Berguru Pada Pagebluk Corona

Tjahjono Widarmanto
6 Min Read

jfID – Covid-19 atau corona menjadi pusat perhatian sekaligus hantu yang menakutkan bagi manusia di seluruh dunia. Corona menjadi hantu yang mengerikan karena menjadi pagebluk global atau menjadi epedemi global yang menyerbu 109 negara, bahkan menggapai pusat-pusat kekuasaan dunia seperti Italia, Kanada, Iran dan Korsel, tercatat ribuan manusia terjangkiti, dan 5116 meninggal dengan kemungkinan jumlah yang terus bertambah. 

Corona menjadi hantu yang mencengkam karena penularannya amat cepat, sedangkan obat atau vaksinnya belum ditemukan. Dampak global lainnya adalah efek psikologi, baik psikologi massa dan psikologi pasar yang berkait dengan ekonomi utamanya pada pelaku ekonomi kelas menengah ke bawah.

WHO pun memberi maklumat bahwa corona sebagai pagebluk global yang harus diperangi bersama: public health emergency of international concern. Maklumat itu menimbulkan dampak dan konsekuensi yang logis yaitu memicu kewaspadaan sekaligus menimbulkan kecemasan.

Kecemasan global pun terjadi dimana-mana. Kecemasan tersebut mengalahkan nalar yang mewujud pada perilaku panik yang irasional. Perilaku panik yang irasional tersebut misalnya memborong dan menimbun masker, takut bertemu dengan orang lain, cemas beraktivitas di luar rumah, curiga dengan lingkungan sosial, serta menimbun kebutuhan pokok. Kepanikan ini didukung dengan realita bahwa corona belum ditemukan obatnya sehingga untuk membendungnya hanya bisa melalui satu jalan yaitu social distancing dengan menghindari kerumunan untuk menghindari potensi penularan. Dampak lain karena kondisi kesehatan pagebluk atau pademik ini adalah munculnya apatisme sosial bahkan pemanfaatan tindak kriminal.

Secara strategis menyikapi penyebaran pagebluk bisa melibatkan tiga hal yaitu host, agent dan enviroment (Dyah Ayu, 2020). Host yaitu segala upaya pengobatan sekaligus untuk menelisik segala faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit, host ini belum mungkin dilakukan karena obat dari corona ini belum diketemukan. Yang bisa dilakukan adalah melibatkan agent yaitu dengan memutus mata rantai pembawa virus untuk membatasi penularan dan enviroment yaitu dengan memperbaiki dan menjaga lingkungan untuk membuat ekosistem kesehatan.

Disamping mengusung cemas, kita bisa berguru pada corona. Berguru disini dalam artian kemampuan untuk menggali hikmah dan pelajaran dibalik pagebluk itu. Berguru dalam arti untuk menggali hikmah untuk kepentingan mengelola masyarakat (dalam hal ini yang berguru adalah negara) dan untuk kepentingan mengelola pribadi (diri sendiri, masing-masing individu) yang bersifat personal.

Melalui fenomena pagebluk corona ini kita bisa berguru bagaimana mengelola menejemen musibah nonbencana alam atau mitigasi. Pengelolaan tersebut adalah upaya untuk mewaspai segala bencana. Termasuk di dalamnya pengelolaan menejemen psikis massa dengan meminimalkan krisis melalui pemberian informasi atau wacana yang tepat berkaitan dengan musibah pagebluk tersebut. Media center sangat berperan penting untuk memberikan informasi yang benar tentang corona, tentang langkah-langkah social distancing sehingga meminimalkan rasa cemas masyarakat, sekaligus menanggulangi hoaks yang memberikan informasi yang salah tentang corona yang justru memicu keresahan.

Berguru pada corona berarti mengambil hikmah dibalik pagebluk corona untuk mengelola pribadi. Melalui corona kita bisa menata aspek kejiwaan bahwa waspada bukan berarti cemas. Belajar pula bagaimana menata jiwa untuk tak boleh kalah dengan rasa cemas dan takut. Bisa memunculkan sikap jiwani yang memunculkan keberanian sebagai kemampuan mengelola rasa takut dan cemas sehingga bisa menjaga kewarasan berpikir dan tidak terjebak pada perilaku irasional.

Melalui corona kita bisa belajar lagi memahami dan menghargai keberadaan keluarga. Selama ini kita acap kali mengabaikan keluarga. Kita disibukkan oleh kepentingan ekonomi sehingga abai terhadap anak dan istri.

Di balik hantu pagebluk corona kita juga bisa mengambil hikmat untuk lebih berkontemplasi atau merenung. Saat social distancing, ketika kita menghindari kerumunan dengan mesu diri di rumah kita berkesempatan untuk lebih dalam merenungi diri sendiri, mulat sarira hangrasa wani atau melakukan instropeksi terhadap apa yang sudah kita jalani, intropeksi terhadap apa yang sudah dilakukan pada masyarakat sosial dan lingkungan hidup.

Melalui pagebluk corona pulalah, kita bisa mempertajam kesadaran transedental yang mungkin selama ini dikalahkan kepentingan dan aktivitas duniawi. Kesadaran transendental ini mewujud pada tiga sikap jiwani yaitu pertama,  munculnya pengakuan pada keterbatasan diri sebagai mahluk yang tak berdaya, kedua: pengakuan kebesaran Tuhan, dan ketiga melahirkan sikap penyerahan diri pada Tuhan dalam bentuk tawakal dan doa.

Pagebluk corona memang sebuah musibah dan takdir yang harus dijalani. Melalui takdir musibah yang sepahit dan segetir apapun tetap selalu ada hal yang positif, hikmah atau pencerahan untuk ditimba. Di akhir tulisan ini, mari kita hikmati bersama firman suci dalam QS. Al Insyirah, 6: Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, menghikmati ayat suci ini tidak ada alasan bagi kita untuk tidak optimis keluar dari musibah pagebluk ini!

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article