Probolinggo – Ramadan kali ini terasa berbeda bagi keluarga besar Pondok Pesantren Ulil Albab Gending. Jumat sore yang syahdu (27/2/2026) menjadi saksi kepergian salah satu putra terbaik Probolinggo, KH Mohammad Ramli Syahir, untuk selama-lamanya.
Kabar wafatnya pengasuh pondok yang beralamat di Jalan Raya Gending, Desa Brumbungan Lor, Kecamatan Gending ini sontak menyisakan luka mendalam. Bukan hanya bagi santrinya, tapi juga bagi kolega akademik dan masyarakat luas yang mengenalnya sebagai guru, pemikir, sekaligus penyejuk hati.
Sosok Jembatan Dua Dunia: Tradisi Klasik dan Gagasan Modern
Almarhum bukan sekadar pengasuh pondok. Dengan gelar doktor yang disandangnya, ia adalah bukti hidup bahwa ilmu agama dan ilmu modern bisa berjalan beriringan. Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Universitas Saddam Hussein ini dikenal mampu membumikan kitab kuning dengan pendekatan ilmiah yang relevan zaman.
Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Ulil Albab tumbuh menjadi rumah yang nyaman untuk belajar, tidak hanya mengaji tapi juga menempa karakter. Para santri dibekali akhlak mulia dan kepekaan sosial yang tinggi—nilai-nilai yang beliau tanamkan bukan lewat kata-kata, tapi melalui keteladanan.
“Beliau itu rendah hati, kalau ngobrol santun banget. Tapi kalau soal prinsip agama, beliau tegas,” kenang salah satu santrinya. “Kami belajar banyak dari kesederhanaan dan kedisiplinannya.”
Lebih dari Sekadar Guru: Peneduh di Tengah Masyarakat
Kiprah almarhum tak berhenti di lingkungan pesantren. Sebagai akademisi, ia aktif dalam berbagai forum keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Gagasan-gagasannya tentang etika publik dan tanggung jawab sosial kaum terdidik kerap menjadi rujukan di berbagai diskusi.
Tak heran jika di lingkungan Nahdlatul Ulama, ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Mudir Idaroh Syu’biyah Jatman Kota Kraksaan. Suaranya selalu dinanti saat umat membutuhkan pencerahan dalam persoalan keagamaan maupun sosial.
Wafat di Hari Istimewa: Pertanda Husnul Khatimah?
Bagi umat Islam, wafat di hari Jumat—yang dikenal sebagai sayyidul ayyam—dan di bulan Ramadan yang penuh ampunan adalah momentum yang istimewa. Banyak kalangan meyakini kepergian seorang alim di waktu mulia ini sebagai pertanda husnul khatimah.
Dunia pesantren memang kehilangan seorang pembimbing. Dunia akademik kehilangan intelektual brilian. Namun yang paling berat adalah kehilangan seorang peneduh yang selalu menyejukkan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Selamat jalan, Guru. Ilmu dan keteladananmu akan terus mengalir bersama doa-doa santri yang kau didik.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

