Pulau Komodo ‘Dijual’?, Dilema Antara Investasi atau Invasi

Rasyiqi
By Rasyiqi
4 Min Read

jfid – Pulau Komodo, rumah bagi spesies Komodo yang langka dan terancam punah, telah menjadi subjek perdebatan dan kontroversi yang sengit dalam beberapa tahun terakhir. Dikenal sebagai “Pulau Naga”, Pulau Komodo adalah bagian dari Taman Nasional Komodo, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Penduduk lokal Pulau Komodo telah mengalami serangkaian perubahan ekonomi dan sosial yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Awalnya, mereka adalah komunitas nelayan yang hidup berdampingan dengan Komodo.

Namun, ketika Pulau Komodo dijadikan cagar alam untuk melindungi Komodo, penduduk lokal dilarang berburu rusa, makanan utama Komodo. Sebagai gantinya, mereka memindahkan rumah mereka ke pesisir dan menjadi nelayan.

Namun, mereka kemudian dilarang mencari ikan di laut karena lautnya dijadikan taman nasional untuk melindungi lingkungan laut. Sebagai alternatif, sebagian penduduk lokal beralih ke sektor pariwisata. Beberapa di antaranya menjadi pemandu wisata atau penjual souvenir.

Pada tahun 2019, pemerintah Indonesia mengumumkan rencana untuk mengembangkan Pulau Komodo menjadi destinasi wisata super premium. Rencana ini mencakup pembangunan fasilitas wisata mewah dan peningkatan tarif masuk.

Namun, rencana ini telah menimbulkan kekhawatiran dan protes dari penduduk lokal dan aktivis lingkungan. Mereka khawatir bahwa pembangunan tersebut akan merusak habitat Komodo dan mengubah gaya hidup mereka.

Selama proses pembangunan fasilitas wisata premium, Pulau Komodo ditutup dari kunjungan wisatawan selama 1 tahun. Penduduk lokal dipaksa untuk libur selama periode ini.

Setelah pembangunan selesai, penduduk lokal yang telah hidup di Pulau Komodo selama berabad-abad harus pindah dari tempat tinggal mereka.

Namun, Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina menegaskan, tidak ada rencana memindahkan desa atau kampung masyarakat di Pulau Komodo untuk pengembangan kawasan wisata di Taman Nasional (TN) Komodo.

Setelah penduduk lokal pergi, Pulau Komodo akhirnya diserahkan kepada para investor atau pengembang wisata yang mendominasi proyek tersebut. Ini menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang benar-benar mendapatkan manfaat dari pembangunan ini dan apakah ini benar-benar demi kepentingan konservasi atau hanya demi keuntungan ekonomi.

Pekerjaan dan mata pencaharian penduduk lokal terus berubah selama proses ini, menciptakan tantangan ekonomi dan sosial bagi mereka. Mereka harus beradaptasi dengan perubahan ekonomi dan sosial yang cepat dan sering kali merugikan.

Kasus Pulau Komodo menunjukkan betapa pentingnya melindungi hak-hak masyarakat lokal dan keadilan sosial dalam pengembangan pariwisata dan konservasi. Ini juga menunjukkan betapa pentingnya transparansi dan partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan.

Masyarakat lokal harus diberi suara dalam menentukan masa depan mereka dan habitat alam yang mereka cintai dan jaga. Mereka juga harus mendapatkan manfaat yang adil dari pengembangan pariwisata dan konservasi. Tanpa ini, kita mungkin akan melihat lebih banyak konflik dan ketidakadilan di masa depan.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article