Kanker Paru Menyerang Anak Muda Ada yang Berusia Hanya 20 Tahun

Ningsih Arini
6 Min Read
- Advertisement -

Content:

jfid – Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengungkapkan kanker paru kini bisa menyerang anak muda berusia 20 tahun. Temuan ini menuangkan tantangan baru bagi sistem kesehatan nasional. Usia rata-rata pasien kanker paru di Indonesia berada di kisaran 40 tahun, lebih rendah dari rata-rata global 45 tahun menurut WHO. Ancaman penyakit ini kini menjangkau kelompok usia produktif.

Ketua Pokja Onkologi Toraks PDPI Erlang Samudro menyebut kasus tersebut bukan anomali. Pemeriksaan low-dose computed tomography atau LDCT bisa mendeteksi nodul paru kecil sebelum menjadi tumor ganas. Skrining terstruktur belum optimal di seluruh Indonesia. Tanpa pendekatan berjenjang, pasien umumnya datang ketika penyakit sudah stadium lanjut dan peluang pengobatan kuratif menipis.

Kendala utama adalah keterbatasan alat LDCT di luar pusat kota. Biaya pemeriksaan yang tinggi juga menghalangi kelompok berisiko tinggi untuk rutin skrining. Pemeriksaan foto toraks yang lebih terjangkau sering jadi alternatif, tetapi akurasinya terbatas. Lokasi lesi di belakang jantung atau tertutup scapula bisa terlewatkan pada hasil pemeriksaan.

Ketersediaan tenaga spesialis dan fasilitas penunjang juga belum merata. Radiologi toraks, bronkoskopi, patologi, serta terapi lanjutan masih terkonsentrasi di kota besar. Bagi pasien di daerah terpencil, proses rujukan bisa memakan waktu berhari-hari. Regulasi untuk skrining LDCT secara nasional juga belum lengkap, sehingga akses dan standar pelayanan belum terjamin.

Stigma sosial turut memperburuk kondisi. Banyak orang enggan skrining karena takut disalahkan sebagai perokok atau merasa takut mengetahui hasilnya. Rasa takut itu menambah hambatan psikologis yang mencegah deteksi dini. Padahal, penundaan pemeriksaan hanya memperpanjang proses diagnosis dan mengurangi pilihan pengobatan yang tersedia bagi pasien.

Mayoritas pasien kanker paru di Indonesia baru terdeteksi pada stadium III atau IV. Ketua Umum PDPI Arif Riadi Arifin menyampaikan angka tersebut menimbulkan kekhawatiran. Rata-rata 70 hingga 80 persen pasien datang pada tahap lanjut, sehingga operasi kuratif sering tak lagi menjadi pilihan dan terapi sistemik menjadi jalan utama.

Data Global Cancer Observatory yang disusun International Agency for Research on Cancer mencatat 2,4 juta kasus baru kanker paru secara global. Penyakit itu berkontribusi 18,7 persen terhadap mortalitas kanker dunia. Di Indonesia, kanker paru menempati posisi kedua dengan sekitar 38.900 kasus baru setiap tahun, menandakan beban kesehatan yang terus membesar.

Lebih dari 90 persen pasien kanker paru di Indonesia baru tahu diagnosis setelah penyakit sudah lanjut. Kondisi itu menciptakan tekanan ganda bagi rumah sakit dan keluarga pasien. Biaya pengobatan yang tinggi, khususnya terapi target dan imunoterapi, semakin memberatkan mereka yang tidak dilengkapi jaminan kesehatan yang memadai.

Deteksi dini melalui skrining berjenjang menjadi solusi yang ditawarkan PDPI. Orang dengan faktor risiko tinggi seperti perokok aktif maupun pasif, eks kerja industri berbahaya, atau riwayat keluarga dengan kanker paru disarankan melakukan pemeriksaan berkala. Nodul kecil yang ditemukan LDCT bisa diangkat melalui tindakan minimally invasive dengan prognosis lebih baik.

Pemerintah diminta mempercepat regulasi dan distribusi LDCT secara nasional. Pemeriksaan foto toraks tetap dapat dijadikan langkah awal di posyandu atau klinik pratama, tetapi perlu diikuti verifikasi dengan CT scan jika ditemukan kelainan. Jaminan kesehatan juga perlu memperluas jangkauan biaya agar tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal.

Faktor gaya hidup dan lingkungan juga memegang peranan penting. Paparan asap rokok aktif maupun pasif, polusi udara, serta bahan kimia industri meningkatkan risiko mutasi sel paru. Penelitian menyebutkan bahwa pencegahan dari tingkat rumah tangga hingga kebijakan kota adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan angka insiden kanker paru.

Masyarakat perlu meningkatkan literasi kesehatan pernapasan. Gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, sesak napas tanpa sebab jelas, atau nyeri dada yang terus berlanjut tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan ke dokter secepatnya dapat membantu memisahkan kanker paru dari tuberkulosis atau penyakit paru obstruktif kronik yang gejalanya serupa.

Kampanye kesadaran nasional dan edukasi sejak sekolah perlu diperkuat. Program vaksinasi pneumokokus juga bisa mengurangi beban infeksi saluran pernapasan yang sering menyerupai gejala kanker paru. Kolaborasi antara lembaga kesehatan, media, dan komunitas akan mempercepat perubahan persepsi publik terhadap deteksi dini penyakit paru.

Kombinasi regulasi yang jelas, distribusi teknologi yang merata, dan perubahan perilaku masyarakat adalah kunci untuk menekan angka kanker paru. Tanpa pendekatan multidisiplin, kanker paru akan tetap menjadi momok yang menyerang generasi muda Indonesia dan menimbulkan beban kesehatan serta ekonomi yang terus membesar dari tahun ke tahun.

- Advertisement -
Share This Article