Santri News, Tolong Sampaikan Pada Nia Kurnia Fauzi

jfid By jfid
6 Min Read
Nia Kurnia Fauzi, Foto: Koran Madura

jf.id – Awalnya saya tidak percaya, bahwa tingkat literasi masyarakat memiliki hubungan yang vertikal terhadap kualitas bangsa. Sedikitnya, literasi baca-tulis, misalnya. Jika umumnya selama ini anda hanya melihat wakil rakyat atau para pejabat sering nongol dalam pemberitaan kawan-kawan jurnalis, ini agak berbeda. Sebuah tulisan tayang dalam situs santrinews.com, berjudul Ajari Saya Menulis Kejujuran, Jurnalis! tayang pada 3 Januari 2020 dan tulisan Menulis itu Butuh Hati, tayang pada 31 Desember 2019, pukul 13.00.

Mungkin pembaca masih menerka-nerka, tulisan itu tentang apa sih, tulisan itu untuk siapa sih. Asli, tulisan tersebut satir, dan tulisan satir itu karya yang membutuhkan kreativitas berlebih. Tidak semua orang bisa menulis dengan gaya satir, kecuali telah melewati proses kreatifitas kepenulisan yang konsisten. Tulisan tersebut, bukan tulisan Gunawan Muhammad, bukan tulisan Mahbub Junaidi, tapi tulisan Nia Kurnia, istri Wakil Bupati yang kini menjabat sebagai wakil rakyat daerah komisi IV Sumenep.

Ya, dialah penulis itu dan saya pertama kalinya membaca tulisan beliau yang bikin ketagihan. Bagaimana tidak, saya tipe orang yang mudah jatuh cinta kepada perempuan karena tulisannya. Walaupun saya bukan penulis, tapi saya dilahirkan di kota yang melahirkan banyak penulis; Sumenep. Saya lama merantau (kuliah) di luar kota dan jujur, saya baru kenal dengan Nia Kurnia, saya kira masih remaja. Maaf.

Ceritanya, saat mendapati sebaran link dari salah satu grup WhatsApp, saya baca membacanya dengan seksama. Saya memperhatikan diksi dan permainan semiotik yang lihai penulis mainkan. Dan saya penasaran, buka tab baru di mesin pencarian Chrome mencari penulis bernama Nia Kurnia, dengan maksud membaca tulisannya yang lain.

Saya dibuat kecewa, dengan Santrinews.com. Tulisan yang ditulis Nia Kurnia berjudul Menulis itu Butuh Hati terbit lagi dengan judul yang berbeda. Isinya sama, hanya ganti prolog dan diganti judulnya. Hemat saya, jika itu tanpa izin Nia Kurnia Santrinews telah lancang mengubah judul.

Tapi tak apa, aku tersenyum, “Ini anggota dewan, cantik, pinter nulis lagi, benar-benar idaman,” ujar dalam benakku saat itu. Harapan saya pupus, tapi saya menikmati tulisannya.

Waktu berlalu, dan di suatu waktu, sambil berselancar di internet membaca kabar-kabar terbaru tentang Sumenep. Seakan-akan ada yang masuk ke kepala, sesuatu klik muncul tiba-tiba. Maklum, saya baru adaptasi dengan atmosfer Sumenep. Saat itu, saya sedang berada di salah satu kafe, sedang diskusi dengan seorang Seniman Sumenep, Mahendra Cipta. Pembicaraan yang awalnya berputar-putar di topik Sastra, masuk ke topik Pilkada lalu ke tulisan itu.

“Bagaimana dengan tulisan ini?,” tanya saya, sembari menyodorkan laman tulisan tersebut.

“Apa ini,?” tanya dia.

“Tulisan istri wabup, keren juga, satir banget,” jawab saya menggunakan bahasa Indonesia dicampur Madura.

“Benar tulisan dia?,” tanyanya skeptis.

Insting saya bekerja, iya juga ya. Tulisan tersebut mungkin tidak ditulis sendiri oleh Nia. Bagi saya, tulisan itu satu-satunya yang dapat ditemukan dalam rekam jejak digital. Aneh, jika tiba-tiba penulis pemula, mendadak ‘cantik’ dengan tulisannya. Pengendara biasa, tiba-tiba balapan di sirkuit. Naif, jika tulisan itu sebenarnya pesanan, masih dugaan saya.

Saya tidak menuduh, maaf loh ya. Hanya curiga. Nia yang katanya hobi memasak dan main badminton itu memilih diksi ‘ring tinju’. Itu semiotik banget, ibu. Tentu saya mau belajar menulis satir dari Nia Kurnia. Boleh kah?

Tulisan sebenarnya ditujukan pada Deni Puja Pranata, pimpinan redaksi jurnalfaktual.id yang beberapa waktu lalu memberitakan dirinya tentang hari ibu, dibalas dengan tulisan satir adalah sikap yang ‘jantan’. Dan redaksi kemudian meralat berita tersebut, dan meminta maaf kepada publik atas berita yang bersifat gonzo (Gonzo Jurnalism) atau New Jurnalism atau opinion jurnalism.

Deni Puja Pranata, sastrawan yang kini berprofesi sebagai jurnalis mengaku kagum dengan tulisan Nia Kurnia. Jika sempat, Deni akan berguru padanya, “hebat pak tulisannya, saya mau berguru,” tuturnya.

Dalam dunia literasi apalagi dalam dunia pers, undang-undang menjamin kebebasan berpendapat. Apabila terdapat kekeliruan dalam berita, maka gunakan hak koreksi dan hak jawab. Dan saya tidak jadi jatuh cinta pada Nia, selain karena sudah dipersunting Ahmad Fauzi, saya tetap curiga bukan tulisan dia. Entah, kecurigaan itu seperti menjadi keyakinan bagi diri sendiri. Semoga salah.

Dibalik semoga itu, pun harus dibuktikan. Misalnya menjadi kontributor berkala di jurnalfaktual.id. Jurnalfaktual.id sebagai ruang publik siap menampung, gratis. Atau, adakan seminar atau workshop kepenulisan bagi anak muda dan kaum hawa. Itung-itung pemberdayaan dan pendidikan kepada masyarakat.

Dibalik semoga, kalau benar tulisan pesanan, itu seperti shadow government. Terlalu ceroboh dan cerobong. Maaf ibu. Mungkin ibu berpikir tulisan ini pesanan tuan DN. Saya memang bagian dari redaksi, tapi ini opini pribadi. Demi kemajuan literasi, seperti pembuka tulisan saya di atas.

Share This Article