Gabah Den Interi: Antara yang Sampah dan yang Bertuah

Heru Harjo Hutomo
8 Min Read

jfID – Terkadang, di tengah badai populisme yang sarat dengan disinformasi, hoax, dan pembunuhan karakter seperti di hari ini, orang mesti merelakan terjadinya disorientasi, baik pada tataran konseptual, dengan saling berjalin-kelindannya paham dan ideologi, maupun pada tataran praksis, dengan silang-sengkarutnya berbagai kepentingan. Di pedesaan, di masa panen padi sebagaimana di hari ini, masih banyak kita saksikan orang menjemur padi di halaman rumah. Mereka terlihat sibuk menjelang padi yang sudah dipanen dibawa ke rumah dari sawah. Dengan tempayan mereka pun mengocak dan mengocok padi itu agar bersih dari awul-awul atau dedaunan sisa pemanenan padi. Demikian pula setelah dirasa bersih, gabah atau padi yang telah dipanen, dengan memisahkan yang berharga dan yang tak berharga, para petani kemudian  menjemurnya di halaman. Para petani itu akan terlihat mondar-mandir, bolak-balik demi gelaran gabah yang sudah dikocak dan dikocok agar mengering dan lagi-lagi bersih dari awul-awul yang kering. Sebab, gabah yang kotor akan menurunkan kualitas dan harganya. Begitu pula setelah gabah mengering, para petani akan menjual atau menjadikannya beras untuk dikonsumsi sendiri dengan cara menggilingnya.

Pada masyarakat tradisional, dimana manusia hidup bersama alam dan bukannya semata di dalam alam, seringkali mereka bermitra dalam pengetahuan dan kehidupan. Sebagaimana Thales di zaman pra-sokratik yang menemukan air sebagai dasar kehidupan dan semesta, yang senafas dengan konsep Wisnu dalam filsafat Hindu dan pewayangan Jawa yang diidentikkan dengan dewa pemelihara yang bertahta di lautan, untarasegara. Demikian pula Empedokles yang kemudian menambahkan tiga elemen, api, udara, dan bumi, sebagai asal-usul kehidupan yang seiring pula dengan filsafat sangkan-paraning dumadi di Jawa yang menganggapnya memilliki korelasi dengan jagat manusia (jagat cilik). Konsepsi seperti ini pada akhirnya akan melahirkan etika tersendiri dimana carut-marutnya dunia (jagat gedhe) selalu tertaut dengan carut-marutnya manusia (jagat cilik).

Sebelum logos menggantikan mitos, para pemikir Yunani purba seperti meletakkan alam sebagai mitra berpikir. Martin Heidegger, dalam An Introduction to Metaphysics (1959), pernah melacak bahwa berpikir di era Yunani purba sebelum Sokrates adalah lebih pada sebentuk apprehension daripada kognitif. Akal budi di zaman itu masih terkait dengan nous yang identik dengan noein atau apprehension. Dengan demikian, berpikir di era itu tak identik dengan mendayagunakan logika yang merupakan singkatan dari episteme logike atau ilmu tentang proposisi. Sementara, dalam terang Heidegger, pada bahasa Jerman purba istilah berpikir disebut dengan istilah Denken yang memiliki keterkaitan dengan istilah Danke atau terimakasih, lebih pada sebentuk puji syukur daripada analisis yang bersifat memilah dan memilih yang oleh Aristoteles dikumandangkan dengan segurat pendapat bahwa berpikir adalah mengkategorisasi.

Berpikir yang identik dengan analisis baru muncul ketika Plato mendirikan apa yang disebut kini sebagai akademi (Akademos). Karena itu pula berpikir akhirnya identik dengan logika yang di masa modern menjadi salah-kaprah dengan memaknainya sebagai nalar. Padahal, logika sendiri berasal dari logos yang secara harfiah berarti bahasa. Barangkali, karena itu pula, seperti kata Alfred North Whitehead, seluruh pemikiran Barat, dan bahkan saya kira ilmu pengetahuan sebagaimana yang dimaknai sekarang, hanyalah secarik catatan kaki dari filsafat Plato.

Manusia memang tak dapat hidup tanpa bahasa, tanpa logos. Dalam ilmu budaya konon peradaban dimulai ketika sudah ada budaya tulis-menulis. Apapun yang tertulis dianggap sebagai tonggak peradaban. Karena hanya itulah yang secara kesejarahan dapat dianggap verified. Bukankah tanpa bahasa tak mungkin ada ilmu pengetahuan sebagaimana yang kita pahami sekarang? Dari ilmu pengetahuan matematika hingga kimia, semua bermediakan bahasa. Maka dapat dipahami seandainya pada akhirnya istilah logos mengalami pergeseran makna menjadi “ilmu.”

Budaya Jawa tradisional, sebagaimana yang termaktub dalam Serat Wedhatama, memiliki gambaran tentang apa itu ilmu, atau katakanlah berpikir, yang seiring dengan filsafat di era pra-Sokratik.

Ngelmu iku

Kelakone kanthi laku

Lekase lawan kas

Tegese kas nyantosani

Setyabudya pangekese durangkara

Ater-ater hanuswara atau prefiks “ng” dalam berbagai istilah Jawa merupakan penanda kata kerja pasif. Seumpamanya istilah ngantuk dan mantuk dimana yang pertama bermakna ngantuk dan yang kedua bermakna pulang. Istilah ngantuk seperti tak berlaku secara mandiri, berasal dari kehendak bebas. Seolah seperti ada yang menarik, bukan usaha kita pribadi. Ketika rasa kantuk datang yang dapat kita lakukan hanya mempersiapkan diri agar tertitur. Sementara mantuk atau pulang adalah sebuah kata kerja aktif yang membutuhkan kesadaran atau kehendak bebas.

Kembali ke dedahan di atas berarti ngantuk identik dengan berpikir seperti di era Yunani purba yang lebih condong ke nous daripada logos. Sedangkan mantuk identik dengan berpikir sebagaimana yang dibentuk oleh Plato yang kemudian diteruskan oleh peradaban Barat modern dengan logos yang sudah diidentikkan pula dengan logika.

Seperti halnya Serat Wedhatama dan budaya Jawa tradisional yang lebih memilih istilah ngelmu daripada Ilmu. Ngelmu di sini identik dengan pengetahuan yang tak semata terjadi atas usaha pribadi, ada pula aspek anugrah yang seturut dengan istilah Denken yang terkait dengan Danke dalam telaah Heidegger di atas. Tapi ketika berpikir yang identik dengan noein ataupun ngelmu tak berkaitan dengan logika dan berlogika, lantas apa yang kemudian dapat dilakukan oleh manusia? Saya kira telah jelas, Serat Wedhatama menyataknnya dengan laku dan Heidegger dengan Gelassenheit dan Offeneit (Politik Tanpa Bermain Catur, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id/webdev).

Seperti proses para petani untuk menyaring, memilah dan memilih, antara yang berharga dan tak berharga pada pembersihan gabah, tanpa tahu mana yang berharga dan tak berharga, mana yang sampah dan mana yang gabah, mana yang berisi dan tak berisi, ketika mengocak dan mengocoknya akan dengan sendirinya yang sampah akan bertahan di tempayan sehingga mudah untuk dibuang, sementara yang berharga akan jatuh berceceran untuk dikumpulkan. Mengocak dan mengocok pada tempayan adalah sebuah laku atau sebentuk sikap yang tak merancang, sebentuk sikap Gelassenheit dan Offenheit, agar kebenaran yang di masa Yunani purba diartikan sebagai aletheia (unconcealment) menyingkapkan dirinya sendiri—becik ketitik alane mambu.         

(Heru Harjo Hutomo/ penulis kolom, peneliti lepas, menggambar dan bermain musik)      

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article