Aplaus untuk Nazi: Bagaimana Parlemen Kanada Membuat Blunder Sejarah

Rasyiqi
By Rasyiqi - Writer, Saintific Enthusiast
10 Min Read
- Advertisement -

jfid – Pada hari Jumat, 22 September 2023, Parlemen Kanada menyambut kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dengan penuh antusiasme.

Namun, di tengah-tengah acara yang seharusnya menjadi momen persahabatan antara dua negara, terjadi sebuah insiden yang mengejutkan dan memalukan: para anggota parlemen memberikan standing ovation kepada seorang pria yang pernah berjuang untuk unit Nazi selama Perang Dunia II.

Pria itu adalah Yaroslav Hunka, seorang imigran Ukraina berusia 98 tahun yang tinggal di North Bay, Ontario. Dia adalah mantan anggota Divisi Galisia, yang juga dikenal sebagai Divisi Waffen-SS Ukraina Pertama atau SS 14th Waffen Division, sebuah unit sukarelawan yang berada di bawah komando Nazi.

Divisi ini bertanggung jawab atas pembunuhan massal terhadap orang Yahudi dan kelompok lainnya dengan tingkat kekejaman dan kebencian yang tak terbayangkan.

Ad imageAd image

Hunka diundang oleh Speaker Anthony Rota, yang memperkenalkannya sebagai “pahlawan Ukraina, pahlawan Kanada, dan kami berterima kasih atas semua pelayanannya.”

Para anggota parlemen bersorak dan Zelenskyy mengangkat tinjunya sebagai pengakuan saat Hunka memberi hormat dari galeri selama dua kali standing ovation.

Insiden ini segera menimbulkan kemarahan dan kecaman dari berbagai organisasi Yahudi dan pengguna media sosial, yang menuntut permintaan maaf dari Parlemen Kanada.

Mereka menganggap bahwa memberikan penghormatan kepada seorang mantan anggota unit Nazi adalah sebuah penghinaan terhadap korban dan veteran Holocaust, serta sebuah bentuk distorsi sejarah.

“Kenyataan bahwa seorang veteran yang berjuang untuk unit militer Nazi diundang dan diberikan standing ovation di Parlemen sangat mengejutkan. Di saat antisemitisme dan distorsi Holocaust meningkat, sangat mengganggu melihat Parlemen Kanada bangkit untuk memberi tepuk tangan kepada seseorang yang merupakan anggota unit di Waffen-SS, sebuah cabang militer Nazi yang bertanggung jawab atas pembunuhan orang Yahudi dan lainnya dan yang dinyatakan sebagai organisasi kriminal selama Pengadilan Nuremberg,” demikian pernyataan dari Friends of Simon Wiesenthal Center for Holocaust Studies, sebuah organisasi nirlaba Kanada yang berdedikasi untuk mendidik masyarakat tentang Holocaust.

Rota mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu sore, mengatakan bahwa dia mengakui seorang individu di galeri pada hari Jumat, dan bahwa dia “telah mengetahui informasi lebih lanjut yang menyebabkan dia menyesali keputusannya untuk melakukannya.”

Dia juga mengatakan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk sesama anggota parlemen dan delegasi Ukraina, yang mengetahui niat atau ucapan dia sebelum dia menyampaikannya. “Saya ingin menjelaskan bahwa saya mengundang seorang individu ke galeri pada hari Jumat, dan saya telah mengetahui informasi lebih lanjut yang menyebabkan saya menyesali keputusan saya untuk melakukannya,” tulisnya.

“Saya ingin menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk sesama anggota parlemen dan delegasi Ukraina, yang mengetahui niat atau ucapan saya sebelum saya menyampaikannya. Saya khususnya ingin menyampaikan permintaan maaf terdalam saya kepada komunitas Yahudi di Kanada dan di seluruh dunia.”

Namun, pernyataan Rota tidak menjelaskan apa yang dia minta maafkan, dan tidak menyebutkan nama Hunka atau memberikan rincian apa pun tentang apa yang dia ketahui tentang dia sejak hari Jumat. Pernyataan itu juga tidak menyentuh masalah mengapa Hunka diundang ke Parlemen dan bagaimana dia bisa lolos dari pengecekan latar belakang.

Beberapa analis politik mengatakan bahwa insiden ini menunjukkan ketidaktahuan dan kelalaian Parlemen Kanada dalam menangani isu-isu sejarah yang sensitif, terutama yang berkaitan dengan Holocaust dan peran Ukraina dalam Perang Dunia II. Mereka juga mengatakan bahwa insiden ini dapat merusak hubungan Kanada dengan komunitas Yahudi dan negara-negara sekutu lainnya yang berjuang melawan Nazi.

“Parlemen Kanada telah membuat blunder sejarah yang besar dengan memberikan aplaus kepada seorang mantan Nazi. Ini adalah sebuah penghinaan yang tidak dapat dimaafkan terhadap jutaan korban Holocaust dan mereka yang berkorban untuk mengalahkan rezim Nazi.

Ini juga menunjukkan betapa lemahnya pengetahuan dan penghargaan Parlemen Kanada terhadap sejarah dunia dan nilai-nilai demokrasi. Parlemen Kanada harus segera meminta maaf secara tulus dan menjelaskan bagaimana kesalahan ini bisa terjadi,” kata Dr. David Cohen, seorang ahli sejarah dan politik dari Universitas Toronto.

Sementara itu, Hunka sendiri belum memberikan komentar apapun tentang insiden ini. Menurut laporan media, dia adalah seorang pensiunan insinyur sipil yang telah tinggal di Kanada sejak tahun 1950. Dia juga dikenal sebagai seorang aktivis komunitas Ukraina yang sering berpartisipasi dalam acara-acara kebudayaan dan sosial.

Dia mengklaim bahwa dia bergabung dengan Divisi Galisia pada tahun 1943 karena dia ingin membebaskan Ukraina dari penjajahan Soviet, dan bahwa dia tidak pernah terlibat dalam kejahatan perang apa pun.

Namun, klaim tersebut bertentangan dengan bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Divisi Galisia adalah bagian dari mesin pembunuhan Nazi yang bertujuan untuk menghapus orang Yahudi dan kelompok lainnya yang dianggap tidak layak hidup. Menurut Holocaust Encyclopedia, Divisi Galisia dibentuk pada tahun 1943 dengan bantuan dari pemerintah boneka Nazi di Ukraina, yang dipimpin oleh Stepan Bandera, seorang pemimpin nasionalis Ukraina yang berkolaborasi dengan Nazi.

Divisi ini terdiri dari sekitar 14.000 sukarelawan Ukraina, yang dilatih dan dipersenjatai oleh Nazi. Divisi ini berpartisipasi dalam operasi-operasi militer melawan pasukan Soviet dan gerilyawan Polandia, serta terlibat dalam pembantaian terhadap orang Yahudi dan warga sipil lainnya di wilayah Galisia, yang kini menjadi bagian dari Ukraina barat dan Polandia selatan.

Setelah perang berakhir, banyak anggota Divisi Galisia yang melarikan diri ke negara-negara Barat, termasuk Kanada, dengan mengaku sebagai pengungsi atau pekerja paksa. Mereka juga mendapat dukungan dari organisasi-organisasi nasionalis Ukraina yang berusaha untuk membersihkan citra mereka dari keterlibatan dengan Nazi. Beberapa dari mereka bahkan mendapatkan kewarganegaraan Kanada dan menjadi bagian dari komunitas Ukraina yang besar di negara itu.

Namun, keberadaan mereka tidak luput dari kontroversi. Pada tahun 1986, pemerintah Kanada membentuk Komisi Deschênes, yang bertugas untuk menyelidiki dugaan kehadiran penjahat perang Nazi di Kanada. Komisi ini menemukan bahwa sekitar 2.000 orang Kanada adalah mantan anggota Divisi Galisia, dan merekomendasikan agar mereka dicabut kewarganegaraannya dan dideportasi.

Namun, rekomendasi ini tidak pernah dilaksanakan, karena pemerintah Kanada menganggap bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk membuktikan keterlibatan mereka dalam kejahatan perang.

Sejak itu, mantan anggota Divisi Galisia dan para pendukungnya terus berusaha untuk merehabilitasi reputasi mereka dan menggambarkan diri mereka sebagai pejuang kemerdekaan Ukraina, bukan sebagai kolaborator Nazi. Mereka juga mendapat dukungan dari sebagian politisi.

Mereka juga mendapat dukungan dari sebagian politisi Kanada, yang menganggap bahwa Divisi Galisia adalah sekutu dalam perjuangan melawan komunisme dan agresi Rusia. Pada tahun 2010, mantan Perdana Menteri Kanada Stephen Harper menghadiri upacara peringatan Divisi Galisia di Toronto, dan menyebut mereka sebagai “pahlawan-pahlawan yang berani”.

Pada tahun 2018, mantan Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland, yang memiliki latar belakang Ukraina, menghadapi kontroversi setelah terungkap bahwa kakeknya adalah seorang editor surat kabar pro-Nazi di Ukraina yang memuji Divisi Galisia.

Namun, dukungan ini juga menimbulkan protes dan kritik dari banyak pihak, termasuk komunitas Yahudi, organisasi hak asasi manusia, dan negara-negara sekutu Kanada. Mereka menuduh bahwa Kanada telah mengabaikan fakta-fakta sejarah dan menutup mata terhadap kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Divisi Galisia.

Mereka juga menuntut agar Kanada menghentikan segala bentuk penghormatan atau pengakuan terhadap Divisi Galisia dan mantan anggotanya.

“Kami sangat prihatin dengan sikap Kanada yang terus memberikan legitimasi dan penghormatan kepada Divisi Galisia, yang merupakan bagian dari organisasi kriminal Nazi. Kami mendesak Kanada untuk menghormati memori korban Holocaust dan mengakui tanggung jawab moralnya untuk menentang segala bentuk antisemitisme, rasisme, dan kebencian,” kata Michael Mostyn.

Michael Mostyn melanjutkan bahwa “Kami juga mendesak Kanada untuk mengambil langkah-langkah konkret untuk menghapus simbol-simbol dan monumen-monumen Divisi Galisia dari ruang publik dan menghukum mereka yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mempromosikan ideologi Nazi,” kata Michael Mostyn, CEO dari B’nai Brith Canada, sebuah organisasi Yahudi yang berfokus pada advokasi hak asasi manusia.

Insiden terbaru di Parlemen Kanada menambah daftar panjang kesalahan dan kontroversi yang melibatkan Divisi Galisia dan mantan anggotanya. Insiden ini juga menunjukkan betapa pentingnya untuk mengedukasi masyarakat tentang sejarah Holocaust dan peran Ukraina dalam Perang Dunia II.

Hal itu juga untuk menghormati korban dan veteran yang berjuang melawan Nazi. Dengan demikian, Kanada dapat menghindari pengulangan kesalahan yang sama dan memperbaiki hubungannya dengan komunitas Yahudi dan negara-negara sekutu lainnya.

- Advertisement -
Share This Article