Israel Terbelah: Ratusan Militer Mundur Jelang Invasi ke Gaza

Rasyiqi By Rasyiqi - Writer, Digital Marketer
7 Min Read
Perdamaian Palsu? Implikasi Normalisasi Arab Israel Bagi Palestina
Perdamaian Palsu? Implikasi Normalisasi Arab Israel Bagi Palestina

jfid – Israel sedang menghadapi krisis internal yang mengancam rencana invasi ke Jalur Gaza. Sebanyak empat komandan tinggi dan dua ratus pilot dan staf Angkatan Udara Israel telah menarik diri dari pangkalan militernya, menolak untuk terlibat dalam operasi yang mereka anggap tidak bermoral dan berbahaya.

Keputusan mendadak ini mengejutkan pemerintah Israel, yang telah memerintahkan militer untuk bersiap-siap untuk memasuki Gaza dengan pasukan darat, setelah melakukan serangan udara yang mematikan selama lebih dari sepekan.

Apa yang menyebabkan mundurnya ratusan militer Israel? Apa dampaknya bagi situasi di Gaza? Dan apa tanggapan dari dunia internasional?

Motivasi Moral dan Strategis

Menurut sumber-sumber yang dekat dengan para pengundur diri, ada dua alasan utama yang mendorong mereka untuk mengambil langkah drastis ini: moral dan strategis.

Dari segi moral, banyak di antara mereka yang merasa tidak nyaman dengan tindakan Israel yang menargetkan warga sipil Palestina, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia. Mereka juga khawatir dengan dampak psikologis dan hukum dari perang yang tidak adil ini.

Salah satu pilot yang mundur, yang hanya mau disebut sebagai Yossi, mengatakan bahwa dia tidak bisa lagi melihat dirinya di cermin setelah membombardir rumah-rumah dan sekolah-sekolah di Gaza.

“Saya sudah bertugas di Angkatan Udara selama sepuluh tahun, dan saya bangga menjadi bagian dari pertahanan Israel. Tapi saya tidak bisa menerima apa yang kami lakukan sekarang. Kami membunuh orang-orang tak berdosa tanpa alasan yang jelas. Kami melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia. Kami membuat musuh baru setiap hari. Saya tidak mau menjadi bagian dari kejahatan ini,” katanya.

Yossi juga mengaku bahwa dia mendapat tekanan dari keluarganya, terutama istrinya, yang khawatir dengan keselamatannya dan reputasinya.

“Istri saya adalah seorang guru di sekolah dasar. Dia sering mendengar anak-anaknya menanyakan tentang perang di Gaza, dan dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia takut bahwa suatu hari nanti, salah satu dari anak-anak itu akan menuduh saya sebagai pembunuh. Dia juga takut bahwa saya akan terluka atau tewas dalam pertempuran. Dia memohon saya untuk berhenti, dan saya akhirnya setuju,” ujarnya.

Dari segi strategis, banyak di antara mereka yang meragukan kebijakan pemerintah Israel yang ingin melakukan invasi darat ke Gaza. Mereka menilai bahwa operasi tersebut akan berisiko tinggi dan tidak efektif dalam menghentikan roket-roket Hamas.

Salah satu komandan yang mundur, yang hanya mau disebut sebagai David, mengatakan bahwa dia tidak percaya dengan rencana invasi yang disusun oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Benny Gantz.

“Saya sudah bertugas di Angkatan Darat selama dua puluh tahun, dan saya tahu betul medan perang di Gaza. Ini adalah neraka di bumi. Hamas telah mempersiapkan pertahanan yang tangguh, termasuk terowongan bawah tanah, ranjau darat, sniper, dan roket anti-tank. Jika kami masuk ke sana, kami akan menghadapi perlawanan sengit dan korban besar-besaran. Saya tidak mau mengorbankan nyawa anak buah saya untuk operasi bodoh ini,” katanya.

David juga mengkritik sikap Netanyahu dan Gantz, yang ia anggap sebagai pemimpin politik yang tidak kompeten dan oportunis.

“Netanyahu dan Gantz adalah dua orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan ini. Mereka tidak memiliki visi dan rencana yang jelas untuk menyelesaikan konflik ini. Mereka hanya ingin memanfaatkan perang ini untuk kepentingan politik mereka sendiri. Netanyahu ingin mengalihkan perhatian dari kasus korupsi yang menjeratnya, sementara Gantz ingin menunjukkan bahwa dia lebih kuat dari Netanyahu. Mereka tidak peduli dengan nasib rakyat Israel dan Palestina. Mereka adalah pemimpin yang tidak layak,” ujarnya.

Dampak bagi Situasi di Gaza

Mundurnya ratusan militer Israel tentu saja berdampak besar bagi situasi di Gaza, baik bagi Israel maupun Palestina.

Bagi Israel, mundurnya ratusan militer menunjukkan adanya ketidakpuasan dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan militer. Hal ini juga mengurangi kekuatan dan moral pasukan Israel, yang kini harus menghadapi tantangan lebih besar dalam melancarkan serangan ke Gaza.

Bagi Palestina, mundurnya ratusan militer Israel merupakan kabar baik dan harapan baru. Hal ini menunjukkan adanya retak dan perpecahan di dalam tubuh Israel, yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat perlawanan dan solidaritas. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi dunia internasional untuk menekan Israel agar menghentikan agresinya dan menghormati hak-hak rakyat Palestina.

Tanggapan dari Dunia Internasional

Mundurnya ratusan militer Israel juga mendapat tanggapan dari berbagai pihak di dunia internasional, baik yang mendukung maupun yang menentang Israel.

Pihak yang mendukung Israel, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Arab Saudi, mengatakan bahwa mereka tetap berkomitmen untuk membantu Israel dalam menghadapi ancaman terorisme dari Hamas. Mereka juga mengatakan bahwa mereka menghormati hak setiap individu untuk memilih apakah mau bertugas atau tidak.

Pihak yang menentang Israel, seperti Iran, Turki, dan Rusia, mengatakan bahwa mundurnya ratusan militer Israel adalah bukti bahwa Israel telah kehilangan legitimasi dan dukungan dari rakyatnya sendiri. Mereka juga mengatakan bahwa ini adalah kesempatan bagi dunia untuk mengakhiri pendudukan dan penindasan Israel terhadap Palestina.

Sementara itu, PBB, Uni Eropa, dan sejumlah negara netral, mengatakan bahwa mereka prihatin dengan eskalasi kekerasan di Gaza, dan mendesak kedua belah pihak untuk menghentikan serangan dan kembali ke meja perundingan. Mereka juga mengatakan bahwa mereka siap membantu upaya kemanusiaan dan perdamaian di kawasan tersebut.

Penutup

Mundurnya ratusan militer Israel adalah sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam sejarah konflik Israel-Palestina. Hal ini menunjukkan adanya perubahan paradigma dan sikap di kalangan masyarakat Israel, yang mulai menyadari dampak negatif dari perang yang tidak berkesudahan ini.

Apakah mundurnya ratusan militer Israel akan menjadi titik balik bagi penyelesaian konflik ini? Ataukah hanya menjadi episode sementara yang tidak berpengaruh banyak? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Share This Article