MCF 2026 di Sumenep Perjumpakan Ragam Budaya Jawa Timur

Ningsih Arini
4 Min Read
MCF 2026 di Sumenep Perjumpakan Ragam Budaya Jawa Timur (Ilustrasi)
Oplus_16908288
- Advertisement -

SUMENEP jg.id — Kabupaten Sumenep menjadi ruang perjumpaan beragam seni dan budaya Jawa Timur melalui gelaran Madura Culture Festival (MCF) 2026. Festival yang berlangsung di GOR A. Yani Pangligur itu mempertemukan kesenian dari sejumlah kabupaten dan kota dalam satu panggung budaya.

Kegiatan tersebut tidak sekadar menyuguhkan pertunjukan seni. MCF 2026 juga menjadi wadah untuk memperkuat interaksi antarpelaku seni sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, keberagaman seni dan budaya merupakan kekuatan sekaligus identitas yang perlu dijaga di tengah perubahan zaman.

“Jawa Timur kaya dengan seni dan budaya yang merupakan bagian penting dari identitas setiap daerah,” ujar Achmad Fauzi, Jumat (28/8/2026).

Menurut dia, festival yang mempertemukan berbagai kesenian daerah dapat menjadi sarana bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali mengenal warisan budaya. Perbedaan karakter seni dari masing-masing daerah justru menjadi kekayaan yang dapat dipertemukan melalui kegiatan kebudayaan.

“MCF menjadi ruang bersama untuk menjaga, melestarikan, sekaligus mengembangkan seni budaya daerah. Kekayaan budaya di Madura dan kawasan Tapal Kuda merupakan aset yang harus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Achmad Fauzi menegaskan, pelestarian budaya tidak berarti mempertahankan kesenian secara monoton. Inovasi diperlukan agar seni tradisional tetap relevan dan mampu menarik minat generasi muda tanpa menghilangkan nilai serta identitas aslinya.

“Budaya harus tetap hidup dan berkembang dengan inovasi mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” tegasnya.

Dalam MCF 2026, Sumenep tampil membawa Tari Sonar Mosem Nemor. Sejumlah daerah lain turut mempersembahkan karya seni khas masing-masing.

Kabupaten Tuban menampilkan Tari Mustikaning Kenya, Kota Probolinggo dengan Tari Nyareh Jukok, Kabupaten Bondowoso membawa Wirogo Singo Konah, Kota Blitar menampilkan Tari Pleret, Kabupaten Malang dengan Tari Sekar Tunjung Biru, serta Kabupaten Pasuruan melalui Tari Gelora Pesisir.

Sementara itu, Kabupaten Nganjuk menghadirkan Tari Anjuk Ladang Tumadang, Banyuwangi dengan Tari Majestik, Situbondo melalui Tari Bheko Tambeng, Bangkalan dengan Tari Arojung Paseseran, Sampang membawa Tari Kerabhen Sape, dan Pamekasan menampilkan Tari Sandoreng.

Kehadiran berbagai kesenian tersebut menunjukkan keragaman karakter budaya di Jawa Timur. Setiap daerah membawa identitasnya masing-masing, namun seluruhnya dapat bertemu dan berkolaborasi dalam satu ruang kebudayaan.

Bagi Pemerintah Kabupaten Sumenep, festival ini sekaligus menjadi momentum untuk memperluas pengenalan budaya Madura. Sementara bagi daerah peserta, MCF menjadi panggung untuk memperkenalkan kesenian lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Achmad Fauzi berharap MCF tidak berhenti sebagai agenda pertunjukan, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mampu mendorong kreativitas para pelaku seni sekaligus memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga identitas budaya daerah. Mari jadikan Madura Culture Festival sebagai ruang untuk berkarya, berkolaborasi dan memperkenalkan kekayaan seni budaya kita kepada Indonesia,” pungkasnya.

- Advertisement -
Share This Article