi yang timpang?

Al-Qur’an telah memberikan prinsip fundamental tentang distribusi dalam firman-Nya:

“كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ”
“Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
(QS. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini bukan sekadar anjuran moral untuk berbagi, tetapi fondasi ekonomi Islam. Harta tidak boleh berputar dalam lingkar elite. Ia harus bersirkulasi secara adil agar keseimbangan sosial terjaga. Ketika kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang, yang lahir bukan hanya kesenjangan, tetapi juga kerentanan sosial.

Ramadhan: Ritual atau Koreksi Struktur?

Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah latihan meruntuhkan egoisme. Lapar yang dirasakan orang beriman seharusnya melahirkan empati yang bertransformasi menjadi tindakan struktural. Zakat, infak, dan sedekah bukan ornamen musiman, melainkan instrumen distribusi kekayaan.

Dalam perspektif maqashid syariah, distribusi berkaitan erat dengan hifz al-mal (menjaga harta) dan penegakan keadilan. Harta dijaga bukan dengan menimbunnya, tetapi dengan mengalirkannya pada sektor yang produktif dan maslahat. Ketimpangan ekstrem justru bertentangan dengan tujuan syariah karena merusak stabilitas sosial.

Kritik Moral: Al-Ghazali

Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, khususnya pada Kitab Dzamm al-Dunya dan Adab al-Kasb, Al-Ghazali mengingatkan bahwa akar ketimpangan sering kali berawal dari dominasi cinta dunia:

“حبُّ الدُّنيا رأسُ كلِّ خطيئةٍ.”
(Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.)

Beliau juga menegaskan:

“المال خادمٌ لا مخدومٌ، فمن جعله مخدوماً فقد هلك.”
(Harta itu pelayan, bukan tuan. Siapa yang menjadikannya tuan, maka ia binasa.)

Ketika harta berubah menjadi “tuan”, lahirlah kerakusan, monopoli, dan penumpukan kekayaan. Puasa hadir untuk mematahkan dominasi itu. Ia menata ulang relasi manusia dengan harta: dari penghambaan menjadi pengendalian.

Analisis Struktural: Ibn Khaldun

Jika Al-Ghazali berbicara pada level moral, maka Ibn Khaldun dalam Al-Muqaddimah menunjukkan dampak strukturalnya. Ia menjelaskan bahwa ketidakadilan ekonomi dan beban yang menekan rakyat akan melemahkan produktivitas serta mempercepat kemunduran peradaban.

Ketika kekayaan menumpuk pada segelintir elite, daya beli masyarakat melemah, solidaritas sosial terkikis, dan fondasi ekonomi rapuh. Distribusi bukan sekadar tuntutan etis, tetapi syarat keberlanjutan peradaban.

Dimensi Kebijakan: Abu Yusuf

Lebih awal lagi, Abu Yusuf dalam Kitab al-Kharaj menasihati khalifah agar kebijakan fiskal tidak menindas rakyat dan memastikan distribusi berjalan adil. Kesejahteraan umum adalah tanggung jawab negara.

Tradisi klasik Islam menunjukkan bahwa keadilan distribusi bukan sekadar urusan individu saleh, tetapi mandat kebijakan publik. Negara dan institusi zakat harus hadir secara sistemik.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum koreksi distribusi. Zakat tidak boleh berhenti pada pembagian sembako tahunan. Ia perlu dikelola secara profesional dan produktif: pembiayaan usaha mikro, pelatihan keterampilan, penguatan UMKM, hingga pemberdayaan mustahik agar bertransformasi menjadi muzakki.

Dari karitatif menuju transformatif. Dari simbolik menuju struktural.

Puasa menata hati dari keserakahan. Distribusi menata masyarakat dari ketimpangan. Jika keduanya berjalan beriringan, Ramadhan menjadi kekuatan sosial yang dahsyat. Namun jika distribusi hanya simbolik, spiritualitas berisiko menjadi seremonial.

Ramadhan menantang kita: apakah harta hanya berputar dalam lingkar kenyamanan kita, ataukah ia menggerakkan roda ekonomi mereka yang tertinggal?

Spiritualitas tanpa distribusi adalah kesalehan yang sunyi dari keadilan. Dan Ramadhan, sejatinya, datang bukan hanya untuk menyucikan jiwa—tetapi juga untuk menata ulang wajah ekonomi umat.

Oleh: Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I (Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura)

- Advertisement -
Share This Article