Petani Tembakau Tepuk Jidat, Pengusaha Batu Bata Tepuk Tangan

Syahril Abdillah By Syahril Abdillah
4 Min Read
Para pekerja pengrajin batu bata di Lombok Tengah (Foto: Muh Riswan)
Para pekerja pengrajin batu bata di Lombok Tengah (Foto: Muh Riswan)

Lombok Tengah,- Situasi musim kemarau panjang yang melanda Lombok Tengah, membuat beberapa sektor, terutama sektor pertanian menjadi isu sentris. Mengapa tidak, sebab kemarau menyebabkan debit air yang tersedia di Lombok Tengah menipis yang mengakibatkan tumbuhan dan tanaman yang semula berwarna hijau, berubah menjadi warna kuning kecoklatan dan kering.

Di Lombok Tengah bagian selatan, tempatnya di Kecamatan Praya Barat, Petani Tembakau seperti dal keadaan yang kurang beruntung, betapa tidak, harga tembakau mereka hanya Rp. 140.000;00/ Kwintal, sedangkan biaya perawatan tembakau saja tidak sebanding dengan harga jual.


“modal utama kami persiapkan sekitar 10 juta lebih, itu hanya dihabiskan pas pembibitan, belum lagi perawatan lainnya, mengenai penghasilan, kalau tahun kemarin, harga tembakau tembus dalam angka RP. 250.000;00/Kwintal, sedangkan sekarang merosot jauh dari harapan yang hanya berkisar RP. 140.000;00/kwintal, belum lagi regulasi PT. Tempat kami distribusikan tembakau yang dibatasi, belum lagi kami membayar buruh tembakau yang dulu pihak PT. Yang menanggungnya, dan kalau sekarang, kita yang tanggung”. Keluh Hasyim, Petani Tembakau di Desa Mangkung, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah.

Harus diakui bahwa petani tembakau di Lombok Tengah menjerit kerugian yang berlipat, sebab tembakau pada tahun 2019 tidak bisa dibeli dengan layak seperti tahun-tahun sebelumnya. Sehingga para petani tembakau merasa frustasi dengan mengolah sendiri di rumah masing-masing menjadi tembakau giling.


“frustasi ya frustasi dengan keadaan, sebagai alternative nya, kami giling di rumah atau bisa saja kami buang sebab sudah terlalu lama disimpan” lanjut Hasyim.

Berbanding terbalik dengan pengusaha batu bata. Pengusaha batu bata mempunyai kenikmatan tersendiri dalam memproduksi hasil usahanya.

“enaknya kita kalau memproduksi batu bata, yakni masalah harga dan efisiensi waktu pembuatan batu bata nya, sehari kami biasanya memproduksi tiga (3) sampai empat (4) ribu batu bata mentah, harga batu bata yang sudah ready di jual berkisar di angka Rp. 850.000;00 bersih tidak ada potongan” ungkap Ali alias Amak Paza, pengusaha batu bata.

Batu bata memang pada musim ini mempunyai prospek yang menjanjikan, sebab perbandingan antara kerugian dan keuntungan, lebih banyak keuntungan daripada kerugiannya.


“ruginya kita hanya waktu, sebab dalam proses pembuatan batu bata, waktu yang dibutuhkan untuk membakar batu bata yang masih mentah, memerlukan satu (1) bulan untuk mencapai target produksi, saya biasanya membakar batu bata yang mentah jika sudah mencapai target 25.000 batu bata, dan dalam satu kali pembelian biasanya kami memperoleh Rp. 11.000.000;00 bersih” tutur Ali.

Fakta demikian memang betul adanya, sebab dua usaha masyarakat Lombok Tengah ini tergolong sama dalam konteks waktu pelaksanaannya yakni musim kemarau, namun berbeda penghasilan.

Diakui bahwa pengusaha tembakau pada tahun ini mengalami kerugian dan mengeluh keadaan, disebabkan regulasi dan harga per kwintalnya tidak sebanding dengan modal yang dipersiapkan petani “tepuk jidat”, sedangkan pengusaha batu bata mendapatkan barokah atas apa yang menjadi usahanya “tepuk tangan”

Laporan: Muh Rizwan

Share This Article