jfid – Gaji median CEO perempuan di S&P 500 pada 2025 mencapai 18,5 juta dolar AS atau sekitar 296 miliar rupiah, melampaui pendapatan rekan pria sebesar 11 persen. Kenaikan ini bukan kebetulan. Sejak 2023, kompensasi CEO perempuan sudah melonjak 21 persen, sementara peningkatan untuk CEO laki-laki hanya 12 persen. Fenomena ini membuktikan bahwa perempuan bukan lagi sekadar peserta di ruang rapat, melainkan pemimpin yang diakui secara finansial. Namun, di balik angka yang memikat, realitas yang lebih kompleks masih tersembunyi di balik tirai glass cliff atau tebing kaca yang kerap menuntun wanita pada posisi berisiko tinggi.
Perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat mulai melihat nilai intrinsik dari kepemimpinan perempuan. Permintaan akan keragaman manajemen pasca-krisis ekonomi menempatkan CEO perempuan sebagai aset strategis, bukan sekadar quota yang harus diisi. Mereka dinilai memiliki pendekatan manajemen risiko yang lebih seimbang dan kecenderungan inovasi yang lebih kuat. Studi dari National Girls Collaborative Project menunjukkan bahwa perusahaan dengan lebih banyak perempuan di posisi eksekutif mengungguli rekan-rekan dalam profitabilitas, pangsa pasar, dan pengembalian pemegang saham. Bank Finlandia Nordea menemukan bahwa perusahaan yang dipimpin CEO perempuan menghasilkan pengembalian tahunan 25 persen selama delapan tahun, jauh melampaui angka 11 persen dari indeks perusahaan global.
Namun, perjalanan ke posisi puncak tidak sepenuhnya mulus. Padatnya perwakilan perempuan masih terlihat jelas. Pada 2024, hanya 25 dari 341 CEO S&P 500 adalah perempuan, angka tertinggi sejak survei dimulai pada 2011, tetapi tetap hanya 7 persen dari total posisi. Di Russell 3000, persentase bahkan lebih rendah, yakni 6 persen. Andrew Jones dari The Conference Board Governance & Sustainability Center menegaskan bahwa tantangan terbesar bukanlah kesetaraan kompensasi, melainkan akses. Memastikan lebih banyak perempuan mencapai level CEO menjadi kunci untuk menutup disparitas yang masih ada.
Fenomena glass cliff juga kerap menghantui karier perempuan di tingkat tertinggi. Penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih sering ditunjuk untuk memimpin perusahaan yang sedang bergelut dengan krisis, menempatkan mereka pada posisi yang lebih rentan terhadap kegagalan. Padahal, jika mereka berhasil menuntun perusahaan keluar dari kesulitan, pengakuan yang diterima seringkali tidak setimpal dengan tekanan yang dihadapi. Ini adalah pola yang harus dipecah oleh kebijakan perusahaan yang lebih adil dan transparan.
Untuk perempuan yang bermimpat menggapai posisi eksekutif, beberapa langkah praktis dapat meningkatkan peluang kesuksesan. Pertama, bangun jaringan profesional yang solid sejak awal karier. Mentorship dari pemimpin perempuan yang sudah mapan dapat membuka pintu yang sebelumnya tertutup. Kedua, kembangkan kompetensi di bidang strategi dan finansial, karena dua area ini sering menjadi penentu utama dalam promosi ke level tertinggi. Ketiga, jangan ragu mengambil proyek-proyek yang menantang, termasuk yang berada di luar zona nyaman, karena pengalaman tersebut menjadi bukti kapasitas leadership.
Keempat, perkuat literasi finansial dan pemahaman tentang struktur kompensasi eksekutif. Banyak perempuan terjebak pada gaji tetap tanpa memahami nilai insentif berbasis kinerja yang bisa menjadi bagian signifikan dari paket kompensasi. Kelima, pilih perusahaan yang memiliki track record nyata dalam mendukung promosi perempuan, bukan hanya sekadar klaim di brochure. Keenam, bangun personal brand yang kuat melalui publikasi, speaking engagement, atau kontribusi di industri, karena visibilitas sering menjadi faktor penentu dalam seleksi CEO.
Ketujuh, pelajari negotiation skill yang efektif. Data menunjukkan bahwa perempuan cenderung kurang agresif dalam meminta kenaikan gaji atau promosi dibandingkan rekan pria, meskipun kontribusi mereka setara. Latih diri untuk menyajikan nilai bisnis yang Anda bawa, bukan hanya daftar tanggung jawab. Kedelapan, kelola energi dan waktu dengan bijak, karena budaya eksekutif sering mengharapkan ketersediaan tanpa batas. Perempuan yang bisa menetapkan batasan yang jelas tanpa mengorbankan kinerja akan lebih bertahan lama di level tertinggi.
Data kesuksesan CEO seperti Lisa Su dari AMD, Mary Barra dari General Motors, dan Jane Fraser dari Citigroup membuktikan bahwa perempuan mampu bersaing dan menang di arena korporat global. Lisa Su, yang memimpin perusahaan semi konduktor AMD, tidak hanya menaikkan nilai perusahaan secara drastis, tetapi juga membuktikan bahwa keahlian teknis dan visi strategis tidak mengenal gender. Mary Barra mengubah General Motors dengan fokus pada kendaraan listrik dan otonomi, menunjukkan bahwa perempuan bisa memimpin transformasi besar di industri yang historically dominated oleh pria.
Jane Fraser menjadi presiden pertama Citigroup dan membuktikan bahwa perempuan bisa memimpin lembaga keuangan global yang selama ini dipimpin pria. Kompensasi mereka bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari nilai yang mereka ciptakan bagi perusahaan dan pemegang saham. Di Indonesia, kisah-kisah perempuan yang naik ke posisi direktur dan komisaris di perusahaan BUMN dan swasta juga semakin banyak, membuktikan bahwa tren global ini juga terasa di tingkat lokal.
Kesenjangan yang masih ada di puncak piramida bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan peta yang menunjukkan betapa banyak ruang yang masih perlu dimenangi oleh generasi perempuan berikutnya. Setiap perempuan yang berhasil meraih posisi eksekutif tidak hanya membawa perubahan bagi dirinya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi jutaan perempuan lain yang sedang menatap langkah mereka dari bawah. Masa depan kepemimpinan perempuan cerah, asalkan mereka terus melangkah dengan strategi, percaya diri, dan dukungan komunitas yang solid.

