Boikot Produk Israel: Peluang besar bagi UMKM Indonesia

ZAJ
By ZAJ
3 Min Read
Gerakan Boikot Produk Zionis Israel Lahir Dari Non Muslim?
Gerakan Boikot Produk Zionis Israel Lahir Dari Non Muslim?

jfidJakarta – Aksi boikot produk Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina yang terus diserukan di media sosial dan demonstrasi di berbagai negara menimbulkan berbagai reaksi. Di Indonesia, sejumlah perusahaan dan individu telah menyatakan dukungan terhadap gerakan boikot, divestasi, dan sanksi (BDS) yang bertujuan untuk menekan Israel agar mengakhiri pendudukan dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap rakyat Palestina.

Daftar produk yang diboikot mencakup merek-merek seperti kosmetik Ahava, Strauss, Keter, Tivall, Osem, Eden Spring, SodaStream, dan perusahaan internasional seperti McDonald’s, Nestle, Coca-Cola, Starbucks, HP, dan Puma, yang semuanya dianggap sebagai produk yang diboikot karena mendukung Israel. Namun, tidak semua produk Israel mudah untuk diboikot, terutama yang berkaitan dengan komponen-komponen penting atau suku cadang untuk pesawat besutan Airbus dan Boeing.

Di sisi lain, aksi boikot ini juga dianggap sebagai peluang untuk memajukan produk dalam negeri, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dapat menggantikan produk Israel di pasar Indonesia. Beberapa produk lokal yang dapat menjadi alternatif pengganti bagi produk Israel antara lain adalah Le Minerale dan Cleo untuk air minum dalam kemasan, J.Co Donuts & Coffee dan Burger Bangor untuk makanan cepat saji, dan Wardah dan Mustika Ratu untuk kosmetik.

Namun, apakah aksi boikot ini benar-benar berdampak terhadap perekonomian Israel dan memberikan manfaat bagi UMKM Indonesia? Menurut Yusuf Rendy, ekonom dari Center of Reform on Economics (Core), boikot produk yang terafiliasi Israel tidak banyak membantu UMKM lokal, karena secara keuntungan kedua produk ini sangat berbeda. Selain itu, perlu dilihat case by case karena tidak bisa menyetarakan produk yang diboikot dengan keuntungan yang bisa didapatkan secara tiba-tiba oleh UMKM tertentu.

Rendy juga mengatakan bahwa boikot produk Israel lebih merugikan ekonomi dalam negeri daripada melumpuhkan ekonomi Israel, karena Indonesia masih mengimpor barang-barang dari Israel senilai Rp 266 miliar pada tahun 2020, terutama untuk produk pertanian, perikanan, dan industri⁶. Sementara itu, Israel memiliki pasar ekspor yang luas di negara-negara lain, terutama Amerika Serikat dan Eropa, yang tidak terpengaruh oleh aksi boikot.

Oleh karena itu, Rendy menyarankan agar UMKM Indonesia tidak hanya mengandalkan aksi boikot sebagai strategi pemasaran, tetapi juga meningkatkan kualitas produk, inovasi, dan daya saing agar dapat bersaing dengan produk-produk lain di pasar global. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan dukungan dan fasilitas bagi UMKM, seperti kemudahan perizinan, bantuan modal, dan bimbingan manajemen, agar UMKM dapat berkembang dan berkontribusi bagi perekonomian nasional.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article