Membongkar 75 Puisi Ibnu Hajar

Deni Puja Pranata
9 Min Read

Membaca Puisi Ibnu Hajar, Seperti melihat daun yang jatuh dari ketinggian pohon 1000 kaki ke tanah.

jfID – Dari 75 Puisi yang dihimpun dalam antologi tunggal Ibnu Hajar, yang berjudul “Perempuan Kecil Pembawa Besi” (Penerbit Diva Press, Cetakan Juli, 2020). Buku setebal 112 halaman, dengan prolog yang diisi Joni Ariadinata, seperti menampar arus lalu-lintas Sastra di Madura.

Tepat 19 Juli 2020, di tangan saya, ada sebuah buku dengan sampul ungu, karya Ibnu Hajar. Dan hari itu, suara-suara penyair berkabung, dengan surat kabar memberitakan, Penyair Sapardi Djoko Damono telah wafat. Seperti pertanda, Entah.

Kematian puisi atau kebangkitan puisi? Terlebih dahulu, saya katakan, jika puisi adalah gagasan, puisi adalah ide, puisi adalah industri kreatif batin. Lebih sederhana lagi, puisi adalah puncak tertinggi dari kehidupan penyair. Puisi adalah kontemplasi batin dari berbagai rekaman kehidupan. Puisi adalah filosofis, puisi adalah sosiologis, puisi adalah kebenaran. Maka dari itu, puisi takkan pernah mati, walaupun banyak puisi menjadi sampah. Tapi puisi tak pernah mati.

Baik, sebagai pengantar. Kita perlu tahu, tinjauan sosiologis, bagaimana sebuah karya sastra tercipta. Teks bahasa tidak akan pernah bisa ada, jika manusia terealinasi dari sebuah lingkaran kehidupan.

Sebut saja manusia hutan, tak akan pernah bisa mencipta kidung, puisi, cerpen, esai, novel, baik manuskrip-manuskrip sastra.

Dialektika Ibnu Hajar dalam menghimpun 75 Puisi, tentu saja tidak bisa terlepas dari kehidupan kesehariannya. Bagaimana ia hidup? Bagaimana ia berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga? Bagaimana ia membesarkan Cinta (anak)? Dan teks tidak bisa menghindari hal itu.

Saya mengkonklusikan, jika Observasi pada keluarga Ibnu Hajar adalah sebuah Tesis dari kelahiran teks. Ia, tak kan bisa menghindar, walau berlari sekuat kuda sekalipun.

Dari 75 Puisi Ibnu Hajar, saya menangkap secara keseluruhan, jika genre yang dibangunnya adalah karya-karya roman.

Saya sedikit sepakat dengan apa yang dikatakan Joni Ariadinata, jika Ibnu Hajar lari dari kewajaran sebuah teks yang umum dibangun oleh para penyair-penyair Madura yang cenderung menggunakan simbol-simbol kewajaran.

“Ibnu Hajar telah memilih jalan panjang bagi kepenyairannya, bukan sebagai monster cinta dengan keliaran imajinasi yang banal dan keras,” Joni Ariadinata (paragraf kedua, halaman 4).

Metafor-metafor yang dibangun Ibnu Hajar dengan melankolis, membangun kecurigaan saya, jika si penyair tidak benar-benar mengalami kecelakaan atau benturan kesedihan. Sebagaimana pemain balet, Ibnu Hajar bergoyang-goyang dengan kata untuk menciptakan teks yang menimbulkan efek ekstetis. Sebagaimana puisi Lanskap Kesedihan;

Lanskap Kesedihan

bolehkah kulukis engkau di benteng kanvas mataku
sebelum senja mewarnai
dengan percik tembaga?

tak pernah ada lanskap kesedihan
dari penghianatan huruf-huruf berserakan
di trotoar jalan menuju rumahmu

para petualang itu selalu berkata
“cinta tak pernah salah, ia adalah pembenar resah”

dalam tidurmu
mimpi selalu tak punya warna
sedang kebahagiaan telah jauh

ternyata malam tak selalu bercerita tentang duka dan pagi adalah sisa pelukan yang tak pernah terjangkau

Ibnu Hajar

Sumenep 2010 (Hlm 25)

Judul puisi diatas, dalam perspektif terminologi Linguistik, menghilangkan unsur Leksikal. Ibnu Hajar memilih isi puisi yang memiliki sifat tetap. Artinya, kata Lanskap sendiri dalam sebuah Demografi, diartikan sebagai bentangan alam, keleluasaan, jika keleluasaan kesedihan, dan apakah kesedihan mendalam itu dengan nuansa melankolis?

Kenapa Ibnu Hajar, tak mengatakan, jika malam demi malam Helikopter tertanam dikepalanya. Atau di dadanya tersumbat truck puso.

Reduplikasi 5 paragraf puisi di atas yang bermakna kesedihan, tidak memiliki korelasi dengan keleluasaan judul Lanskap Kesedihan. Atau sebuah fase penciptaan puisi dalam Lanskap Kesedihan memiliki jenjang hari atau bulan dan tahun.

Semisal, Ibnu Hajar saat mengalami kesedihan mendalam, lalu menulis judul puisi Lanskap Kesedihan. Karena sedih yang mendalam, tidak bisa lagi menulis puisi. Dan beberapa hari, bulan atau tahun kemudian, Ibnu Hajar melanjutkan PR-PR yang masih belum selesai. Dan terjadi kecelakaan isi teks dengan judul.

Kompleksitas teks Ibnu Hajar tak memiliki bunyi dan penanda (semiotika) pemberontakan pada tema-tema romansa. Walaupun secara detail, Ibnu Hajar menunjukkan perhitungan matang untuk menyusun huruf-huruf menjadi kalimat estetik. Lebih tepatnya, Ibnu Hajar sebagai pewarna dari generasi keemasan Sapardi Djoko Damono dibanding Chairil Anwar yang gemar memberontak teks.

Puisi-puisi yang di konstruk Ibnu Hajar mencoba melompat pada sebuah gerakan gender. “Perempuan Kecil Pembawa Besi” ya, sebuah bentuk teks yang menegasikan pada kekuatan perempuan. Ia melakukan gerakan revolusi gender dalam puisi. Saya, ingin mengutip, gagasan seorang seniman tentang gender;

“Bukankah hanya seorang lelaki yang tahu kelemahan lelaki dalam rangka memberi ruang pada perempuan, sebagaimana feminisme Gayatri C. Spivak yang lahir dari rahim dekonstruksi Derrida? Dengan demikian, saya kira, tantangannya di sini adalah kapankah para perempuan benar-benar perempuan sejak dari titik-awal dimana ia bertolak? Maju terus dengan titik-tolak dan paradigma kelelakian atau mereinterpretasikan warisan sejarah yang tak dapat diidentifikasi sebagai lelaki maupun perempuan,” (Perempuan dalam Kacamata Islam Nusantara, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id/webdev).

Tentu ada hal yang menjadi spesial, kenapa memilih diksi perempuan kecil pembawa besi. Jika boleh saya menelisik, kehidupan Ibnu Hajar bergelut dengan dua perempuan. Yang pertama adalah seorang istri dan yang kedua, tentu bukan istri mudanya, melainkan buah hatinya (anak tunggal Ibnu Hajar).

Anak semata wayang Ibnu Hajar, yang memiliki jenis kelamin perempuan adalah motif besar dari sebuah diksi judul puisi yang dipilih menjadi judul buku (sebatas dugaan). Karena Silogisme puisi, takkan pernah bisa lari dari kenyataan-kenyataan hubungan batin keluarga (anak dan bapak).

Gerakan gender dengan wajah “Perempuan Kecil Pembawa Besi” menunjukkan orisinalitas gagasan yang dibangun Ibnu Hajar.

Perempuan Kecil Pembawa Besi

di bibir langitmu kecoklatan
kutelusuri garis kecupmu kemarin
yang lahap dimakan matahari

tersisa cakrawala
kunamai dinding puisi

kelokan jalan tempat kita bertemu, dulu
sekarang bingar dalam senyap panjang
lampu-lampu malam, detak jarum jam di jantungku

aku memang tak mampu berkata
“ingin bersamamu” sebab duniamu
semesta tanpa ruang
dalam genggaman

hanya melihatmu tiba hilang
kau melenggang
dalam diam

mungkin cuma puisi yang sanggup membangunkan tidurmu
sebab keindahan tak membutuhkan mata
untuk ditemukan

aku tak pernah singgah di ufuk tanganmu
meski rindu serupa tumpukan harap
dan cinta adalah sakit
tiada warna

hingga bening musim berlabuh
angin mengawinkan hujan dan kemarau
dan airmatamu jatuh
mengiris di dinding
pipiku

Madura 2009-2014

Ibnu Hajar melambai pada kenangan, ia dengan dalam memahat perpisahan. Dalam hidupnya, perpisahan adalah kesedihan yang harus dilakukan walau sakit.

aku tak pernah singgah di ufuk tanganmu
meski rindu serupa tumpukan harap
dan cinta adalah sakit
tiada warna

Pembaca perlu meresap dalam-dalam, bagaimana jika anak satu-satunya pergi merantau. Kerinduan, kecemasan, airmata yang tumpah adalah jalan “Perempuan Kecil Pembawa Besi”.

Ibnu Hajar menjadi guru pada gadis kecilnya dalam sebuah teks puisi, yang menyelinapkan kekuatan gender. Seperti yang dikatakan Penyair Tjahjono Widarmanto;

“Pendidikan berbasis pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) akan menanamkan segala nilai yang berkaitan dengan inklusif gender (gender inclusive) yaitu segala hal yang berkaitan dengan kebijakan, program atau kondisi yang berkaitan dengan isu gender. Tak hanya itu, Pendidikan berbasis pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) pun diharapkan mampu mengurangi adanya kesenjangan gender atau perlakuan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki dengan melakukan analisis berbagai faktor penyebab kesenjangan gender,” (Tjahjono Widarmanto, Menggagas Pengarusutamaan Pendidikan Berbasis Gender, www.jurnalfaktual.id).

Puisi gender Ibnu Hajar, membawa arus kesusastraan Madura yang digagas oleh jenis kelamin laki-laki. Orisinalitas gagasan puisi, tentu memiliki ruang apresiasi tinggi. Bella, Bapakmu selalu berdo’a dalam puisi.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article