Islam Nusantara dan Kosmopolitanisme

Heru Harjo Hutomo
5 Min Read
"The Danied," 60x100 cm, kapur di atas Papan (Karya Heru Harjo Hutomo, 2020)
"The Danied," 60x100 cm, kapur di atas Papan (Karya Heru Harjo Hutomo, 2020)

jfID – Suatu kali saya ngobrol dengan dua keponakan saya, Satriaji dan Satrio, yang salah satunya baru lulus dari madrasah, sekedar mengingat beberapa pelajaran Mahfudzat yang dahulu saya suka, “Man jadda wa jada.” Dalam setiap kebudayaan tentu memiliki seni peribahasa (proverb) dan aforisme yang nyaris serupa sebagai salah satu bagian dari kesusastraannya. Peribahasa lazimnya merupakan kata-kata mutiara yang tak jelas siapa pengarangnya atau telah menjadi bagian dari kesusastraan rakyat yang bersifat warisan. Sementara aforisme adalah kata-kata mutiara yang diguratkan oleh penulis-penulis baru, bukan sebuah karya sastra rakyat yang bersifat warisan.

Dalam bidang filsafat Nietzsche adalah salah satu filosof yang memakai genre sastra ini untuk menuangkan pokok-pokok pikirannya. Wittgenstein pun, dalam Tractatus-Logico-Philosophicus, juga pernah melakukan hal yang sama. Sementara pada filosof kontemporer, Jacques Ranciere, juga pernah menggunakan gaya penulisan yang sama ketika membahas pemikiran politiknya yang nyleneh. Dalam khazanah sufisme, Ibn ‘Athaillah al-Sakandari tak luput pula untuk menorehkan gaya serupa dalam al-Hikam. Rumus umum kebahasaan menyatakan bahwa semakin sedikit kata-kata yang digunakan, maka akan semakin banyak makna yang dikandungnya.

Pada beberapa pemikir sekaligus sastrawan pendekatan aforistik semacam itu dianggap lebih efektif untuk melatih kemampuan berpikir sekaligus merasakan (baca: eksperiental). Setidaknya, dari durasi waktu, mengingat wataknya yang abstrak dan lebih musikal, tulisan-tulisan semacam itu akan bersifat abadi. Seperti yang saya alami sendiri. Dengan bentuk bahasa yang nyastra, ringkas, dan memiliki unsur musikal yang kental (tradisi lisan) seperti pada kasus peribahasa, orang akan dengan mudahnya mengingatnya meskipun telah lama melupakannya (Tentang “Kerata Basa”: Setelah “Pasa” lalu “Bada” dan “Kupatan”, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Di samping itu menulis dengan gaya yang abstrak tak urung juga menyingkapkan kesambungan dan kesinambungan berbagai kebudayaan berbeda yang ada. Dengan kata lain, peribahasa dan aforisme merupakan cerminan kemanusiaan yang dianggap bersifat universal yang paling kentara, tak mengenal batas ruang dan waktu. Taruhlah peribahasa “Man jadda wa jada” yang senafas dengan peribahasa Jawa “Jer basuki mawa bea,” sekaligus peribahasa Barat “No pain no gain.” Atau lagi peribahasa “Al-‘ilmu bilaa ‘amalin kasyajaratin bilaa tsamarin” yang ternyata senada pula dengan “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” (Gabah Den Interi: Antara yang Sampah dan yang Bertuah, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id/webdev).

Merambah pula pada tataran teologi dan spiritualitas, seandainya orang Katolik yang notabene besar di Barat mengenal tradisi Roh Kudus, maka para sufi dalam agama Islam mengenal pula yang namanya Ruh Idhafi sebagaimana orang Jawa dan kapitayan mengenal Atman ataupun Dewa Ruci (Ramadhan, Kebhinekaan, dan Kemanusiaan, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org).

Setali tiga uang pada tataran ideologi-politik, seandainya tradisi Katolik yang notabene besar di Barat mengenal teologi pembebasan, maka orang-orang Islam mengenal pula tradisi Islam kebangsaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh KH. Hasyim Asy’ari (Pancasila dalam Perspektif Islam Nusantara, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id/webdev), seperti halnya juga kalangan kapitayan dengan spiritualitas pembebasan Bima seusai menemukan Dewa Ruci (Akumu Adalah Jejer-mu: Wajah Lain Sufisme Nusantara, Heru Harjo Hutomo, https://www.idenera.com).

Berkesimpulan bahwa senantiasa terdapat kesambungan dan kesinambungan dalam berbagai kebudayaan yang berbeda tak lantas menyimpulkan bahwa mereka sama saja. Logika atau cara berpikir untuk memahami kesambungan dan kesinambungan agar tak terjatuh pada penyamarataan yang justru dapat melenyapkan keunikan dan autochthony ini adalah logika yang dikembangkan oleh Serat Wedhatama, logika gula dengan manisnya. Memang tak ada gula yang tak manis, tapi harus dimengerti bahwa yang manis ternyata tak hanya gula. Sebab, madu pun juga manis (Wedhatama dan “Kuluban” di Bulan Ramadhan, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

(Heru Harjo Hutomo/ penulis kolom, peneliti lepas, menggambar dan bermain musik)         

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email [email protected]

TAGGED:
Share This Article