jfid – Delapan bandar udara di Indonesia kembali melayani penerbangan pada Selasa 8 September 2026 setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan hasil pengujian paper test negatif dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Keputusan ini mengakhiri masa penutupan sementara yang memaksa ratusan penerbangan ditunda atau dibatalkan sejak erupsi besar terjadi pada Minggu 6 September 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa tim teknis telah melakukan pengujian berkala di beberapa titik strategis untuk melengkapi data satelit dan informasi meteorologi penerbangan. Hasil observasi per pukul 06.00 WIB tidak mendeteksi adanya sisa abu vulkanik yang membahayakan keselamatan udara di delapan lokasi bandara yang sebelumnya ditutup.
Penutupan bandara dimulai usai Gunung Anak Krakatau erupsi dengan amplitudo maksimum 58 mm dan durasi 44 detik pada Minggu 6 September pukul 20.23 WIB. Abu vulkanik menyebar luas hingga ke wilayah Jakarta dan membentuk dua klaster utama berdasarkan analisis citra Himawari-9. PT Angkasa Pura Indonesia kemudian memutuskan untuk menghentikan operasional empat bandara utama hingga Senin 7 September pukul 18.00 WIB.
Pada pukul 00.30 WIB Selasa pagi, Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang menjadi yang pertama membuka kembali operasionalnya. Hanya sepuluh menit kemudian, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta mengikuti langkah yang sama. Bandara Husein Sastranegara di Bandung dibuka pada pukul 00.42 WIB, diikuti Bandara Budiarto Curug pukul 01.25 WIB dan Pondok Cabe pukul 01.28 WIB, keduanya di Tangerang.
Di luar Jawa, Bandara Muhammad Taufik Kiemas di Sumatra Selatan dibuka kembali pada pukul 09.31 WIB. Sementara itu, Bandara Radin Inten II di Lampung dan Bandara Salakanagara Tanjung Lesung di Banten masing-masing dibuka pada pukul 09.45 WIB dan 09.50 WIB. Total waktu penutupan berlangsung antara 24 hingga 36 jam tergantung lokasi dan tingkat paparan abu.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan bahwa abu vulkanik bergerak ke arah selatan-barat daya dengan kecepatan 5 hingga 10 knot atau sekitar 9,3 hingga 18,5 kilometer per jam. Pergerakan tersebut membawa materi vulkanik ke bagian barat laut Banten dan Samudra Hindia. Ketinggian abu tercatat maksimum 7.000 kaki atau sekitar 2,13 kilometer dari permukaan laut.
Meski bandara telah dibuka, BMKG tetap memantau kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau dan perairan Selat Sunda. Praduga cuaca menunjukkan cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari. Namun, pihaknya mengingatkan maskapai penerbangan dan penumpang untuk tetap mengacu pada pengumuman terbaru karena kondisi vulkanik dapat berubah dengan cepat.
Secara terpisah, Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan bahwa risiko tsunami berada pada kategori rendah atau di bawah 50 persen. Pantauan melalui 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di Carita serta Tanjung Lesung tidak menemukan anomali gelombang muka air laut yang signifikan. BMKG memperkirakan tinggi gelombang di Selat Sunda berkisar antara 0,5 hingga 3 meter dalam tujuh hari ke depan.
Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia telah menerbitkan Notice to Airmen yang mengumumkan kesiapan operasional delapan bandara tersebut. Maskapai penerbangan diharapkan segera melanjutkan jadwal yang tertunda dan memberitahu penumpang mengenai perubahan penerbangan melalui kanal resmi masing-masing. Bagi calon penumpang yang mengalami pembatalan, beberapa maskapai telah menyediakan opsi refund atau perpindahan jadwal tanpa biaya tambahan.
Erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini menjadi pengingat bagi seluruh ekosistem transportasi udara Indonesia akan pentingnya sistem peringatan dini dan koordinasi antarlembaga. BMKG berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan real-time dan memberikan pembaruan secara berkala kepada publik, maskapai, serta operator bandara untuk memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga.

