Idul Fitri Tahun InI, Apakah Kita Menang?

jfid
By jfid
5 Min Read

jfID – Idul Fitri sangat populer dengan sebutan lebaran. Lebaran berasal dari kata ‘lebar’ yang maknanya berdada lebar (berlapang dada). Berlapang dada disini artinya kita sebagai manusia harus meminta sekaligus memberi maaf kepada sesama.

Kalau di Madura idul Fitri populer dengan sebutan telasan. Telasan didapat dari akar kata ‘telas’ yang berarti habis. Jadi telasan artinya habis-habisan dalam menghapus dosa, kesalahan, kekhilafan baik terhadap Allah SWT, Manusia, maupun Alam sekitar.

Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Manusia tentunya sering berbuat khilaf. Di momentum Idul Fitri ini saatnya manusia kembali ke fitrah setelah berpuasa selama satu bulan di bulan ramadhan. Diharapkan manusia pada hari lebaran atau telasan dapat mensinergikan hablumminallah (hubungan dengan Allah secara Vertikal) dan membuat garis horizontal dengan cara membangun hubungan sosial yang baik (hablumminannas). Dengan membangun hubungan secara vertikal dan horizontal terciptalah tanda positif (+) akibat persinggungan dua garis tersebut.

Lebaran tahun ini terasa beda dengan tahun sebelumnya. Kita tidak bisa merayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Di tengah pandemi ini, kita merayakan lebaran secara sederhana (bisa dibilang seperti itu). Tidak ada salam tempel, tidak ada bertamu ke rumah sanak saudara, tidak bisa mudik dan juga tempat wisata banyak yang ditutup.

Apakah kita menang?

Hari kemenangan telah tiba tetapi kita masih belum menang. Kita masih terus berjuang melawan wabah pandemi ini. Kita harus tetap waspada dan mematuhi seluruh protokoler kesehatan. Tetap belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah dari rumah harus konsisten dikerjakan demi menang melawan Covid-19. Ikuti selalu himbauan pemerintah agar pandemi ini segera mereda walau akhir-akhir ini pemerintah agak kurang konsisten kebijakannya.

Saya tegaskan kembali, pada hari kemenangan ini kita belum sepenuhnya menang. Puasa sebulan penuh yang hakikatnya melawan hawa nafsu belum berjalan maksimal di dalam diri kita. Kita ternyata belum menang melawan hawa nafsu. Kita tidak bisa menahan hawa nafsu untuk berkerumun, nafsu untuk mudik, nafsu untuk membeli baju baru.

Ujian kesabaran, ujian melawan hawa nafsu yang tiap tahun kita lakukan selama bulan Ramadhan sepertinya kurang berat dijalani. Ujian-ujian tersebut akhirnya terlihat sia-sia. Mereka tidak bersabar dalam melawan Covid-19 dan tidak mematuhi protokoler kesehatan. Kita bisa melihat sendiri, banyak dari kita yang tidak konsisten mencuci tangan, jaga jarak dan memakai masker di tengah pandemi ini. Akhirnya, angka orang yang terpapar covid-19 kian hari kian bertambah bahkan hampir mencapai 1.000 perhari.

Pemerintah sudah memberlakukan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). PSBB diambil karena kebijakan ini lebih baik dari pada lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tapi realitas di lapangan kita melihat sendiri, banyak dari kita kurang mematuhinya. Mereka malah melakukan tradisi mudik yang sudah dilarang, padahal dalam Islam ada yang menyatakan jangan mendatangi tempat yang ada wabah, dan jangan keluar dari tempat yang terkena wabah. Ada malah yang menerapkan PSBB dalam arti lain yakni (Pembelian Sarung Baju Besar-besaran) tanpa takut dirinya terkena wabah pandemi ini. Bukankah itu Nafsu? Mari kita renungkan! Semoga saja penyebaran wabah pandemi ini tidak meluas.

Dengan adanya Covid-19 ini memang penuh pro dan kontra. Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan Tagar #IndonesiaTerserah sebagai bentuk kekecewaan dari petugas kesehatan. Pasca lebaran nanti angka orang terpapar covid-19 ini pasti akan membludak dan tentu menjadi beban bagi rumah sakit (takut tidak tertampung). Petugas kesehatan bakal kewalahan menghadapi pasien dengan jumlah yang membludak.

Walaupun begitu kita harus tetap optimis, kedepan kita akan melaksanakan kebijakan new normal life. Kebijakan untuk memulai kelaziman baru. Kita harus terbiasa dengan menerapkan protokoler kesehatan. Kita harus disipilin dan jangan abai. Disiplin mencuci tangan, disiplin memakai masker, disiplin menjaga jarak. Ini sebenarnya anjuran agama untuk hidup bersih, suci dan halal. Kebiasaan atau kelaziman ini harus dijalankan dengan sabar demi menang melawan Covid-19.

Penutup dari saya, semoga hari raya ini menjadi pembelajaran buat kita semua, karena Hari raya tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tetap utamakan kesehatan, jaga diri kita, jaga keluarga kita. Berlebaran lah dengan sederhana. Semoga kita semua kembali ke fitrah. Minal aidin wal faizin (artinya mudah – mudahan kita kembali ke fitrah dan menjadi orang yang sukses). Mohon maaf lahir batin.

Penulis : Mohammad Faizin Zaini

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article