Drama Transisi Energi Indonesia

3 minutes read

Transisi energi Indonesia, sebuah kata keren yang sering terdengar, tapi jujur saja, ini adalah tugas berat! Seperti rencana diet kita setiap tahun yang selalu gagal, begitu juga dengan rencana transisi energi kita. Indonesia menjadi negara dengan konsumsi energi tertinggi di ASEAN, namun sepertinya kita lebih suka bermain-main dengan batu bara daripada memanfaatkan energi terbarukan yang melimpah.

Kita punya potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan, tetapi entah kenapa, kita lebih memilih menjalin kontrak jangka panjang dengan investor asing untuk pembangkit listrik batu bara yang tua dan usang. Jadi kalau mau ganti dengan energi terbarukan, harus bayar kompensasi ke investor dulu. Ya ampun, kayak pacaran aja, putus aja pusing!

Bicara soal dana, membangun pembangkit listrik terbarukan memang butuh biaya yang tidak sedikit. Tapi, pemerintah sepertinya lebih sibuk mengalokasikan anggaran untuk pandemi daripada menyokong energi terbarukan. Pandemi memang penting, tapi apakah energi hijau bukan juga prioritas?

Kemudian ada masalah over supply listrik, gara-gara pandemi yang membuat mobilitas masyarakat terbatas. Kita punya pembangkit listrik beroperasi di bawah kapasitas optimal dan akhirnya rugi. Bukannya mengatasi masalah ini dengan energi terbarukan yang lebih fleksibel, kita malah stuck dengan batu bara yang nggak bisa diatur.

Masalah berikutnya adalah infrastruktur dan regulasi yang kacau balau. Kita butuh jaringan transmisi yang bagus, sistem penyimpanan energi, dan insentif fiskal yang menggiurkan. Tapi ya, seperti biasa, kita lebih suka membingungkan diri dengan regulasi yang berantakan dan harga listrik yang nggak bersahabat.

Dan jangan lupakan fragmentasi regulasi di sektor energi. Ini kayak puzzle yang nggak pernah bisa dipadu padankan. Koordinasi antar kebijakan sektor, nol besar! Kita kalah jauh dari negara lain dalam pengembangan energi terbarukan yang modern. Mungkin kita masih suka main layang-layang daripada berinovasi dalam energi terbarukan.

Nah, pemerintah punya berbagai upaya untuk mengatasi tantangan ini. Munculah energy transition mechanism (ETM) yang katanya untuk memberikan kompensasi kepada investor pembangkit listrik fosil yang mau beralih ke terbarukan sebelum kontrak berakhir. Jadi, seolah-olah kita dibayar untuk berhenti bermain dengan batu bara. Bagus juga tuh!

Selanjutnya, mencari sumber pembiayaan dari negara maju dan organisasi internasional. Kayaknya ini mirip dengan minta duit dari tetangga. Kita minta, mereka kasih. Asyik ya, dapat dana segar, tapi entah bagaimana harus menggunakannya untuk transisi energi yang sebenarnya.

Dan jangan lupakan perubahan kebijakan yang katanya mendukung energi terbarukan. Tapi apakah perubahan kebijakan ini hanya omong kosong belaka? Mengizinkan pembangkit listrik terbarukan di luar rencana pemerintah, mengembangkan smart grid, dan lain sebagainya. Sepertinya ini hanya mimpi indah di siang bolong.

Pemerintah juga mengandalkan BUMN sebagai pahlawan transisi energi. Tapi apa yang mereka lakukan selain jadi penonton? Kolaborasi dan inovasi sepertinya hanyalah kata-kata kosong yang tidak pernah diwujudkan.

Lalu, muncul Transisi Energi G20. Sebuah forum untuk mencapai kesepakatan global dalam transisi energi. Ini seperti acara pesta besar tanpa ada tindakan nyata. Bicara aja sudah hebat, tapi tindakan apa yang sebenarnya dilakukan?

Dan di tengah semua ini, kita lupa bahwa masyarakat juga punya peran. Memang sih, kita bukan superhero, tapi setidaknya kita bisa ikut andil dalam perubahan. Ubah gaya hidup jadi lebih ramah lingkungan, dukung pengembangan energi terbarukan, dan beri sosialisasi yang masif tentang pentingnya energi hijau. Sayangnya, seringkali masyarakat dibiarkan terombang-ambing tanpa pendampingan yang nyata.

Jadi, transisi energi Indonesia adalah sebuah komedi tragis yang tak kunjung selesai. Kita banyak bicara, banyak rencana, tapi minim tindakan. Mungkin kita perlu belajar dari orang lain yang sukses dalam energi terbarukan. Kalau nggak, kita akan terus jadi penonton dan tertinggal dalam perubahan energi global. Mari berhenti bercanda dengan transisi energi dan mulai bertindak dengan serius. Selamat pagi, Indonesia!

Baca selanjutnya? Klik

Copyright © 2022 Jurrnalfaktual.id. All Rights Reserved

Copyright © 2022 BeramalBaik. All Rights Reserved

Terbaru

Indeks

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.