Antara Gelar Taqwa dan Gelar Sarjana

Rasyiqi
By Rasyiqi
7 Min Read

jfID – Kita harus perlu banyak-banyak bersyukur, karena Tuhan masih beri kita nafas sampai hari ini. Seandainya seluruh air laut di muka bumi ini dijadikan tinta dan seluruh ranting pohon-pohon di semesta ini dijadikan penaNya, tidak akan bisa menghitung nikmat yang tuhan berikan.
Sesuai Firman Allah QS. Ar-Rahman : 13
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Dari ayat tersebut bisa kita ambil pelajaran bahwa sebagai contoh kecil nikmat Tuhan yang tidak bisa kita ungkap dengan apapun.

Manusia adalah makhluk tuhan yang paling kompleks dan komplit itu dibuktikan dari beberapa nikmat yang Tuhan berikan kepada manusia, mulai dari jasmani dan rohani. Tapi perlu kita ketahui menjadi seorang insan yang mempunyai kesadaran moral dan berkarakter tidak lah mudah, egoisentris adalah akar fundamental yang akan mengobrak abrik nalar tindakan dan pikiran kita untuk membuat sesuatu lari dari konsep nilai-nilai ajaran islam. Degradasi Moral adalah bentuk kecil seseorang menghilangkan taqwa pada dirinya.

Banyak orang-orang rela menempuh pendidikan tinggi bahkan sampai keluar negeri untuk mendapatkan pundi-pundi gelar dibalik namanya, its oke, no problem, tapi Pasca-Reformasi justru tindakan orang menjadi keluar dari garis khittah nya, korupsi contohnya menjelma menjadi suatu momok yang menakutkan. Itulah mengapa banyak pakar yang mengatakan bahwa krisis yang menimpa moral dan bangsa Indonesia kini adalah krisis merajalela korupsi, yang akarnya adalah karakter manusia yang egoistis dan kurang menghargai orang lain. Tidak pernah ada bukti kenapa seseorang korupsi karena miskin, yang banyak mereka korupsi karena kehilangan karakter dan taqwa kepada Allah swt. Menjauhkan diri kepada sang khalik.

Sudah merupakan hukum Tuhan yang tak terbantahkan oleh logika apa pun bahwa untuk mendapatkan hasil yang bagus syaratnya adalah belajar sungguh-sungguh. Belajar merupakan syarat perkembangan dan keselamatan, belajar yang saya maksud untuk menciptakan perubahan berpikir, bersikap dan kelembutan hati (qalbu).


Hukum tuhan tentang kewajiban belajar dengan sungguh-sungguh itu kita langgar bersama. Kita maunya belajar dengan santai tidak serius kalau perlu dengan nyaman, enak dan sambil rekreasi atau jalan-jalan. Belajar harus dengan hiburan, kalau perlu dikasi ongkos, ditempatkan di hotel berbintang dan dicampur dengan kegiatan happy-happy. Ini adalah sedikit potret kita untuk menggapai gelar sarjana, alhasil lulus secara frematuer dan menyalahkan diri sendiri bahkan orang lain.

Bicara Gelar Taqwa dan Gelar Sarjana tentu banyak perbedaan keduanya, antara menuju dunia dan jannah. Banyak cara antara keduanya untuk mencapai titik klimaks dengan berbagai cara, ya seperti ceramah agama sekarang yang diminati oleh banyak orang adalah karena banyak lucunya, hiburannya dan kalau perlu ada hadiahnya. Para da’i yang mengajarkan pengetahuan secara serius tidak mendapat tempat dihati kita. Kita mau belajar itu tidak perlu sungguh-sungguh tapi kalau bisa langsung menghasilkan penghidupan yang enak, layak, mewah lalu masuk surga. Oh tidak bisa itu harus melewati gelar taqwa.

Seperti yang disampaikan Baginda, Suri tauladan kita. Pendidikan pertama yang diajarkan Rasulullah sesampai di Madinah ialah pendidikan rasa peduli. Ukhuwah islamiyah yang memperkuat kaum muhajirin dan ashar menjadi bukti penting akan hal tersebut, adakah pendidikan kita menyoal hal itu. Itu salah satu jembatan menuju gelar taqwa.

Pertanyaannya ialah, ada apa dengan gelar taqwa, mengapa bukan Gelar Sarjana yang penulis sampaikan atau gelar lain, misalnya agar menjadi kaya (la’allakum ghaniyun) atau menjadi sukses (La’allakum falihun), dan sebagainya. Ternyata jawabannya sederhana, yaitu dengan gelar taqwa semua kebutuhan manusia bisa diraih. Bukan Gelar Sarjana tidak diraih tapi ada garis besar yang kita pahami refresentatif untuk gelar itu semua adalah menuju gelar taqwa.

Banyak orang berharap menjadi kaya, karena ketika kaya semua yang diinginkan bisa diperoleh, seolah semuanya serba kun fayakun. Menghalalkan semua cara, Lalu orang bertaqwapun seperti itu, ia akan selalu memperoleh jalan keluar dari setiap persoalan hidup. Al-Qur’an surat ath-Thalaq, mengatakan: “Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” Q.S. ath-Thalaq 65:2. . Insyaallah dengan demikian akan memperoleh kesuksesan di dunia dan akhirat.

Orang bertaqwa juga akan sukses di dunia dan akhirat, ditandai dengan masuk syurga, karena orang bertaqwa ganjarannya masuk syurga. Firman Allah: “Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu berada dalam syurga-syurga (taman-taman) dan di dekat mata air yang mengalir” Q.S. al-Hijr : 45.

Meminjam istilah dalam buku Rakyat “Gak Jelas” karya Imam Ratrioso ” kalau kita lihat dilapangan, perilaku agresif tidak saja terjadi pada kelompok tukang becak ataupun lapisan masyarakat yang sering disebut kelompok kurang terdidik. Perilaku agresif sudah meramba ke kelompok yang menyebut dirinya sendiri sebagai kaum terdidik “. Alias berpendidikan tinggi. Artinya Moralitas menjadi kunci.

Kalau kata Soesilo Ananta Toer ” Bijak Itu tidak ditemukan dibangku sekolah manapun. Revolusi berpikir yang melahirkan kecerdasaan dan kebijaksanaan itu tidak memerlukan izajah.
Dan disambung Ungkapan Roki Gerung ” Izajah itu tanda anda pernah sekolah, bukan pernah berpikir”.

Penulis katakan Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah Swt. Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia.

Billahitaufiq wal’hidayah
Wassalamualaikum Wr. Wb
Yakin Usaha Sampai #DedikasiBerhimpun

Penulis : Riki Hambali Tanjung

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article