jfid – Teknologi jaringan seluler generasi keenam atau 6G dijadwalkan resmi diluncurkan pada tahun 2030 dengan kecepatan hingga seratus kali lipat lebih cepat dari 5G. Namun di balik angka yang mengagumkan tersebut tersedia tantangan besar dalam hal efisiensi energi dan kemacetan jaringan. Seorang dosen dari Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta mengajukan solusi inovatif yang mulai menarik perhatian dunia akademik global.
Dosen Fakultas Teknologi Informasi UNU Yogyakarta I Nyoman Apraz Ramatryana saat ini tengah menjalani studi postdoctoral di Khalifa University Uni Emirat Arab. Ia mengungkapkan bahwa metode optimalisasi yang dikembangkannya bernama Frequency-Time Index Modulation Multiple Access atau FT-IMMA. Teknologi ini menggabungkan dua dimensi sumber daya komunikasi yaitu frekuensi dan waktu secara bersamaan.
Metode konvensional pada jaringan seluler biasanya memegang prinsip pemakaian frekuensi atau waktu secara terpisah. Artinya setiap perangkat harus mengantre untuk mendapatkan akses menara pemancar. Sistem FT-IMMA memungkinkan miliaran perangkat mengirimkan data secara bersamaan tanpa harus menunggu giliran. Hal ini mengurangi kemacetan dan meningkatkan efisiensi penggunaan spektrum gelombang.
Riset ini telah dipublikasikan di jurnal IEEE Transactions on Vehicular Technology volume 74 edisi 5 tahun 2025. Menilik dari konteks global negara maju saat ini tengah berlomba-lomba menyempurnakan sistem komunikasi supercepat. Kontribusi ilmiah dari Indonesia ini membuktikan bahwa peneliti lokal juga mampu bersaing di tingkat internasional.
Kecepatan 6G yang dijanjikan mencapai ratusan gigabit per detik. Jaringan tersebut dirancang tidak hanya untuk keperluan komunikasi suara dan data. Integrasi dengan kecerdasan buatan internet of things serta dunia virtual menjadi jantung dari transformasi digital berikutnya. Tanpa efisiensi yang memadai infrastruktur 6G bisa saja menjadi mahal dan boros energi.
FT-IMMA dijelaskan dapat memangkas beban komunikasi jaringan atau overhead yang biasanya membuat koneksi menjadi lambat. Metode ini memungkinkan perangkat pintar saling berkomunikasi secara mulus tanpa harus melakukan proses permintaan izin yang berulang. Hasilnya transmisi data menjadi lebih cepat sekaligus mengurangi konsumsi daya baterai perangkat.
Dampak aplikasi teknologi ini tidak hanya terasa di bidang telekomunikasi. Apraz memproyeksikan FT-IMMA akan memberikan kontribusi besar pada enam bidang strategis. Mulai dari komunikasi imersif smart city industry 5.0 layanan berbasis kecerdasan buatan hingga jaringan ramah lingkungan. Setiap bidang tersebut membutuhkan infrastruktur komunikasi yang handal dan efisien.
Dalam konsep smart city teknologi ini dapat diterapkan pada sistem sinyal kereta api serta lampu lalu lintas real time. Penerapan tersebut diperkirakan mampu mengurangi kemacetan sekitar 15 hingga 30 persen. Di sisi lain sistem keamanan publik juga akan meningkat karena komunikasi antara perangkat sensor menjadi lebih responsif tanpa hambatan jaringan.
Aspek pelestarian lingkungan juga menjadi sorotan utama. Jaringan yang efisien secara energi dapat menopang sistem pemantauan area hijau untuk mendeteksi kerusakan hutan secara dini. Menurut Apraz kehadiran teknologi ini bakal berperan aktif dalam mencegah risiko kerusakan lingkungan yang lebih parah. Hal ini selaras dengan upaya penanggulangan perubahan iklim global.
DataReportal dan Statista mencatat saat ini ada sekitar 7,64 miliar unit smartphone aktif di seluruh dunia. Jumlah perangkat yang terus bertambah setiap tahun berisiko memicu kepadatan lalu lintas data. Tanpa solusi seperti FT-IMMA koneksi internet akan semakin lambat seiring bertambahnya jumlah pengguna.
Penelitian ini sejalan dengan arah pengembangan pendidikan tinggi Indonesia yang terus mendorong inovasi berbasis bukti. UNU Yogyakarta sebagai institusi pendidikan mengukuhkan positioning-nya sebagai pusat pengembangan teknologi komunikasi. Apraz sendiri adalah lulusan doktor IT Convergence Engineering dari Kumoh National Institute of Technology Korea Selatan. Latar belakang pendidikan internasionalnya memberikan perspektif global yang berharga dalam mengembangkan solusi untuk masalah lokal.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi terus mendorong kolaborasi antara universitas dengan industri. Riset FT-IMMA ini menjadi contoh nyata bagaimana hasil kerja keras akademik dapat dijadikan basis pengembangan infrastruktur nasional. Jika diterapkan di masa depan teknologi ini bukan hanya menjadi kebanggaan perguruan tinggi tetapi juga aset strategis bagi negara.
Transformasi digital yang sedang berlangsung menuntut infrastruktur komunikasi yang andal dan berkelanjutan. Riset yang dilakukan Dosen UNU Yogyakarta ini menawarkan jalan keluar dari dilema antara kecepatan tinggi dan konsumsi energi. Generasi mendatang akan menikmati internet yang lebih cepat tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan. Pendidikan tinggi memiliki peran sentral dalam mewujudkan visi tersebut melalui penelitian yang relevan dan berdampak.
Dengan semakin dekatnya era 6G kontribusi dari akademisi Indonesia semakin dibutuhkan. Riset FT-IMMA bukan sekadar teori kosong melainkan solusi yang siap dievaluasi untuk industri. Kolaborasi antara perguruan tinggi pemerintah dan swasta akan mempercepat tahap uji coba serta komersialisasi teknologi. Indonesia yang memiliki populasi perangkat digital masif menjadi laboratorium alami yang sempurna untuk menguji inovasi ini. Penerapan teknologi ini juga sejalan dengan program pemerintah menuju Indonesia Emas yang menekankan pada kemandirian teknologi nasional.
Masa depan komunikasi digital tidak hanya tentang kecepatan semata. Kemampuan menjaga keseimbangan antara kinerja tinggi dan keberlanjutan lingkungan menjadi tolok ukur keberhasilan. FT-IMMA hadir sebagai bukti bahwa inovasi dapat lahir dari kampus kecil di Yogyakarta dan memiliki potensi mengubah cara seluruh dunia terhubung. Langkah selanjutnya adalah mengubah naskah akademis menjadi produk yang siap pakai oleh masyarakat luas. Semua pihak mulai dari peneliti regulator hingga industri harus bekerja bersama untuk mewujudkannya.

