Sumenep Jf.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik. Anggota DPRD Kabupaten Sumenep, M. Ramzi, menyampaikan sikap tegas terkait kualitas makanan yang disajikan kepada para siswa.
Menurut Ramzi, program MBG pada dasarnya memiliki tujuan mulia untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Namun, ia menegaskan bahwa pelaksanaan di lapangan harus benar-benar diawasi agar tidak menyimpang dari standar kelayakan.
Ia mendorong para orang tua atau wali murid untuk tidak hanya menyampaikan keluhan di media sosial atau grup percakapan, tetapi berani mengambil langkah konkret jika menemukan makanan yang tidak layak konsumsi.
“Jika memang makanan yang diterima anak-anak tidak sesuai standar atau tidak layak, kembalikan kepada pengelola dapur. Orang tua harus berani dan kompak,” tegasnya, Sabtu (28/2/2026).
Politisi dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) itu menilai, kontrol sosial paling efektif justru berada di tangan orang tua siswa. Mereka adalah pihak yang setiap hari melihat langsung dampak konsumsi makanan tersebut terhadap kondisi anak.
Ramzi mengingatkan bahwa label “gratis” tidak boleh menjadi alasan turunnya kualitas bahan baku maupun proses pengolahan makanan. Menurutnya, program yang menyasar generasi muda harus dijalankan secara profesional, higienis, dan memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan.
Ia juga menekankan bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar citra program, melainkan kesehatan dan tumbuh kembang anak-anak. Oleh karena itu, pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, hingga distribusi.
“Program boleh gratis, tetapi kualitas tidak boleh murahan. Ini menyangkut masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Dengan adanya sikap tegas dari orang tua dan pengawasan yang konsisten, Ramzi berharap program MBG di Kabupaten Sumenep dapat berjalan sesuai tujuan awalnya, yakni meningkatkan gizi siswa sekaligus memberi dampak positif bagi perekonomian lokal.
DPRD Sumenep Soroti Kualitas MBG, Orang Tua Diminta Tegas Tolak Makanan Tak Layak
Sumenep Jf.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik. Anggota DPRD Kabupaten Sumenep, M. Ramzi, menyampaikan sikap tegas terkait kualitas makanan yang disajikan kepada para siswa.
Menurut Ramzi, program MBG pada dasarnya memiliki tujuan mulia untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Namun, ia menegaskan bahwa pelaksanaan di lapangan harus benar-benar diawasi agar tidak menyimpang dari standar kelayakan.
Ia mendorong para orang tua atau wali murid untuk tidak hanya menyampaikan keluhan di media sosial atau grup percakapan, tetapi berani mengambil langkah konkret jika menemukan makanan yang tidak layak konsumsi.
“Jika memang makanan yang diterima anak-anak tidak sesuai standar atau tidak layak, kembalikan kepada pengelola dapur. Orang tua harus berani dan kompak,” tegasnya, Sabtu (28/2/2026).
Politisi dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) itu menilai, kontrol sosial paling efektif justru berada di tangan orang tua siswa. Mereka adalah pihak yang setiap hari melihat langsung dampak konsumsi makanan tersebut terhadap kondisi anak.
Ramzi mengingatkan bahwa label “gratis” tidak boleh menjadi alasan turunnya kualitas bahan baku maupun proses pengolahan makanan. Menurutnya, program yang menyasar generasi muda harus dijalankan secara profesional, higienis, dan memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan.
Ia juga menekankan bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar citra program, melainkan kesehatan dan tumbuh kembang anak-anak. Oleh karena itu, pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, hingga distribusi.
“Program boleh gratis, tetapi kualitas tidak boleh murahan. Ini menyangkut masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Dengan adanya sikap tegas dari orang tua dan pengawasan yang konsisten, Ramzi berharap program MBG di Kabupaten Sumenep dapat berjalan sesuai tujuan awalnya, yakni meningkatkan gizi siswa sekaligus memberi dampak positif bagi perekonomian lokal.

