Paman Dhoplang

Heru Harjo Hutomo
5 Min Read

samono iku bêbasan

padu-padune kapengin

ênggih mêkotên man dhoplang

bênêr ingkang angarani

nanging sajroning batin

sajatine nyamut-nyamut

wis tuwa arêp apa

muhung mahas ing asêpi

supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma

Serat Kalatidha, R.Ng. Ronggawarsita 

jfID – Seseorang tiba-tiba memutuskan untuk menarik diri dari carut-marut keadaan dunia. Baginya pemerintahan sudah kehilangan fungsi. Sudah tak ada lagi yang laik diteladani. Segala sesuatu telah serendah tanah (kongas kasudranira). Meskipun rajanya raja utama dan para pejabat negaranya mumpuni, tapi setiap gegayuhan yang baik selalu berujung gagal. Kemarahan laksana sekam yang sudah berjejal, tinggal menunggu waktu untuk mubal, kemarahan yang beraneka macam, karena berlatarbelakang berbagai kepentingan.

Orang itu hanya dapat berkeluh-kesah, dengan sedikit nubuah. Satu-satunya kawan yang ia percayai untuk menerima keluh-kesahnya hanyalah Paman Dhoplang.

demikian ibaratnya

bermunafik ria

o, paman dhoplang

benarlah yang menuding

tapi dalam batin

sejatinya sangsi

sudah tua mau apa lagi

lebih baik bersunyi diri

agar dimaafkan Tuhan

Di masa silam orang itu pernah terlibat dalam keedanan zaman. Sebab baginya, kalau tak edan, tak akan kebagian dan menajadi kelaparanlah pada akhirnya. Demikianlah Serat Kalatidha (1931) yang merupakan salah satu karya Ronggawarsita yang paling dikenal oleh publik. Dalam karya itulah istilah “zaman edan” dinubuahkan. Saya tak akan mengupas karya ini kembali sebagaimana pada esai-esai terdahulu saya tentang diri dan karya-karya sang pujangga penutup Jawa tersebut. Dalam hal ini saya hanya tertarik pada sosok Paman Dhoplang yang menjadi pusat keluh-kesah si “aku” dalam bait-bait yang serat yang ditulis oleh jebolan pesantren Gebang Tinatar itu (Gebang Tinatar & Gelar Santri di Balik Nama Besar Ronggawarsita, Heru Harjo Hutomo, https://enis.id).  

Dalam Serat Kalatidha Paman Dhoplang tampak seperti sesosok orang utun, udik, yang jauh dari hingar-bingar perpolitikan atau pemerintahan. Saya membayangkannya sebagai seorang yang hidup di pedesaan, bercelana komprang hitam selutut, memakai caping, yang barangkali kebiasaannya sehari-hari hanyalah bagaimana mencukupi pangan. Angan dan ambisinya dibatasi oleh hamparan sawah dan keterpencilan desa. Karena tahunya hanya bagaimana mencukupi pangannya sehari-hari, barangkali, ia tak akan segelisah hingga berkeluhkesah laiknya si “aku” dalam bait-bait Serat Kalatidha.

Dalam karya yang ditulis pada masa pemerintahan PB VII itu Paman Dhoplang hanya dikenal namanya, tak ada yang tahu kiprahnya. Ia hanya hadir sebagai sosok yang diam, tanpa membantah, tanpa menyanggah, ataupun sok berhikmah. Barangkali, Paman Dhoplang memang bukan tukang hujah. Baginya hidup tampak sederhana, sekedar dijalani (amung sakderma nglampahi), seperti sudah digariskan, tanpa peduli untuk mempertanyakan.

Paman Dhoplang pun sama sekali tak menyuguhkan wejangan. Sebab, barangkali, orang yang gelisah ataupun orang yang marah hanyalah orang kesepian yang sekedar butuh didengarkan. Dalam diamnya, Paman Dhoplang hanyalah sepetak tanah di mana si “aku” dalam Serat Kalatidha dapat memetik buah-buah hikmah yang ia tanam sendiri. Dan benarlah Paman Dhoplang, dengan sikap diam dan mendengarkannya, si “aku” pun menemukan rumus untuk meruwat keruwetan hidupnya sendiri. Bahwa pada akhirnya, guru terbaik adalah diri sendiri—“murid gurune pribadi, guru muride pribadi.”  

beda lan kang wus santosa

kinarilan ing Hyang Widhi

satiba malanganea

tan susah ngupaya khasil

saking mangunah prapti

Pangeran paring pitulung

marga samaning titah

rupa sabarang pakolih

parandene maksih tabêri ihtiyar

sakadare linakonan

mung tumindak mara ati

anggêr tan dadi prakara

karana wirayat muni

ihtiyar iku yêkti

pamilihing rèh rahayu

sinambi budidaya

kanthi awas lawan eling

kang kaèsthi antuka marmaning Suksma

Entah pada akhirnya apa atau siapa Paman Dhoplang yang diacu dalam Serat Kalatidha, yang jelas makam Ronggawarsita terbaring di sebuah dusun yang terpencil dan dikelilingi hamparan sawah: Palar, Trucuk, Klaten. Terpisah dari ayahnya, Mas Pajangswara yang jasadnya entah raib ke mana, dan eyang terkasihnya, Yasadipura, di Pengging, Boyolali (Ronggawarsita, Palang Kebudayaan Jawa yang Terbuang, Heru Harjo Hutomo, https://www.berdikarionline.com).

(Heru Harjo Hutomo/ penulis kolom, peneliti lepas, menggambar dan bermain musik)     

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article