Cerita dari India

By
5 Min Read

jfID – Sebagaimana banyak teman yang mengetahui bahwa dalam organisasi saya, ada 6 tenaga asing, di 4 anak usaha saya. Dari 6 orang tersebut 4 berkewarganegaraan Singapura keturunan India.

Master degree dan doctoral degreenya masih di dapat dari Indian Institute of Technology Bombay dan Indian Institute of Science di Banglore. Sebelum 15 tahun yang lalu, mereka menjadi warga negara Singapura. Dengan saya, sudah hampir 7 tahun bersama, dan saya merasakan manfaat kehadiran mereka.

Kedepan saya berencana akan menaikkan jumlah pekerja – employ dengan mereka dengan memperkerjakan pekerjaan detail engineering dan technology. Sebatas kontrak kerja, di India tentunya. Tak perlu bawa ke Indonesia. Dari sisi pekerjaan, saya hanya memberikan basic design, algoritmanya deh kalau bahasa IT, lalu mereka merangkainya dan membuat DED detail engineering dan drawing.

Karena itu, waktu itu saya harus ke Jaipur India, mendarat New Delhi langsung ke wilayah Rajastan, yang ibu kotanya Jaipur. Tugas utama menginterview beberapa kandidat pekerjaan yang saya akan out source. Ada 2 lokasi setelah Jaipur yaitu ke wilayah Selatan India tamil setelahnya.

Singkat cerita, saya melihat meningkat ke gairahan baru di India. Ekonomi nya terasa meningkat di banding 5 tahun lalu saya ke sana.

Dua tahun berturut-turut ekonomi India tumbuh di atas 7 % dan bisa di bayangkan dengan populasi 4 kali indonesia, tumbuh 7% itu raksasa sekali pergerakannya. Tahun ini dan selanjutnya mereka “mark” tandai dengan pertumbuhan di atas 8%.

Namun India tetap India, kumuh, pliket, bau, terutama di city dweler atau urban problem dengan banyaknya gelandangan dan kaum slum ini.

Sore, saya keluar hotel cuci mata, sepanjang jalan banyak anak-anak menjual souvenir. Dan sangat annoying, mengganggu sekali. Mendesak-desak terus. Terutama ada satu anak usia 12 tahun an kira-kira. Saya sampai gerah karena hampir 1 jam dia buntuti saya dengan berbagai cara jualan.

Kalau sebagai sales saya akui ini anak tough deal. Tapi sebagai korbannya, saya seperti di bully. Puncaknya saya berkata, “sorry kid, not interest,”

But sir, this good souvenir for you family and frinds,” katanya beralasan. Dalam hati, waduh, magnet tempelan kulkas sudah banyak nak!

Saya pun berkata lagi, dengan muka jutek. “Listen kid, 200 rupee its good price but i dont need that souvenir,” Catatan; 1 dollar Amerika 65 Rupee, atau harga tersebut sekitar 40 Ribu Rupiah lah kira-kira.

Saya mengeluarkan uang 50 Rupee dengan niatan supaya dia stop draging ngekorin saya kemana-mana. There you go.. saya sodorkan 50 Rupee tadi ke tangannya, sekitar 10.000 Rupiah.

What is this sir?,” Dia bertanya dengan muka mengkerut. “Take it, its your!,” Saya jawab. “Do you think i m beggar,?” katanya nyolot, “i am a sounevir sales sir, take back your money. Just buy my souvenir, we all done,” jawabnya.

Saya tersentak kaget dengan jawabannya, not beggar! Kata saya dalam hati, saya kagum dengan attitude nya. saya bukan pengemis, saya penjual souvenir!

Mengapa saya tersentak dengan jawaban itu? Kemarinnya, kami ber-10 mengadakan tour visit ke sebuah tempat wisata 1 jam dari Jaiupur, tengah jalan, bus kami bannya kempes. Lalu kami turun dari bus. Di luar panas sekali dan ada seorang bapak tua lewat jualan es teh, di panggul.

Kami memesan beberapa minuman karena memang udara panas terik. Ketika bus akan jalan, kami bertanya berapa harga nya atas 12 gelas es teh tadi, dia berkata 150 Rupee. Murah sekali, itu komentar kami saat itu

Saya pun mengeluarkan dan memberinya 300 Rupee dan berkata, take the change. Kata-kata, “ambil saja kembaliannya” adalah bentuk apresiasi kami atas jasanya. Yang di jawab, “No sir, this your 150 Rupee.. i am not a beggar, i am a tea seller.”

Kata-kata not a beggar membekas sekali di hati saya, sampai saat ini. Dan besoknya, seorang anak 12 tahun, di hadapan saya berkata yang sama, i am not a beggar! What an attitude! Ini kalau begini India bisa menjadi negara yang besar seperti jaman barat sebelum Inggris masuk mengoyak tradisi dan kebesaran bangsa barat ini.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article