Autisme di Vietnam Disebut Melonjak Imbas Vaksin Bill Gates Begini Bukti Ilmiah yang Membantah

Rasyiqi
By Rasyiqi - Writer, Saintific Enthusiast
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Klaim bahwa vaksin yang dibawa Yayasan Bill dan Melinda Gates menyebabkan lonjakan kasus autisme di Vietnam kembali viral di media sosial. Video lama ini muncul bersamaan dengan kunjungan Bill Gates ke Istana Indonesia untuk membahas kemitraan kesehatan, termasuk rencana pengujian vaksin TBC di tanah air. Pernyataan tersebut menimbulkan kebingungan dan kecemasan di kalangan masyarakat, meskipun tidak memiliki dasar bukti yang kuat dan justru bertentangan dengan konsensus ilmiah global.

Video yang beredar sejak 2019 menampilkan Anthony Phan, seorang dokter yang berbasis di California yang tidak berspesialisasi dalam autisme. Ia menegaskan bahwa sejak program vaksinasi Gates diperkenalkan di Vietnam, kasus autisme melonjak lebih dari 300 persen. Namun, sejumlah ahli kesehatan dan otoritas Vietnam segera membantah klaim tersebut secara kategori dan berdasarkan data ilmiah yang terpercaya serta data statistik nasional.

Quyet Minh Nguyen, psikiater di Rumah Sakit Anak Nasional Vietnam, menegaskan tidak ada hubungan antara vaksinasi dan autisme di Vietnam maupun di negara lain. Ia menjelaskan bahwa gangguan spektrum autisme adalah disabilitas perkembangan yang penyebabnya kompleks, kemungkinan melibatkan faktor genetik dan lingkungan. Mengaitkan autisme dengan vaksinasi dianggap tidak ilmiah dan berpotensi merusak upaya kesehatan masyarakat.

Tidak ada hubungan antara vaksinasi dan autisme di Vietnam atau negara lain. Mengatakan vaksinasi menyebabkan autisme tidak ilmiah. Pernyataan tegas ini didasari temuan konsensus global yang telah terukus lebih dari dua dekade oleh komunitas kedokteran dan kesehatan masyarakat dunia dalam berbagai publikasi terkemuka.

Studi besar tahun 2002 di Denmark menjadi salah satu acuan utama dalam membantah klaim tersebut. Peneliti memeriksa data 537.303 anak dan menemukan bahwa 82 persen di antaranya telah menerima vaksin MMR atau campak gondok rubella. Tingkat autisme pada kelompok yang divaksinasi sama persis dengan kelompok yang tidak divaksinasi, membuktikan tidak ada korelasi yang signifikan meskipun populasi yang diteliti sangat besar dan mewakili.

The Journal of the American Medical Association pada 2015 menerbitkan penelitian terhadap lebih dari 90.000 anak yang juga mengkonfirmasi vaksin MMR tidak meningkatkan risiko gangguan spektrum autisme. Studi ini menjadi landasan teoretis bagi kebijakan imunisasi global dan terus dikutip oleh para ahli saat terjadi misinformasi di era digital.

Para ilmuwan juga meneliti kemungkinan hubungan antara thimerosal, pengawet berbasis merkuri yang dahulu digunakan dalam beberapa vaksin, dengan autisme. Studi tahun 2009 dari Rumah Sakit Anak Philadelphia meninjau tujuh penelitian independen dan menyimpulkan bahwa tidak ada bukti mendukung hubungan tersebut meskipun isu tersebut kerap dibangkitkan kembali oleh kelompok anti-vaksin di berbagai belahan dunia.

Kenaikan angka autisme yang dilaporkan di Vietnam sebenarnya disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda autisme yang semakin tinggi. Kedua, perubahan kriteria diagnosis yang lebih sensitif menangkap kasus sejak dini. Lebih banyak anak teridentifikasi sekarang bukan karena lebih banyak yang sakit, melainkan karena sistem deteksi dan layanan kesehatan yang lebih baik.

Organisasi Kesehatan Dunia secara resmi menyatakan pada 2015 bahwa Vietnam memiliki sistem regulasi nasional yang memastikan keamanan dan efektivitas vaksin yang diproduksi dan digunakan. Program Imunisasi Diperluas Vietnam berhasil mengendalikan penyakit berbahaya seperti campak, polio, dan tetanus neonatal berkat dukungan UNICEF dan Gavi yang juga didukung oleh Yayasan Gates sebagai donor utama.

Video viral yang beredar sebenarnya diambil dari dokumenter kontroversial Vaxxed: From Cover-up to Catastrophy yang disutradarai Andrew Wakefield. Dokter Inggris ini kehilangan lisensi medis setelah dinyataan memalsukan data dalam makalah tahun 1998 yang menghubungkan autisme dengan vaksin MMR. The Lancet menarik kembali makalah tersebut setelah investigasi menemukan kesalahan serius dalam metodologi dan konflik kepentingan yang tidak diungkapkan.

Yayasan Bill dan Melinda Gates menegaskan bahwa klaim hubungan vaksinasi dengan autisme salah. Pernyataan ini kembali ditegaskan setelah video viral kembali menyebar di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk di tengah kabar rencana kerja sama kesehatan dengan pemerintah Indonesia. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan mencari informasi dari sumber resmi sebelum menyebarkan konten yang belum terverifikasi.

Memahami perbedaan antara bukti ilmiah dan klaim viral menjadi sangat penting di era informasi yang berkembang cepat. Sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi, verifikasi dari sumber terpercaya seperti WHO, UNICEF, dan institusi kesehatan nasional sangat diperlukan untuk menjaga kesadaran publik yang akurat dan mengurangi kepanikan yang tidak perlu.

Program vaksinasi global telah menyelamatkan ratusan juta nyawa dan menghilangkan penyakit-penyakit menular yang pernah menjadi momok kematian. Menghentikan atau meragukan keamanan vaksinasi hanya karena klaim tanpa bukti akan membuka ruang untuk kambuhnya penyakit yang sudah terkendali. Literasi kesehatan yang tinggi menjadi pertahanan terbaik terhadap misinformasi yang berkedip-kedip di tengah masyarakat.

Masyarakat Indonesia diharapkan dapat lebih kritis terhadap informasi kesehatan yang beredar di media sosial. Program imunisasi nasional tetap menjadi salah satu pilar utama kesehatan publik yang terbukti efektif melindungi generasi muda dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah.

- Advertisement -
Share This Article