Keripik Pisang Sidoarjo yang Tembus Pasar Malaysia dan Hong Kong

Rasyiqi
By Rasyiqi - Writer, Saintific Enthusiast
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Dari sebuah dapur rumah di Sidoarjo, Jawa Timur, muncul camilan yang kini sudah berada di meja konsumen di Malaysia dan Hong Kong. Keripik pisang buatan PT WWA Andik Sukses bukan sekadar jajanan pinggir jalan, melainkan bukti nyata bagaimana komoditas lokal bisa diolah menjadi produk bernilai ekspor.

Wiliyah Wiji Astutik memulai segalanya pada 2019 dengan peralatan yang sangat sederhana. Ia melihat pisang di lingkungannya yang melimpah namun umumnya hanya dijual dalam bentuk mentah dengan harga rendah. Konsepnya jelas: mengangkat nilai tambah dari komoditas lokal agar petani dan pengusaha kecil bisa mendapatkan keuntungan yang lebih layak.

Setiap pisang yang tadinya hanya bernilai beberapa ribu rupiah kini bertransformasi menjadi keripik yang bisa menembus pasar internasional. Perjalanan ini membutuhkan ketelatenan tinggi. Wiliyah melakukan banyak uji coba untuk mendapatkan tingkat kerenyahan yang konsisten, variasi rasa yang disukai anak muda, dan bentuk yang menarik namun tetap mempertahankan karakteristik pisang asli.

Keunggulan utama produk ini terletak pada penggunaan rasa alami tanpa tambahan gula berlebih. Manisnya datang dari buah itu sendiri. Bentuk bulat tipis seperti keripik kentang membuatnya mudah disantap kapan saja. Varian rasa manis menjadi produk terlaris dan paling banyak dicari oleh pelanggan karena selera universal.

Ekspansi ke pasar internasional bukanlah kebetulan. Melalui program Rumah BUMN BRI, Wiliyah mendapatkan akses pelatihan desain kemasan, fotografi produk, dan digital marketing. Program BRIncubator dan BRILiaNpreneur membantu usahanya bertransformasi dari UMKM tradisional menjadi bisnis yang siap bersaing di era digital.

Jangkauan pasar yang tadinya hanya lokal kini merambah Malaysia dan Hong Kong. Pendampingan dari BRI tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga membuka jaringan bisnis yang lebih luas. Wiliyah mendapatkan kesempatan berpartisipasi dalam bazar klaster di Regional Office Surabaya yang mempertemukannya dengan distributor dan supplier.

Peran perbankan digital dalam perjalanan usaha ini juga tidak bisa diabaikan. Layanan BRImo dan QRIS BRI memudahkan transaksi sehari-hari. Pembayaran dari pelanggan menjadi lebih praktis dan efisien. Delapan karyawan yang kini tersaingi menunjukkan bahwa pertumbuhan UMKM bukan hanya mengangkat pendapatan pelaku usaha, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.

Di masa depan, Wiliyah berencana memperluas pasar hingga ke tingkat global. Ia juga ingin menambah variasi rasa dan menyediarkan kemasan yang lebih ekonomis agar produk ini bisa menjangkau lebih banyak kalangan. Konsistensi kualitas menjadi faktor penentu utama dalam menghadapi persaingan pasar camilan yang semakin ketat. Setiap batch produksi diawasi secara personal.

Wiliyah menekankan bahwa dari pemilihan pisang yang masih segar hingga penggorengan dengan suhu yang tepat, setiap langkah diperhatikan. Tekstur yang renyah namun tidak terlalu tebal adalah hasil dari penyesuaian waktu dan suhu yang dipetik dari ratusan kali percobaan. Itulah yang membuat pelanggan tetap setia dan merekomendasikan ke orang lain.

Bagi para pebisnis kuliner pemula, pengalaman Wiliyah menjadi cerminan bahwa kesuksesan tidak harus dimulai dari modal besar. Yang penting adalah keberanian memulai dari yang kecil, konsisten meningkatkan kualitas, dan tidak ragu memanfaatkan program support yang tersedia. Setiap pantulan pisang yang digoreng renyah di dapur Sidoarjo adalah bukti bahwa visi besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dijalankan dengan penuh keyakinan.

Sektor kuliner Indonesia memiliki potensi besar untuk goes global. Produk seperti keripik pisang Visang membuktikan bahwa citarasa lokal bisa diterima di pasar internasional asal diproses dengan standar yang baik dan didukung oleh cerita yang kuat. Saat ini tren healthy snack semakin populer, dan produk tanpa tambahan gula berlebih memiliki peluang emas untuk menembus pasar yang semakin sadar kesehatan.

Melalui Rumah BUMN BRI, para pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan pendampingan teknis. Mereka juga diperkenalkan ke ekosistem e-commerce yang memudahkan produk menjangkau konsumen di kota besar maupun luar negeri. Akses ke platform digital membantu UMKM yang sebelumnya hanya berjualan di tingkat lokal untuk bersaing di pasar yang lebih luas.

Kisah ini juga menjadi bukti bahwa UMKM adalah tulang punggung perekonomian nasional. Ketika UMKM tumbuh, dampaknya tidak hanya terasa pada pelaku usaha. Ekonomi lokal ikut bergerak, lapangan kerja terbuka, dan produk Indonesia semakin dikenali di kancah internasional.

BRI terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis bagi UMKM agar semakin banyak pelaku usaha yang naik kelas, berdaya saing global, dan menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Transformasi yang dialami PT WWA Andik Sukses menunjukkan bahwa dengan ekosistem pemberdayaan yang komprehensif, masa depan UMKM Indonesia semakin cerah dan penuh peluang.

Produk keripik pisang ini juga menjadi representasi dari kreativitas anak bangsa yang tidak perlu mengorbankan identitas lokal untuk bersaing di pasar global. Dengan mempertahankan cita rasa autentik dan menghadirkan inovasi dalam kemasan, Wiliyah membuktikan bahwa produk Indonesia bisa tampil percaya diri di kancah internasional.

- Advertisement -
Share This Article