Kelas di Padang Gempanya Mahasiswa UI Bantu Pulihkan Korban Gempa NTT

Deni Puja Pranata
7 Min Read
- Advertisement -

jfid – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengajak mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia untuk turun langsung ke Nusa Tenggara Timur dalam upaya trauma healing korban gempa. Langkah ini menandakan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berhenti di dalam kelas, tetapi juga harus mampu merespons krisis nyata di masyarakat. Keberadaan mahasiswa di lokasi bencana menjadi bukti konkret bahwa ilmu psikologi bisa menjadi alat pemulihan yang efektif ketika disandingkan dengan empati dan kerja sama lintas sektor. Kunjungan ini juga sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam penanganan bencana.

Gempa yang mengguncang NTT beberapa hari lalu menimbulkan luka yang meluas di luar kerusakan bangunan. Korban kehilangan tempat tinggal, kerabat, dan rasa aman. Gempa tersebut berdampak besar karena melanda daerah yang masih dalam proses pemulihan dari bencana sebelumnya. Banyak keluarga yang harus bertahan di tenda pengungsian tanpa akses layanan kesehatan mental yang memadai. Situasi ini memaksa mahasiswa untuk beradaptasi dengan cepat, menyusun modul intervensi yang sederhana namun berdampak, dan berkoordinasi dengan relawan lokal yang memahami konteks budaya NTT. Dampak psikologisnya sering kali tertunda dan muncul dalam bentuk insomnia, anxiety, atau perilaku regresi pada anak-anak. Mahasiswa UI yang telah dilatih memahami dinamika emosi manusia kini berhadapan langsung dengan trauma massa. Pendekatan yang mereka gunakan tidak sekadar konseling individu, melainkan juga kegiatan kelompok, permainan terapeutik, dan teknik relaksasi yang dapat diaplikasikan di posko pengungsian. Metode ini dipilih karena sesuai dengan kondisi lapangan yang membutuhkan solusi cepat, mudah diadaptasi oleh tim relawan, dan dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat.

Keterlibatan mahasiswa dalam operasi kemanusiaan juga menjadi bagian dari pembelajaran experiential education. Di sini, teori tentang gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan mekanisme koping bertemu dengan realitas penderitaan manusia. Setiap interaksi dengan anak-anak dan orang tua korban menjadi data kualitatif yang berharga bagi penelitian selanjutnya. Mahasiswa belajar membaca bahasa nonverbal, menangkap tekanan emosional, dan menyesuaikan teknik intervensi sesuai usia dan budaya setempat. Pengalaman seperti ini tidak mungkin didapat sepenuhnya dari buku teks atau simulasi kelas. Proses belajar di lapangan membentuk karakter akademisi yang lebih tangguh, kritis, dan manusiawi. Pendekatan experiential education yang dijalankan UI tidak terlepas dari prinsip konstruktivisme, di mana pengetahuan dibangun melalui pengalaman langsung dan refleksi. Mahasiswa diminta untuk menulis jurnal harian, mengelompokkan temuan, dan menyusun rekomendasi untuk tim kampus maupun pemerintah. Hasil dari kunjungan ini tidak hanya berupa laporan naratif, tetapi juga publikasi ilmiah yang dapat mendorong literatur psikologi krisis di Indonesia.

Pemerintah melihat partisipasi generasi muda sebagai fondasi ketahanan sosial bangsa. Gibran menekankan bahwa gotong royong bukan sekadar slogan, melainkan praktik konkret yang harus didorong sejak kampus. Mahasiswa yang terbiasa berdiskusi di aula kuliah kini diminta untuk menjadi garda terdepan dalam pemulihan mental masyarakat. Hal ini juga mencerminkan komitmen negara untuk menjadikan pendidikan sebagai motor penggerak perubahan sosial, bukan hanya alat promosi status sosial. Langkah tersebut sejalan dengan visi Indonesia yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, di mana ilmu yang dihimpun di kampus harus kembali mengalir untuk memecahkan masalah nyata di tengah masyarakat. Program ini juga menjadi modalitas pembelajaran citizenship yang otentik, di mana mahasiswa belajar tentang tanggung jawab publik dalam situasi darurat.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan instansi penanganan bencana membuka model baru penanganan pascabencana. UI menyediakan konsultan psikolog yang terlatih, sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah menyediakan akses lapangan dan logistik. Synergy ini menghemat waktu reaksi dan meningkatkan jangkauan pemulihan. Di masa depan, pola yang sama bisa diterapkan untuk bencana lain, seperti banjir atau longsor, dengan modifikasi teknik sesuai kebutuhan spesifik korban. Data pengumpulan di lapangan juga bisa dimasukkan ke dalam sistem early warning dan preparedness nasional, menjadikan setiap kunjungan mahasiswa bukan hanya aksi kemanusiaan, tetapi juga investasi data untuk kebijakan berbasis bukti. Pemerintah daerah NTT sendiri mengapresiasi kehadiran mahasiswa UI karena mengurangi beban tenaga psikolog profesional yang jumlahnya masih terbatas.

Pendidikan kewirausahaan dan kemanusiaan sejatinya sudah ada dalam kurikulum beberapa universitas, namun implementasinya masih terbatas. Kunjungan ke NTT ini menjadi contoh nyata bagaimana community-based learning bisa diintegrasikan ke dalam program studi psikologi atau ilmu sosial. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga menguji kemampuan leadership, problem solving, dan adaptability di lingkungan yang tidak menentu. Soft skills seperti itulah yang paling dicari oleh dunia kerja saat ini. Menurut survai nasional, delapan puluh persen perusahaan di Indonesia kini menilai kemampuan problem solving dan komunikasi sebagai kompetensi utama. Mahasiswa yang pernah terjun ke lapangan bencana secara otomatis memiliki cerita konkret untuk ditampilkan dalam wawancara kerja. Kampus yang memfasilitasi pengalaman semacam itu tidak hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga pemimpin yang tangguh dan berjiwa sosial.

Di balik semua kegiatannya, pesan yang ingin disampaikan adalah sederhana: pendidikan adalah jembatan antara pengetahuan dan tindakan. Mahasiswa UI di NTT membuktikan bahwa ketika ilmu digabungkan dengan niat baik dan kemampuan teknis, dampaknya bisa menyelamatkan lebih dari satu generasi. Pemulihan trauma bukan hanya soal psikoterapi, tetapi juga tentang membangun harapan. Dan harapan itu justru seringkali pertama kali ditanam oleh orang-orang yang masih duduk di bangku kuliah, sebelum mereka menyahuti dunia dengan segala kompleksitasnya. Keberhasilan program ini diharapkan bisa menjadi pola bagi perguruan tinggi lain di Indonesia untuk mengeluarkan mahasiswa dari zona nyaman dan mendorong mereka berkontribusi langsung bagi bangsa.

- Advertisement -
Share This Article