Kolaborasi NCT-Starbucks: Boikot Penggemar, Jutaan Followers Kabur, dan Seruan Leader NCT

ZAJ By ZAJ
5 Min Read
Boikot Starbucks, Taeyong NCT Buka Suara
Boikot Starbucks, Taeyong NCT Buka Suara

jfid – Jakarta – Kabar mengejutkan datang dari dunia K-Pop, terutama bagi penggemar boyband Korea, NCT.

Setelah diumumkan secara resmi kolaborasi antara NCT dan Starbucks, jutaan pengikut NCT di berbagai platform media sosial memilih untuk berhenti mengikuti akun resmi grup tersebut.

Penurunan ini terjadi akibat reaksi negatif dari penggemar yang menolak kolaborasi tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi?

Kolaborasi yang Kontroversial

Pada awal bulan ini, NCT mengumumkan kolaborasi mereka dengan Starbucks, termasuk peluncuran berbagai merchandise eksklusif. Kolaborasi ini, yang seharusnya menjadi momen bahagia bagi penggemar dan grup, justru menjadi pemicu kontroversi.

Banyak penggemar NCT di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, bereaksi keras terhadap kerja sama ini. Mereka memprotes bahwa langkah ini tidak sensitif terhadap isu politik global, khususnya terkait konflik Palestina dan Israel.

Penggemar menilai Starbucks sebagai perusahaan yang dianggap memiliki posisi yang lebih memihak pada Israel dalam konflik tersebut.

Alhasil, banyak penggemar yang merasa kecewa dan memutuskan untuk memboikot segala aktivitas yang berkaitan dengan kolaborasi ini.

Mereka menggunakan media sosial untuk menyuarakan ketidaksetujuan mereka, termasuk menggunakan tagar #SM_BOYCOTT_GENOCIDE dan #SM__ di platform X (dulu Twitter).

Pengaruh Besar pada Media Sosial

Sebagai akibat langsung dari protes ini, akun Instagram NCT 127, NCT DREAM, dan WayV mengalami penurunan jumlah pengikut secara signifikan.

Dilaporkan bahwa masing-masing akun kehilangan sekitar 500 ribu pengikut, sehingga total pengikut yang hilang dari seluruh unit NCT mencapai lebih dari 8 juta.

Penurunan ini tentu menjadi perhatian besar, mengingat media sosial adalah salah satu platform utama bagi idol K-Pop untuk berinteraksi dengan penggemar dan mempromosikan kegiatan mereka.

Kehilangan jutaan pengikut dalam waktu singkat menunjukkan betapa seriusnya reaksi penggemar terhadap keputusan kolaborasi ini.

Tanggapan dari Lee Taeyong

Leader NCT, Lee Taeyong, tidak tinggal diam melihat gejolak yang terjadi. Melalui Instagram Story-nya, Taeyong menyoroti kolaborasi tersebut dan menyuarakan seruan boikot.

Sikap Taeyong ini menunjukkan bahwa bahkan anggota grup pun memahami dan merasakan tekanan dari penggemar terkait kolaborasi tersebut.

Walau tidak menyebutkan secara spesifik, unggahan Taeyong dipandang sebagai bentuk solidaritas dengan penggemar yang kecewa.

Reaksi Penggemar di Indonesia

Penggemar NCT di Indonesia termasuk yang paling vokal dalam menolak kolaborasi ini. Mereka tidak hanya berhenti mengikuti akun media sosial grup, tetapi juga mengorganisir kampanye online untuk menekan SM Entertainment, agensi yang menaungi NCT.

Tagar #SM_BOYCOTT_GENOCIDE dan #SM__ menjadi trending topic di Indonesia, menandakan kuatnya perlawanan dari penggemar lokal terhadap keputusan kolaborasi ini.

Beberapa penggemar mengungkapkan bahwa tindakan mereka didasari oleh rasa solidaritas terhadap perjuangan Palestina dan kekecewaan terhadap perusahaan yang dianggap tidak peka terhadap isu tersebut.

Mereka berharap dengan langkah boikot ini, SM Entertainment dapat menyadari dampak keputusan mereka dan mengambil tindakan yang lebih bijak di masa depan.

Dampak dan Masa Depan Kolaborasi

Kolaborasi antara NCT dan Starbucks yang awalnya dimaksudkan untuk memperkuat brand image dan menawarkan sesuatu yang baru bagi penggemar kini berubah menjadi krisis hubungan publik.

Reaksi negatif dan penurunan jumlah pengikut media sosial adalah tanda bahwa keputusan ini mungkin memerlukan evaluasi ulang.

SM Entertainment sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait penurunan jumlah pengikut dan seruan boikot dari penggemar.

Namun, jika tekanan dari penggemar terus berlanjut, ada kemungkinan bahwa agensi tersebut harus mempertimbangkan kembali strategi kolaborasi mereka di masa mendatang.

Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana keputusan bisnis dapat berdampak besar pada hubungan dengan penggemar.

Dalam era digital ini, di mana suara penggemar bisa dengan cepat terdengar luas, perusahaan dan artis perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi citra mereka.

Penutup

Kolaborasi antara NCT dan Starbucks yang awalnya diharapkan menjadi proyek yang menguntungkan kini menjadi topik kontroversial yang menuai banyak kritik. Respon negatif dari penggemar, termasuk hilangnya jutaan pengikut di media sosial, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh penggemar dalam dunia K-Pop.

Tanggapan dari Lee Taeyong dan kampanye boikot dari penggemar Indonesia memperlihatkan solidaritas dan kesadaran sosial yang tinggi. Bagaimana kelanjutan dari kolaborasi ini?

Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi yang pasti, NCT dan SM Entertainment harus belajar dari kejadian ini untuk membuat keputusan yang lebih bijak di masa depan.

TAGGED:
Share This Article