Zita Anjani, Starbucks di Mekkah dan Kopi Pahit Politik

Rasyiqi
By Rasyiqi
3 Min Read
(Tangkap layar Instagram @zitaanjani) oleh Tribun

Zita Anjani, seorang politikus muda yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Partai Amanat Nasional, telah menjadi sorotan publik karena sebuah insiden yang cukup kontroversial.

Sebagai anak dari Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, Zita tampaknya telah memanfaatkan posisinya untuk mempromosikan dirinya sendiri dan, yang lebih buruk lagi, sebuah merek kopi internasional, Starbucks.

Pertanyaannya adalah, apakah Zita benar-benar ingin memamerkan ibadahnya, atau apakah dia hanya ingin mendukung Starbucks? Atau mungkin dia pro-Israel? Jika demikian, untuk apa?

Apakah ini hanya upaya untuk mendapatkan lebih banyak pengikut di media sosial, atau apakah ada motif lain di balik tindakannya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat hubungan antara Starbucks dan Israel. Starbucks, sebuah perusahaan kopi internasional, tidak pernah berhasil di Israel.

Ada banyak teori konspirasi tentang mengapa ini terjadi, tetapi fakta yang jelas adalah bahwa Starbucks tidak memiliki kehadiran di Tanah Suci

Dengan mempertimbangkan fakta-fakta ini, tampaknya Zita mungkin telah menggunakan posisinya sebagai politikus untuk mempromosikan Starbucks, sebuah perusahaan yang tidak memiliki hubungan baik dengan Israel.

Ini bisa dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap Israel, yang tentunya akan menimbulkan kontroversi di Indonesia, sebuah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Namun, jika kita melihat lebih dekat, mungkin ada alasan lain mengapa Zita memilih untuk mempromosikan Starbucks.

Mungkin dia melihat ini sebagai peluang untuk menunjukkan bahwa dia adalah politikus muda yang modern dan progresif, yang tidak takut untuk melanggar norma-norma tradisional.

Atau mungkin dia hanya mencoba untuk menarik perhatian publik dan media.?

Apapun alasannya, satu hal yang jelas adalah bahwa tindakan Zita telah menimbulkan banyak pertanyaan dan kontroversi.

Sebagai politikus, dia seharusnya tahu bahwa tindakannya akan diteliti oleh publik dan media.

Oleh karena itu, dia harus lebih berhati-hati dalam memilih cara dia mempromosikan dirinya sendiri dan merek lainnya.

Namun, pada akhirnya, kita semua harus ingat bahwa politikus adalah manusia juga, dan mereka bisa membuat kesalahan.

Yang penting adalah bagaimana mereka merespons kesalahan tersebut dan apa yang mereka pelajari dari pengalaman tersebut.

Semoga Zita Anjani dapat belajar dari insiden ini dan menjadi politikus yang lebih baik dan lebih bijaksana di masa depan.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article