Sastra, Estetika, Etika & Moral

Tjahjono Widarmanto
6 Min Read

jfID – Sastra, baik sastra modern maupun sastra lama, sukar dirumuskan secara lengkap dan memadai. Setiap rumusan selalu luput atau gagal menangkap semua kompleksitas fenomena sastra sebab fenomena sastra selalu berubah atau berkembang secara berkelanjutan serentang perubahan waktu. Hampir semua rumusan tentang sastra yang telah dibeberkan baik oleh pakar, awam maupun seniman selalu terbatas. Sebab, hanya mampu menangkap sebagian fenomena sastra. Cukuplah dikatakan di sini bahwa kodrat sastra merupakan ciptaan (works) kreatif [inovatif-inventif] manusia yang terekspresikan ke dalam bahasa khas, yang mengedepankan sifat estetis atau keindahan dengan mengandung karakteristik dan fungsi tertentu. Tanpa bahasa, sebuah ciptaan kreatif akan kehilangan identitas sebagai sastra. Bahasa di sini telah menjadi conditio sine qua non bagi eksistensi sastra, misalnya cerita Ramayana dapat disebut sastra berkat kehadiran bahasa sebab kalau yang hadir gambar akan membuat cerita Ramayana disebut komik. 

Sampai sekarang sudah ada bermacam-macam karakteristik sastra yang dikemukakan oleh sastrawan, ahli sastra, dan atau ahli kebudayaan. Beberapa di antaranya yang penting adalah bahwa sastra (1) berada dalam dimensi simbolis kebudayaan dengan tetap berhubungan tak terpisahkan dengan dimensi sosial dan material kebudayaan, (2) menekankan stilisasi, simbolisasi, dan metafora serta konotasi [bukan proposisi, denotasi dan linieritas] baik dalam struktur maupun suprastruktur, (3) sangat mengutamakan dan menghargai orisinalitas, keunikan, partikularitas, dan intersubjektivitas [bukan keumuman, keteraturan, keempirisan, dan objektivitas], (4) menekankan kebebasan, keterbukaan, bahkan kemerdekaan tafsir dan penciptaan [bukan kepastian dan ketertutupan penciptaan dan tafsir], (5) merupakan wujud sekaligus hasil olah intelektual manusia yang sifatnya imajinatif, literer, dan afektif-kognitif [bukan yang rasional-empiris dan positif], (6) diciptakan dengan pandangan, paham, dan sikap tertentu, dan (7) selalu terkait-terikat dengan konteks kehidupan manusia [sebab sastra tak mungkin tercipta dari kekosongan]. Beberapa karakteristik tersebut menjadikan sastra berbeda dengan wujud, bentuk, dan hasil olah intelektual manusia lainnya, misalnya filsafat dan ilmu pengetahuan ilmiah.

Karya sastra bisa memiliki fungsi spiritual, edukatif, etis-moral, politis, ekonomis, rekreatif, dan sebagainya dalam kehidupan manusia secara personal dan atau sosial. Karya sastra bisa juga diberi fungsi sebagai afirmasi, diagnose, kritik, alternatif, bahkan negasi atas sesuatu [misalnya, politik, sosial, etika-moral, psikologi, dan agama] oleh manusia baik sebagai pencipta maupun penikmat sastra. Tampaknya, tidak ada karya sastra yang diciptakan dan eksis tanpa fungsi sama sekali; karya sastra selalu memiliki fungsi tertentu sekalipun mungkin berubah-ubah dalam rentangan waktu berbeda. Dengan kata lain, kreativitas sastra dan apresiasi sastra terus-menerus berlangsung dalam kehidupan manusia sejak dulu, sekarang, dan masa akan datang.

Berdasarkan uraian tersebut dapatlah diketahui bahwa dalam sepanjang kehidupannya, (1) ada karya sastra yang mengandung muatan-muatan etika-moral dan karakter secara tebal-kental, (2) ada karya sastra yang berfungsi atau diberi fungsi etis dan moral, (3) ada karya sastra yang berfungsi dan diberi fungsi edukatif, (4) ada karya sastra yang dijadikan sebagai wahana penyimpan dan perawat norma-norma etika dan moral, dan (5) ada karya sastra yang relatif [cukup] efektif sebagai media pembelajaran etika dan moral. Sastra lisan, sastra klasik atau sastra lama, sastra ‘keraton’, dan sastra ‘kanon’ yang ada di Indonesia dan di tempat-tempat lain di luar negeri selalu ada yang memenuhi hal-hal tersebut di atas. 

Mahabharata, Ramayana, Wulang Reh, Wedhatama, La Galigo, Malin Kundang, dan Syair Perahu memang sarat dengan muatan etika dan moral, kental fungsi etis, moral, dan edukatif, dan terkesan kuat menjadi penyimpan norma etika-moral dan karakter sehingga karya-karya sastra tersebut relatif efektif sebagai wahana atau media pembelajaran etika dan moral. Akan tetapi, novel Karmila (Marga T), Telegram (Putu Wijaya), dan Jangan Ambil Nyawaku (Titi Said) tentu kurang efektif sebagai wahana atau media pembelajaran etika-moral dan karakter sebab tiga karya sastra modern tersebut kurang kuat muatan etika dan moralnya; kurang kuat fungsi etis, moral, dan edukatifnya. Meskipun demikian, memang harus disadari bahwa setiap karya sastra modern yang baik atau bagus tidak pernah hampa dari suara-suara etis dan moral. Setiap karya sastra yang baik senantiasa menyuarakan soal-soal etika-moral dan karakter walaupun tidak secara langsung dan hanya secara naratif, hanya secara literer. Novel Dokter Zhivago (Boris Pasternak), kwatrin Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), dan Seratus Tahun Kebisuan (Gabriel Marcia Marques) – sebagai contoh – menyuarakan pesan etis dan moral yang amat kuat sekalipun merupakan sastra modern. Karya-karya Hemingway, Leo Tolstoy, Yukio Mishima, Yasunari Kawabata, Muhammad Iqbal, dan Gabrial Marques juga menyuarakan pesan-pesan etis dan moral yang tebal-kental.***

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article