Politik Identitas dan Kebencian: Ancaman Nyata yang Digambarkan dalam Film Criminal

Ummu Alvina By Ummu Alvina
4 Min Read
Politik Identitas dan Kebencian: Ancaman Nyata yang Digambarkan dalam Film Criminal
Politik Identitas dan Kebencian: Ancaman Nyata yang Digambarkan dalam Film Criminal

jfid – Film Criminal yang akan ditayangkan di Bioskop Trans TV pada Jumat, 15 Maret 2024, pukul 21.45 WIB, tidak hanya menawarkan ketegangan melalui aksi-aksi thriller tetapi juga menyoroti ancaman nyata dari politik identitas dan kebencian yang semakin marak dalam kehidupan modern.

Sinopsis dan Pengantar Film

Criminal adalah film bergenre aksi dan thriller yang dibintangi oleh Kevin Costner, Ryan Reynolds, Gal Gadot, dan Gary Oldman.

Ceritanya mengikuti kisah Bill Pope (Ryan Reynolds), seorang agen CIA yang tengah menjalankan misinya di London untuk melacak seorang hacker misterius bernama The Dutchman (Michael Pitt).

Saat Bill disergap dan tewas, informasi penting tentang The Dutchman terancam hilang.

Pihak CIA, dalam upaya menyelamatkan misi tersebut, memilih untuk mentransfer fungsi otak Bill ke seorang penjahat kejam bernama Jerico Stewart (Kevin Costner).

Keterlibatan Aktor dan Fakta Menarik

Ryan Reynolds, meskipun hanya berperan sebagai pemeran pendukung, menjadi tokoh kunci dalam plot film ini.

Menurut laporan, Reynolds hanya melakukan syuting selama empat hari.

Adegan operasi medis yang menunjukkan pemindahan fungsi otak tidak dilakukan oleh Reynolds sendiri, melainkan menggunakan boneka prostetik khusus.

Kevin Costner, yang memerankan Jerico Stewart, juga berperan sebagai sutradara untuk pengambilan gambar adegan bawah air karena adanya konflik penjadwalan dengan sutradara utama, Ariel Vromen.

Ini menambahkan dimensi unik dalam produksi film ini.

Politik Identitas dan Kebencian dalam Criminal

Film ini mengangkat tema besar tentang identitas, kebencian, dan transformasi. Dalam wawancaranya, sutradara Ariel Vromen menyatakan, “Film ini mencoba menggambarkan bagaimana identitas dan memori bisa menjadi alat kekuasaan yang berbahaya jika disalahgunakan.

Jerico Stewart, meskipun seorang penjahat, menjadi simbol bagaimana politik identitas bisa mempengaruhi seseorang.”

Menurut Gary Oldman, yang berperan sebagai Quaker Wells, kepala operasi CIA, “Kami ingin menunjukkan bahwa di balik semua aksi dan ketegangan, ada pesan penting tentang bagaimana kebencian dan manipulasi identitas bisa menghancurkan seseorang dari dalam. Jerico harus menghadapi tidak hanya musuh eksternal tetapi juga perang batin yang muncul dari ingatan dan identitas yang tidak sepenuhnya miliknya.”

Menariknya, penayangan Criminal ini bertepatan dengan meningkatnya diskusi publik tentang politik identitas dan kebencian di berbagai belahan dunia.

Dengan pemilu yang semakin dekat di beberapa negara, tema yang diangkat dalam film ini menjadi relevan dan menimbulkan diskusi lebih lanjut tentang bagaimana politik identitas dapat mempengaruhi individu dan masyarakat.

Sutradara Ariel Vromen menyimpulkan, “Dalam dunia yang semakin terpecah belah, film ini adalah pengingat akan bahaya dari kebencian dan bagaimana kita harus melawan pengaruh negatif politik identitas.”

Kesimpulan

Film Criminal bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga refleksi mendalam tentang isu-isu sosial yang relevan.

Penonton akan dibawa pada perjalanan emosional dan intelektual yang menantang, mempertanyakan batas antara identitas pribadi dan memori kolektif dalam era modern yang penuh dengan politik identitas dan kebencian.

Jangan lewatkan penayangan perdana di Bioskop Trans TV dan saksikan bagaimana kisah ini berujung.

Share This Article