Gizi Keluarga Tak Perlu Mahal Begini Strategi Belanja Saat Ekonomi Sulit

Ningsih Arini
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan daya beli membuat banyak keluarga Indonesia perlu menyusun ulang prioritas konsumsi sehari-hari. Fenomena ini bukan sekadar wacana, melainkan terukam dalam data Survei Sosial Ekonomi Nasional yang menandai perubahan drastis pola belanja masyarakat. Bagaimana gizi keluarga tetap terjaga meski kantong terasa menipis? Ahli gizi dan ekonom memberikan strategi konkret yang bisa diterapkan mulai dari hari ini tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia I Dewa Gede Karma Wisana menjelaskan bahwa tekanan ekonomi terasa paling berat oleh kelompok berpendapatan rendah. Data menunjukkan kuintil satu, yaitu kelompok paling bawah, menghabiskan 63,2 persen pendapatan untuk pangan. Angka ini kontras dengan kuintil lima yang hanya mengeluarkan 40,5 persen. Ketika harga pangan naik, kelompok termalap yang paling keras terkena dampaknya. Bila biaya hidup lainnya ikut melonjak, sisa anggaran untuk makan bisa menjadi sangat minim dan memaksa pengorbanan pada kualitas nutrisi.

Perubahan pola belanja juga terlihat jelas dari data SUSENAS 2024 dan 2025. Pengeluaran untuk makanan hanya bertambah 3,16 persen, sementara belanja non-makanan melonjak hampir 6 persen. Kondisi ini memaksa banyak keluarga melakukan trade-off antara kuantitas dan kualitas gizi. Beras tetap menjadi prioritas, tapi lauk pauk menyusut. Protein hewani seperti ikan, telur, susu, dan daging menjadi korban pertama dari penghematan. Akibatnya, piring makan menjadi dominan karbohidrat padahal gizi seimbang membutuhkan variasi yang lebih luas dan seimbang.

Pandangan bahwa protein hewani terlalu mahal sebenarnya bisa ditantang dengan melihat data harga pasar. Bias harga sering kali terfokus pada daging sapi yang memang premium dan tidak representatif bagi konsumsi sehari-hari. Padahal ada alternatif ekonomis seperti ikan, ayam, telur, dan susu yang masih terjangkau. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keanekaragaman ikan yang melimpah dengan harga yang bersaing. Ikan mengandung lemak tak jenuh yang sehat dan bisa menjadi tulang punggung protein keluarga sehari-hari tanpa harus menguras kantong.

Ahli Gizi Tara Mutiara Ramdani menekankan bahwa makanan sehat tidak identik dengan bahan mahal seperti salmon. Rata-rata penduduk Indonesia sudah memenuhi kebutuhan kalori harian, tapi masih didominasi oleh karbohidrat. Yang perlu diperbaiki adalah variasi sumber karbohidrat. Kimpul, umbi-umbian lokal, dan beras berwarna bisa menjadi pilihan yang lebih bergizi sekaligus ekonomis. Kita punya banyak pangan lokal yang sering diabaikan padahal kandungan gizinya tidak kalah baik bahkan terkadang lebih tinggi.

Untuk protein nabati, tempe dan tahu tetap menjadi pilihan yang sangat ekonomis dengan kandungan protein tinggi dan mudah didapat di semua wilayah. Namun, untuk anak-anak, protein hewani tetap penting karena mengandung asam lemak esensial lengkap yang mendukung tumbuh kembang otak dan fisik. Sayangnya, hanya 43 persen balita usia 6 hingga 23 bulan di Indonesia mendapatkan asupan bergizi beragam sesuai standar Minimum Acceptable Diet. Kondisi ini mengkhawatirkan karena masa anak-anak adalah masa kritis yang menentukan kualitas hidup di masa dewasa.

Tumpeng Gizi dan Isi Piringku menjadi panduan praktis dalam menyusun menu keluarga. Dua pertiga piring diisi karbohidrat, dua pertiga sayur, seper enam protein, dan seper enam buah. Di tengah tekanan ekonomi, strategi belanja yang cerdas menjadi kunci. Perhitungkan kandungan gizi setiap lauk yang dibeli. Jangan sampai hanya kenyang tapi minim nutrisi. Belanja di warung tenda atau pelayanan makanan sederhana pun bisa menghasilkan gizi yang baik asalkan ditambah sayur yang beragam dan bervariasi.

Susu juga bisa menjadi pelengkap yang padat gizi. Dengan skor DIAAS tertinggi di antara protein hewani, susu membantu meningkatkan mutu asupan harian. DIAAS atau Digestible Indispensable Amino Acid Score adalah metode pengukuran kualitas protein berdasarkan seberapa baik asam amino esensial dapat dicerna dan diserap oleh tubuh. Susu sapi memiliki nilai DIAAS di atas 100 persen, artinya penyerapannya sangat optimal dan efisien untuk mendukung pertumbuhan keluarga.

Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia Andrew F. Saputro menambahkan bahwa pengetahuan nutrisi semakin penting di tengah situasi sulit ini untuk membantu keluarga mengambil keputusan yang tepat sesuai kondisi dan kebutuhan. Melalui kampanye nasional Temani Langkahmu Kini dan Nanti, perusahaan ini berkomitmen mendukung kesehatan keluarga Indonesia dengan nutrisi terbaik sebagai fondasi kesehatan harian yang kuat untuk generasi masa kini dan masa depan.

Edukasi gizi bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga produktivitas generasi muda. Kesenjangan asupan gizi yang berlanjut bisa menimbulkan dampak jangka panjang berupa penurunan kemampuan fisik dan kognitif. Biaya pengobatan di masa depan akan jauh lebih besar daripada investasi nutrisi yang dilakukan sekarang. Maka, bijaklah dalam belanja dan bijaklah dalam memilih nutrisi untuk keluarga yang tetap optimal meskipun dengan anggaran yang terbatas. Nutrisi yang baik adalah investasi paling menguntungkan untuk masa depan anak-anak.

- Advertisement -
Share This Article