Menurut Kementerian Kesehatan Israel, sejak awal Oktober, sudah ada 42 kasus leptospirosis yang dilaporkan di kalangan tentara Israel, termasuk 12 yang dirawat di rumah sakit.
Kementerian Kesehatan juga mengeluarkan peringatan kepada warga sipil yang tinggal di dekat perbatasan Gaza untuk menghindari kontak dengan air genangan atau air sungai yang mungkin terkontaminasi.
Juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum, mengatakan bahwa mereka telah menyiapkan perangkap biologis untuk menghancurkan moral dan fisik musuh.
“Ini adalah salah satu cara kami untuk membalas kekejaman dan pembantaian yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina,” ujar Barhoum.
Menurut WHO, bakteri ini hidup secara alami di lingkungan dan dapat ditemukan di banyak negara, terutama di daerah tropis dan subtropis.
“Leptospirosis bukanlah senjata biologis yang efektif, karena bakteri ini tidak mudah ditularkan dari orang ke orang, dan dapat dicegah atau diobati dengan vaksin atau antibiotik. Lebih mungkin bahwa peningkatan kasus leptospirosis di kalangan tentara Israel disebabkan oleh kondisi sanitasi yang buruk di medan perang, yang meningkatkan risiko paparan terhadap air limbah atau hewan yang terinfeksi,” kata Dr. Ahmed Al-Mandhari, direktur regional WHO untuk Timur Tengah.
Meskipun demikian, bakteri berbahaya yang menyerang pasukan Israel ini menambah beban bagi pemerintah Israel, yang sudah berada di bawah tekanan akibat serangan-serangan Hamas dari berbagai penjuru.
Sejak awal Oktober, lebih dari 500 orang tewas dan lebih dari 2.000 orang terluka di pihak Israel akibat serangan roket, bom, dan senjata api dari Hamas.
Selain itu, sekitar 2.000 pasukan Israel juga harus menerima bantuan psikologis karena mengalami gangguan mental akibat stres perang.
Di pihak Palestina, korban jiwa juga terus bertambah akibat serangan balasan Israel. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 1.800 orang tewas dan lebih dari 12.000 orang terluka di Jalur Gaza sejak awal Oktober.
Sebagian besar korban adalah warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, yang terjebak di tengah-tengah pertempuran.
Konflik antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza ini merupakan yang terparah sejak tahun 2014, ketika Israel melancarkan operasi militer yang berlangsung selama 50 hari dan menewaskan lebih dari 2.200 orang di pihak Palestina dan 73 orang di pihak Israel.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa konflik ini akan berakhir, meskipun upaya mediasi dari berbagai negara dan organisasi internasional terus dilakukan.

