Fakta vs Mitos: Mengungkap Misteri Bentuk Bumi

Fatanatun
3 Min Read

jfid – Perjalanan panjang manusia dalam memahami bentuk sebenarnya Bumi telah melahirkan kontradiksi antara fakta dan mitos yang tersebar luas.

Sekalipun Bumi telah lama dianggap sebagai tempat tinggal kita, kebingungan akan bentuknya masih menjadi isu kontroversial.

Di tengah gema teori purba yang mendakwa Bumi sebagai datar, pertanyaan mendasar pun muncul: apakah ini sebuah fakta ilmiah atau sekadar mitos yang menjamur?

Menggali lebih dalam, keberadaan teori Bumi datar yang terus bergaung rupanya tak didukung oleh landasan ilmiah yang kokoh.

Banyaknya bukti yang mengindikasikan bahwa Bumi ini sebenarnya berbentuk bulat, atau lebih tepatnya berbentuk elipsoid, menjadi pijakan kuat dalam perdebatan ini.

Beberapa bukti konkret yang dapat diamati sendiri atau dengan menggunakan alat bantu menjadi pencerahan:

  • Bayangan Misterius pada Gerhana Bulan: Saat momen gerhana Bulan terjadi, pantulan bayangan Bumi pada permukaan Bulan membentuk pola lingkaran. Pola ini merupakan jejak kuat bahwa Bumi memiliki bentuk yang bulat.
  • Teater Kapal di Cakrawala: Di tepian pantai, kita sering kali menyaksikan kapal-kapal melintasi laut. Ketika kapal menjauh, potretnya mulai terpantul secara berbeda: bagian atas terlebih dahulu, kemudian bagian bawahnya. Hal ini menandakan lengkungan permukaan laut, bukan datar.
  • Kilas Perbedaan Waktu dan Musim: Dalam dunia yang terbentang luas, perbedaan waktu dan musim yang berbeda-beda di setiap belahan dunia menjadi saksi bisu atas rotasi dan peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Bukti nyata bahwa Bumi ini taklah datar.
  • Dokumentasi Luar Angkasa: Dengan pesatnya kemajuan teknologi, dokumentasi visual dari luar angkasa memberikan pandangan nyata akan bentuk Bumi yang bulat dengan kutub utara dan selatan. Tak terdapat bukti yang memvalidasi klaim bahwa Bumi ini datar, dikelilingi oleh tembok es.

Dari deretan bukti yang ada di atas, kesimpulan yang dapat dipetik jelas: Bumi berbentuk bulat, bukan datar.

Teori Bumi datar semata merupakan mitos tanpa dasar ilmiah yang solid. Perlunya kritisitas dan kearifan dalam menghadapi fenomena alam ini menjadi penting.

Bumi bukan hanya sebuah planet, namun juga keindahan yang harus kita rawat dan pelihara untuk masa depan kita bersama.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email [email protected]

Share This Article