Bargawa dan Dekonstruksi

Heru Harjo Hutomo
6 Min Read

jfID – Posturnya tinggi besar. Rambutnya gimbal memanjang. Sebilah wadung (kapak) tampak selalu siap dalam pikulannya, menambah angker perbawa dan pembawaannya. Konon, ia mencari jalan kematian dengan cara mengajak berduel dan memenggal setiap ksatria yang ia sua. Naaslah para ksatria yang memiliki catatan buruk di ingatannya. 

Adalah Jamadagni, seorang pertapa yang murka ketika mengetahui isteri yang ditinggalkannya bertapa, Dewi Renuka, secara sukarela ditindih bergantian oleh para ksatria. Maka, suatu hari rsi itu memanggil putra bungsunya yang dikenal tegas dan jejeg dalam menegakkan hukum dan keadilan.

“Apa hukuman yang pantas buat perempuan yang berzina dengan lelaki lain, wahai Bargawa, anakku?,” tanya Jamadagni.

Sang putra pun, yang memang bertugas untuk menegakkan hukum dan keadilan langsung menyahut dengan suaranya yang berat, “Dipenggal lehernya, ayahanda.”

“Meskipun itu ibumu sendiri, Renuka?”

Dalam kisah pewayangan, Bargawa adalah salah satu karakter yang pernah menghadapi momen eksistensial untuk memutuskan sesuatu yang sulit, sebagaimana Karna yang mesti bertarung dengan adik-adiknya sendiri, Pandawa. Konon, menurut para eksistensialis, otentisitas manusia tersingkap dalam situasi dan posisi yang dilematis seperti itu. Saat itulah seseorang dikatakan dapat benar-benar menjadi dirinya sendiri. Di satu sisi, pada kasus Bargawa, Renuka adalah seorang pendosa. Tapi di sisi lain, ia adalah juga perempuan yang telah melahirkannya.

Berada di ruang ambang sebagaimana yang dialami oleh Bargawa tak terpungkiri lagi adalah hal yang menyesakkan. Tapi terkadang justru karakter seseorang menjadi terlihat dalam masa-masa kritis seperti itu. Apakah ia benar-benar seorang Bargawa sang penegak hukum dan keadilan, putra Rsi Jamadagni, atau sekedar Mbilung, ditentukan oleh momen spesial itu.

Dalam kancah filsafat dan kebudayaan, secara sekilas posisi yang serba mengambang tersebut disokong oleh dekonstruksi dengan karakteristik—untuk tak menyebutnya konsep— différance-nya. Sehingga terkesan bahwa dekonstruksi adalah antiradikalisme. Tapi berbicara radikalisme dalam kaitannya dengan dekonstruksi seolah adalah hal yang tak ada gunanya. Sebab, dekonstruksi sendiri selama ini dianggap tak memercayai adanya dasar atau fundamen dimana istilah radix menjadi sinonimnya. Itulah kenapa Derrida, ketika menyinggung peristiwa 9/11 mengatakannya sebagai sesuatu yang inheren pada konsep demokrasi, dan karena itu, modernisme itu sendiri.

Tapi saya kira, sejauh yang saya pahami, Derrida dan dekonstruksi tak eksplisit mengatakan bahwa apa yang disebut sebagai dasar atau fundamen itu tak ada, atau tak ada gunanya ketika diletakkan sebagai titik awal ataupun titik akhir dalam proses berpikir. Dengan kata lain, dasar atau fundamen itu bukanlah urusan dekonstruksi. Maka, untuk mengatakan bahwa dasar atau fundamen bukan menjadi bagian yang penting dari dekonstruksi tak berarti dasar atau fundamen itu tak ada. Saya kira inilah wujud kekanak-kanakan banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai dekonstruksionis.

Secara fungsional dekonstruksi tetap menggunakan dasar atau fundamen yang oleh Derrida tak eksplisit disebutkan. Tapi cara kerja dekonstruksi membuktikan adanya dasar atau fundamen tersebut. Memahami perspektif fungsional adalah seperti halnya memahami konsep Tuhan dalam filsafat proses Alfred North Whitehead, dimana pada dasarnya tak penting Tuhan itu ada ataupun tak ada, tapi yang patut dimengerti bahwa tanpaNya dunia dan kehidupan dalam terang filsafat proses tak akan terpahami.

Dasar atau fundamen dalam dekonstruksi, bagi saya, adalah kondisi “ruang ambang” dimana, seumpamanya, konsep lelaki dan perempuan yang tetap bersifat relasional dan non-hierarkis, satu sisi tak mendominasi sisi lainnya. Dan dekonstruksi, karena itu, adalah sesuatu yang inheren pada teks itu sendiri yang menyingkapkan heterogenitas, ketegangan, dominasi, dan hierarkisme. Sebab penulis dan apa yang ada di benaknya, sebagaimana yang pernah dijelaskan sendiri oleh lelaki yang gagal menjadi pesepakbola itu, tak selalu dapat berdamai dengan bahasa yang mau tak mau ia gunakan. Contoh yang paling bagus tentang hal ini adalah teks Heidegger yang disalahpahami secara kreatif oleh Sartre yang darinya ia membangun eksistensialismenya yang khas. Atau kembali teks Heidegger yang disalahpahami secara kreatif oleh Ludwig Von Binswanger yang mengilhaminya membangun Daseinanalyze.

Radikalisme, dengan demikian, adalah bagian yang inheren dari moderatisme. Secara sekilas hal ini memang sulit untuk dipahami. Tapi bukankah untuk meneguhkan apa yang dianggap moderat orang mesti bersifat radikal untuk memilah dan memilih apa yang tak radikal? Taruhlah hukum yang sifatnya pasti keras dan memaksa dalam kasus pelarangan penggunaan paksaan dan kekerasan. Secara substansial keduanya adalah sama, tapi perbedaannya bahwa yang satu memiliki legalitas sementara yang lainnya tak memilikinya. Seperti halnya Bargawa yang pada akhirnya mesti menjadi dirinya sendiri, dengan memenggal kepala ibunya yang terbukti telah mengkhianati ayah, hukum dan keadilan yang diembannya. Atau dengan kata lain, secara dekonstruktif, demi menumbangkan relasi yang hierarkis atau tak adil antara ayahnya yang suci dan ibunya yang pendosa.

(Heru Harjo Hutomo/ penulis kolom, peneliti lepas, menggambar dan bermain musik)

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article